Juru Tafsir itu bernama MEDIA

Sensasi, kata ini mungkin merupakan kata pembukaan dalam Undang Undang Dasar media penyiaran, disusul “bad news is good news” yang mungkin merupakan pasal satu ayat satunya. Maka berdasarkan falsafah itu media kemudian merasa punya hak untuk membentuk opini publik, mengarahkan penafsiran sampai dengan memperkeruh persoalan diluar tugas utamanya untuk memberitakan kebenaran.

Sebagian pakar media memang ada yang berpendapat bahwa media memang dituntut untuk tidak dengan lugunya memberitakan fakta apa adanya. Perlu ada suatu “kebijaksanaan” yang dinamakan penafsiran yang baik supaya masyarakat ikut tercerdaskan.

Tetapi apa faktanya? Akhir-akhir ini justru media yang paling sering memperkeruh persoalan. Lihat saja judul-judul berita yang sensasional itu yang banyak diantaranya asal kutip padahal jika dibaca isinya jelas-jelas dalam waktu singkat terbukti menafikan sang judul besar. Bahkan tidak jarang isi dari berita juga merupakan hasil pelintiran atas nama sensasi.

Lihat juga perilaku-perilaku pewawancara dan moderator media di televisi. Para pewawancara yang tidak diragukan lagi kualitasnya karena rata-rata direkrut setelah meraih gelar Master di luar negeri, tidak malu-malu mempertontonkan kebodohannya dalam menafsirkan ungkapan sederhana dari para narasumber yang diwawancarai. Ya, mereka tentu saja bisa berdalih bahwa itu adalah pengejawantahan dari sikap kritis yang merupakan tuntutan profesi mereka. Namun tidak jarang juga sang narasumber jadi kelabakan oleh jurnalis yang sok tahu ini sehingga dengan mudahlah opini dan kesimpulan akhirnya digiring ke pemahaman salah sang jurnalis yang mengaku kritis ini.

Moderator acara dialog di televisi pun tidak jauh-jauh dari sikap ini. Setelah menghabiskan waktu setengah sampai satu jam untuk berdiskusi, diakhir acara tetap saja mereka akan menutupnya dengan kesimpulan yang telah dibuat sebelumnya sebelum diskusi berlangsung. Entah pesanan siapa kesimpulan itu, yang jelas bisa dipastikan tujuannya adalah untuk menggiring opini publik kearah yang dikehendaki si pemesan.

Mungkin gambaran diatas terlalu samar untuk dipahami, baiklah saya beri saja 3 contoh yang saya anggap mewakili :

  1. Kasus Ahmad Mubarok : barangkali kita masih ingat soal selip lidahnya petinggi partai demokrat ini mengenai ramalan perolehan suara partai golkar yang diprediksi cuma akan mencapai 2.5%. Barangkali kita semua tahu bahwa berita itu kemudian menjadi bola liar semata-mata disebabkan oleh kepintaran para jurnalis ini dalam meramu penafsiran.
  2. Kasus Jusuf Kalla : berkali kali banyak orang mengaku tidak nyaman dengan gaya berbicara dan ungkapan bahasa yang dipilih oleh wakil presiden kita ini. Banyak pihak (terutama dari etnis tertentu) beranggapan bahwa tokoh yang satu ini terlalu sering menyakiti hati rakyat Indonesia lewat ucapan-ucapannya. Bahkan ucapan-ucapan beliau ini serta merta menghapus ingatan sebagian besar orang tentang tindakan-tindakannya. Saya sendiri lebih melihat ini sebagai persoalan kebudayaan. Banyak orang tidak terbiasa mendengar gaya berbicaranya yang cenderung lugas dan tanpa basa-basi, diperparah lagi dengan penafsiran media yang secara serampangan menggiring opini publik. Bukannya saya membela JK, tapi sebagai orang Sumatera saya merasa tidak ada yang aneh dengan gaya komunikasi seperti itu sehingga tidak perlulah ditafsir-tafsirkan.
  3. Kasus Ahmad Syafii Maarif : pada beberapa kesempatan beliau ditanyai soal kiat memilih presiden pada pilpres mendatang. Mantan ketum Muhammadiyah ini yang kebetulan orang Minang menjawab dengan kata pepatah yang bunyinya “daripada memilih yang lumpuh, lebih baik memilih yang pincang”, yang mana artinya adalah semua calon presiden ini memiliki kekurangan, oleh karena itu pilihlah yang paling sedikit mudharatnya bagi bangsa. Tapi media secara serampangan menafsirkan sang tokoh telah menghina kaum penyandang cacat di Indonesia sehingga dinilai tidak bijak. Apasalahnya wartawan bertanya dulu kalau tak paham daripada mempertontonkan kebodohan dan ikut-ikutan menciptakan opini yang memancing kekeruhan.

Masih banyak contoh-contoh yang lain, namun saya pikir dengan 3 contoh diatas sudah cukup sebagai gambaran. Apakah ini yang namanya berkah reformasi? Kebebasan macam apakah ini? Siapakah yang mengendalikan media sekarang? Sadarkah kita bahwa polanya ternyata mirip-mirip dengan peran Kementrian Penerangan Nasional di era orde baru dulu, cuma sekarang ini lebih mengatasnamakan demokrasi dan kebebasan. Bagaimana menurut Anda?

Genuine President vs Artificial President

Bicara soal asli dan palsu barangkali sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kita orang Indonesia. Bukan rahasia lagi kalau bangsa kita ini termasuk penggemar setia barang palsu. Dari sekadar barang konsumsi sehari-hari sampai dunia jasa dan hiburan. Tentu kita akan dengan senang hati beroleh barang dengan merek terkenal dan tampilan ciamik dus didapat dengan harga murah pula. Berbagai cara dilakukan untuk menciptakan dan memasarkan produk-produk palsu ini. Tengok saja beberapa jenis produk makanan, mulai dari ditambahkan zat kimia tertentu dalam bentuk pewarna dan perasa sampai dengan mengubah komposisi bahan baku. Didunia panggung dan hiburan nyaris tiada beda, dalam sekejap pemeran yang biasa-biasa saja, secara instan bisa di makeover menjadi luar biasa. Nyaris tidak butuh waktu lama. Tengok saja acara semacam idol-idolan atau dream girls.

Bicara soal pilpres 2009, sadar atau tidak, kita kembali dihadapkan pada fenomena ini. Dalam setiap fenomena memilih, istilah asli atau palsu dengan setia akan berada di hadapan kita. Mulai dari janji palsu, slogan palsu, tampilan palsu, program palsu dan berbagai jenis makhluk abal-abal lainnya. Tapi eits, tentu saja tidak ada yang mau mengakui secara telanjang segala jenis kepalsuan ini, karena sekarang telah ditemukan istilah baru yang nyaman di telinga yaitu pencitraan. Apapun itu, bagi pelaku dunia hiburan artinya pastilah sama dengan make over :)

Nah sekarang mari kita bahas satu persatu, barang-barang (eh maaf, tokoh-tokoh) yang akan kita pilih sebagai presiden nanti. Kita mulai saja

Susilo Bambang Yudhoyono

Bicara soal tokoh yang satu ini, siapa yang tak kenal. Ibarat product, bapak yang satu ini masuk di segment premium. Content bagus, packaging bagus, promosi dan jalur distribusi pun bagus. Sebagai product yang menyandang kualitas premium tentu saja tidak boleh ada cacat produksi, lecet sedikit saja konsumen akan teriak-teriak mengajukan komplain.

Selama ini brand yang disandang adalah santun, cerdas, hati-hati, beretika dll. Sedangkan secara kemasan pun sudah oke yaitu dinobatkan sebagai product (eh maaf capres) yang memiliki presidential look. Promosi pun jor-joran baik lewat udara maupun darat. Tim marketing tersebar di seluruh nusantara.

Lalu apa kurangnya? Yah, kembali ke soal kualitas premium tadi, satu ketika di bulan lalu sang capres muncul dengan wajah angker dan mengecam lawannya. “Jangan galak-galak ya!”, begitu kata sang capres dengan roman wajah yang mengingatkan konsumen pada sang penguasa orde baru. Sontak saja media-media menayangkan berulang-ulang kemasan terbaru ini. Hasilnya? Orang-orang pada kaget dan tidak percaya, tidak sedikit pula yang mengecam karena product premium mereka ternyata sekarang sudah tidak sesuai spesifikasi awal lagi. Bagaimana ini? Sebenarnya yang asli yang mana? Yang kemarin itu atau yang sekarang ini?

Jusuf Kalla

Nah yang satu ini katanya baru bercita cita menjadi premium. Selama ini sudah punya diferensiasi yang cukup kuat. Bolehlah kita bilang sebagai product yang merakyat. Selayaknya Indomie dan Rinso, mayoritas orang sudah tahu rasa dan kualitasnya sehingga dirasa tidak perlu lagi merombak tampilan kemasan. Distribusi pun sudah merata di seluruh negri, walaupun banyak orang beranggapan masih belum pantas masuk golongan premium quality.

Bagaimana dengan tim marketing? Seolah sependapat dengan mayoritas konsumen, mereka pun tidak tergiur dengan ide pemolesan kemasan, cukup memasyarakatkan keunggulan citarasa dan kualitas, dan berharap moga-moga tambah banyak yang suka. Cuma tidak mudah juga untuk menempuh cara ini, karena untuk segmen product seperti ini biasanya saingannya banyak dan semua mengaku yang terbaik atau yang pertama? Bagaimana dong? Bicara soal asli atau palsu, Anda bisa nilai sendiri lah, hehehe

Megawati Soekarnoputri

Terakhir ini adalah contoh product unik. Anda tentu sering bertemu konsumen fanatik dimana-mana. Tidak peduli zaman berubah dan musim berganti, bicara soal product pilihan tidak akan pernah kelain hati. Selama ini Megawati biasa tampil dalam dua rasa, yaitu rasa pedas dan rasa gurih.

Rasa pedas dipasarkan di tengah-tengah lapangan, di bawah teriknya matahari dan gegap gempitanya suasana. Warna kemasan biasanya merah menyala. Slogan adalah Merdeka!!! Biasanya dalam kemasan ini, sang capres akan berpidato dengan lantang dan berapi-api, meniru kebiasaan sang ayahanda.

Rasa gurih baru dipasarkan beberapa bulan terakhir. Pertamakali launching di tayangan Kick Andy MetroTV dan teranyar di hadapan pengurus KADIN. Ibu yang mengaku paling cantik ini tampil layaknya ibu rumah tangga biasa, murah senyum dan tak pelit bercanda. Lugu, orisinil dan sederhana.

Menurut hemat saya kedua rasa ini merupakan product asli? Bagaimana menurut Anda?

Nah sekarang berpulang kepada konsumen, pilihan didepan mata. Ada produk premium, produk merakyat dan produk terpercaya. Barangkali nanti tim marketing juga akan meluncurkan berbagai promosi dan bonus, seperti bonus bisa menyanyi yang laku lima tahun yang lalu.

Kita lihat saja :)

Continue reading

Anti Malaysia terus Anti Melayu ???

Semalam saya iseng-iseng cari berita soal iklan Sekolah Gratis yang demikian gembar-gembornya di tv akhir-akhir ini. Niat hati hendak mencari pembenaran atas kecurigaan saya bahwa iklan ini tak lain dan tak bukan adalah iklan kampanye SBY sebagai persiapan pilpres.

Sebuah link KASKUS menarik perhatian saya, taglinenya “iklan SEKOLAH GRATIS melukai hati bangsa indONEsia tercinta”. Tertarik saya kemudian pun membukanya, berharap ini sebuah diskusi tentang penghambur-hamburan uang negara untuk belanja iklan politik yang tidak perlu.

Tapi apa yang terjadi, saya terkejut setengah mati. Ternyata forum tersebut isinya hanya kampanye rasis yang menusuk hati. Apa pasal? Ternyata iklan tersebut dituding melukai hati bangsa Indonesia hanya karena pemerannya menggunakan dialek Melayu yang dituding oleh si pembuat post sebagai bahasa Malaysia sehingga tidak pantas kiranya hadir di ruang-ruang publik dan ruang-ruang keluarga bangsa Indonesia.

Sekonyong-konyong pikiran saya melayang ke pesisir timur Sumatera. Lamunan saya menyapu pesisir timur Nanggroe Aceh Darusalam, pesisir timur Sumatera Utara, Riau Daratan dan Kepulauan, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Timur dan akhirnya berakhir di kampung halaman saya di Sumatera Barat.

Saya bayangkan betapa pedihnya hati orang-orang di daerah-daerah tersebut, mereka seolah dipaksa murtad dari NKRI (istilah negara indonesia yang disakralkan) hanya karena berbicara dengan bahasa dan dialek yang diturunkan oleh ibu bapak mereka dan telah digunakan ratusan tahun di daerah mereka, jauh sebelum Belanda dan Inggris datang mengkapling-kapling ranah Melayu.
Saya bayangkan betapa teriris-irisnya perasaan mereka andaikata mereka membaca postingan KASKUS itu yang dibagian bawahnya masih ditambahi kalimat arogan “
gua bukan orang Melayu dan belum nonton Laskar Pelangi, jadi tolong dimaklumi”.
Saya berharap pikiran si owner postingan KASKUS tersebut tidak mewakili pikiran sebagian besar bangsa Indonesia.

Meski saya bukan orang Melayu namun saya masih merasa bersaudara dan serumpun dengan mereka dalam hal bahasa dan adat. Dan soal Malaysia, maafkan saya jika tidak bisa membenci mereka, karena kami orang Minang juga punya satu negara bagian disana (Negeri Sembilan), satu dari 11 anggota Federasi Malaysia.

Pikiran saya kembali melayang ke 5 tahun silam, ke sebuah kota bernama Yogyakarta. Ada sebuah radio bernama Retjo Buntung, dengan sebuah acara bernama Dendang Melayu. Disana saya dengarkan lagu-lagu dari belasan corak dialek puak melayu se Nusantara. Acara dibawakan oleh penyiar orang Jawa tulen yang dengan setengah dipaksakan mencoba-coba berdialek Melayu.

Betapa indahnya …

Merayakan Apatisme

Sepuluh tahun sudah reformasi berlalu dan seperti sejarah yang sudah-sudah, euforia pun mulai terpecah. Keadaannya persis seperti tahun 1955, sepuluh tahun setelah proklamasi dan juga persis seperti tahun 1974, sembilan tahun setelah orde baru dicanangkan. Masyarakat terbagi atas kalangan kritis-apatis dan kritis-optimis. Sebagian kecil malah ada yang merindukan keadaan pra perubahan. Romantisme orde baru muncul satu persatu di tengah-tengah masyarakat, sama halnya dengan romantisme kolonialis yang tumbuh beberapa tahun setelah kemerdekaan. Manisnya kenangan lama semakin hari semakin menjadi candu kehidupan. Orang-orang mulai kalah sebelum perang, putus asa dan kehilangan cita-cita.

Gerakan apatisme massal disuarakan dan digelorakan dengan penuh semangat. Di bidang politik contohnya, tentu masih segar dalam ingatan kita tentang seruan golput massal yang kemudian ditanggapi dengan fatwa golput haram oleh sebagian ulama. Di bidang-bidang lain semisal ekonomi dan sosial nyaris tiada perbedaan. Semua dilanda kebekuan. Tiada gerakan-gerakan pencerahan yang menerobos keadaan dan berani menebar harapan. Masyarakat tersihir virus anti gombalisasi dan cenderung merespon negatif setiap ide-ide baru di ketiga bidang itu. Setiap usulan dan janji perubahan serta merta ditolak dengan alasan yang nyaris seragam, “kami sudah bosan dibohongi”.

Masyarakat yang memilih apatis sebagai cara bersikap kehilangan daya analisa untuk memilih yang buruk diantara yang terburuk. Lebih dari itu bahkan kehilangan harapan dan cita-cita.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, ketika sebagian besar dari kita sudah apatis lalu apa manfaat yang kita dapatkan. Apakah dengan tidak melakukan apa-apa dan kontra terhadap golongan yang berani berbuat dan berani menaruh harapan akan menghasilkan sesuatu? Apakah mungkin perubahan akan muncul ketika tidak ada yang bergerak? Ini adalah pertanyaan paling prinsipil yang selayaknya dijawab oleh kaum yang begitu bangga dengan keapatisannya. Ataukah mungkin kaum apatis justru tidak menghendaki perubahan sama-sekali? Tentu ini akan menjadi lebih aneh jika dihubungkan dengan sikap kritis yang juga salah satu ciri kaum apatis. Bagaimana mungkin mereka yang mengaku kritis tetapi tidak berusaha mendukung perubahan.

Dari logika di atas semakin terang ketidakjelasan posisi kaum apatis dalam dunia yang terus berubah. Mereka terjebak dalam ambivalensi yang tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin posisi ini bukan masalah bagi mereka yang menjadi apatis karena kesadaran diri sendiri, karena seperti pilihan-pilihan hidup lainnya tentunya mereka akan bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Namun lain ceritanya bagi kelompok masyarakat yang apatis karena latah atau menjadi korban propaganda gerakan apatisme massal, mereka sama sekali tidak menyadari konsekuensi dari keputusan mereka. Alih alih menjadi agen perubahan, kelompok besar ini malah bersekutu menjadi agen kemandegan.

Berani untuk optimis

Adalah perkara yang sangat mudah untuk menjadi apatis karena kita hanya dituntut untuk tidak melakukan apa-apa. Pada konteks-konteks tertentu sikap apatis ini mirip dengan sikap berani mati sedangkan lawannya, sikap optimis merepresentasikan sikap berani hidup. Continue reading

Bangsa yang Kecanduan Cela

Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia?

Bayangkan pertanyaan sederhana di atas diajukan kepada 10 orang responden yang tersebar di berbagai kawasan dunia. Lalu bayangkan kira-kira seperti apa jawaban-jawaban yang akan Anda dapatkan. Responden di Amerika Utara mungkin akan menyebut sarang teroris, responden di Eropa Utara mungkin akan teringat manusia pohon dan hutan belantara, responden di Afrika Barat mungkin akan terpikir pabrik garmen dan indomie sedangkan responden di Turkmenistan, Asia Tengah malah sama sekali belum pernah mendengar sebuah negara bernama Indonesia karena tidak berada di “pusat dunia” seperti negeri mereka, yah setidaknya dalam versi mereka.

Anda kecewa? Atau mungkin protes atau santai-santai saja. OK, jika Anda termasuk yang protes kali ini saya ajukan kembali pertanyaan yang sama kepada Anda. Tapi tunggu dulu, berhubung Anda merupakan rakyat yang memiliki KTP Indonesia, Anda tentu akan dengan sangat mudah mengklaim bahwa Anda tentunya sangat familiar dengan negeri Anda tercinta ini. Karena itu saya akan mengedit sedikit redaksional pertanyaannya. OK, kita mulai saja dengan 4 pertanyaan :

  1. Apa yang Anda ketahui tentang Papua, Makassar, Palembang, Sampang dan Bireun?
  2. Bagaimana jika bulan depan perusahaan menugaskan Anda ke Ternate?
  3. Anda lahir di Jakarta, terpikirkah oleh Anda untuk memilih Medan sebagai kota tempat Anda menyelesaikan kuliah S1?
  4. Saya mengajak Anda untuk berwisata minggu depan ke kawasan Danau Poso, Sulawesi Tengah, maukah Anda ikut?

Sekarang jawablah pertanyaan itu dengan jujur dengan mengetuk nurani Anda yang terdalam dan logika Anda yang tertajam. Wow, saya tidak akan begitu kaget dengan kemungkinan jawaban-jawaban Anda. Sama persis dengan ketidakterkejutan saya dengan jawaban responden-responden seluruh dunia tadi terhadap pertanyaan tentang apa yang mereka ketahui dari Indonesia.

Jawaban-jawaban bernada alergi, kebimbangan, keraguan, fantasi, asumsi atau bahkan penolakan tanpa alasan saya prediksi akan mendominasi jawaban-jawaban dari 4 pertanyaan tadi. Oh, mungkin saja Anda akan menyangkal dengan malu-malu karena respondennya adalah Anda. Nah bagaimana kalau saya ajak Anda untuk berpartisipasi aktif dalam survey kecil-kecilan saya ini. Continue reading

64 Pertanyaan Jebakan Dalam Wawancara Kerja (Bagian 4)

Mengapa Anda meninggalkan pekerjaan Anda sekarang?

JEBAKAN : Jangan pernah sekalipun Anda menjelek-jelekkan perusahaan tempat Anda bekerja sekarang/terdahulu, bidang usahanya, direksi, bekas bos Anda, karyawan atau bahkan pelanggan dan client Anda. Peraturan ini adalah mutlak dan tidak boleh diganggu gugat, jangan pernah menceritakan sesuatu yang negatif tentang apapun! Setiap lumpur yang Anda tebarkan hanya akan mengotori pakaian Anda sendiri.

Secara khusus hindari kata-kata seperti konflik personal, tidak dapat membina hubungan baik atau kata-kata lainnya yang memberikan kesan jelek terhadap kompetensi, integritas dan temperamen Anda.

JAWABAN TERBAIK : Jika pada saat ini Anda sedang bekerja  dan Anda belum 100% yakin akan meninggalkan perusahaan tempat Anda bekerja sekarang, jangan khawatir untuk mengatakannya. Selama Anda masih memiliki pekerjaan, posisi Anda lebih kuat daripada tidak memiliki pekerjaan. Tapi Anda jangan malu-malu atau berbasa-basi kalau Anda mengharapkan kesempatan yang lebih baik. Sekedar mengingatkan seperti yang telah seringkali diuraikan, jawaban Anda akan lebih kuat jika Anda sebelumnya telah mengetahui seluk beluk tentang posisi ini dan mampu mencocokkan kualifikasi Anda dengan yang diinginkan.
Jika pada saat ini Anda sedang tidak memiliki pekerjaan, jangan sekali kali berbohong jika Anda pernah dipecat. Kebohongan tentang hal ini adalah tidak etis dan sangat mudah sekali dideteksi. Namun tidak mengapa jika Anda mengungkapkan alasan pemecatan itu menurut pandangan pribadi Anda. Jika Anda pernah dipecat dikarenakan adanya perubahan kepemilikan dalam perusahaan, merger atau perampingan divisi maka hal ini tidaklah akan merugikan Anda saat wawancara.

Meskipun begitu usahakan untuk menunjukkan profesionalisme Anda dan gambarkan bahwa Anda dapat menerima keputusan perusahaan Anda terdahulu, meskipun itu pahit. Pernyataan seperti ini akan menggambarkan Anda sebagai pribadi yang kuat, diatas rata-rata dan berdaya juang tinggi sehingga mampu menyembuhkan diri sendiri dari luka karena pemecatan tersebut.

Intinya, pastikan Anda mempersiapkan alasan yang ringkas dan jelas mengenai alasan anda meninggalkan pekerjaan Anda saat ini.

ALASAN TERBAIK : Untuk meningkatkan penghasilan, mendapatkan kesempatan yang lebih baik untuk berkembang.

64 Pertanyaan Jebakan Dalam Wawancara Kerja (Bagian 3)

Apa kelemahan terbesar Anda?

JEBAKAN : Hati-hati, ini adalah pertanyaan pembunuh yang dirancang untuk menyusutkan daftar kandidat. Setiap pengakuan terhadap kelemahan dan kegagalan akan membuat Anda mendapatkan nilai “A” untuk kejujuran, namun nilai “F” untuk wawancaranya sendiri.

JAWABAN YANG CUKUP BAIK : Samarkanlah kekuatan dan kelebihan Anda sebagai sebuah kelemahan, misalnya : “Kadangkala saya terlalu keras terhadap anak buah saya karena saya terbiasa bekerja dalam situasi yang mendesak, namun tidak semua orang menyukai hal seperti itu”. Kekurangannya adalah, walaupun strategi ini lebih baik ketimbang mengakui sebuah kekurangan, namun cara ini telah terlalu banyak dipraktekkan sehingga bagi pewawancara sendiri, teknik ini akan dengan mudah terdeteksi, lebih-lebih oleh pewawancara yang telah berpengalaman.

JAWABAN TERBAIK : Yakinkanlah pewawancara bahwa sebenarnya tidak ada hal yang akan menghalangi Anda untuk menempati posisi ini dan berprestasi bagus, kemudian uraikan segera kualifikasi Anda untuk memperkuat alasan Anda tersebut. Misalnya : “Kita tahu tidak ada seorangpun yang sempurna, namun berdasarkan uraian Anda tadi, saya meyakini bahwa saya adalah kandidat yang tepat untuk posisi ini. Saya tahu itu berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika merekrut orang, saya melihat 2 hal penting yaitu apakah kandidat ini punya kualifikasi untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik dan apakah mereka punya motivasi yang bagus untuk melakukannya. Latar belakang saya dapat membuktikan bahwa saya memiliki keduanya, yaitu kualifikasi dan motivasi yang tinggi untuk mencapai keberhasilan dalam kondisi apapun. Jadi dengan segala hormat, saya pikir tidak ada alasan bagi Anda untuk khawatir terhadap keinginan saya yang kuat untuk berkarya pada posisi ini dengan hasil yang baik”

Jika Anda belum tahu benar tentang posisi yang akan Anda isi, Anda dapat mencoba strategi berikut ini. Daripada pusing memikirkan kelemahan Anda, akan lebih baik jika Anda mencoba menguraikan hal apa yang paling Anda sukai dan hal apa yang paling tidak Anda sukai. Pointnya adalah, usahakanlah membuat gambaran bahwa hal-hal yang Anda sukai sangat bersesuaian dengan kualifikasi dan syarat suksesnya pekerjaan ini, dan hal-hal yang tidak Anda sukai sama sekali bukan hal penting yang dapat mengganggu Anda untuk berprestasi dalam pekerjaan ini.

Contohnya : Jika kebetulan Anda melamar sebagai pengajar atau dosen, “Jika saya diberi pilihan, saya akan menghabiskan sebanyak mungkin kesempatan berbicara di depan kelas, ketimbang mengerjakan tugas-tugas menulis di kantor. Meskipun begitu, saya tetap menganggap penting tugas-tugas menulis dan akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Namun kembali saya tekankan, bahwa hal yang benar-benar saya sukai di antara keduanya adalah berbicara di depan kelas”.

Anda bisa mengganti konteks diatas sesuai kebutuhan Anda.

Selamat mencoba :)