jump to navigation

Pemerintah, Perlukah? April 17, 2008

Posted by Fadli in Insight.
7 comments

“Pemerintah adalah tayangan televisi yang kita saksikan tiap hari dan petugas kelurahan yang melayani kita saat perpanjangan KTP”

Tulisan ini bukan untuk tujuan provokasi maupun kampanye anarkisme. Kutipan diatas pun datangnya bukan dari saya. Malangnya saya, sampai saat tulisan ini saya tulis saya benar-benar tidak ingat siapa pencipta kalimat diatas. Yang saya yakini betul bahwa kalimat polos ini saya dengar di salah satu acara talkshow di televisi swasta.

Pemerintah dan Pemerintahan kian lama kian asing keberadaannya di tengah-tengah kita. Bukannya karena kedua hal ini menjadi barang langka seperti halnya solar, beras dan minyak tanah. Namun karena sentuhannya semakin lama semakin menghilang. Ronanya sendiri tidak kabur dalam pandangan kita. Tampak jelas dan vulgar di televisi dan koran-koran. Suaranya pun masih terdengar lantang di radio-radio. Namun kehadirannya semakin lama semakin tidak kita rasakan.

Entah ini gejala yang baik atau tidak, saya akan mencoba memandang dari sisi positif saja. Cobalah tengok dan amati sekitar kita. Bangsa kita kian hari kian menjelma menjadi bangsa yang mandiri. Peduli setan dengan krisis moneter, krisis sosial, konflik etnis, konflik agama, harga minyak dunia, pergantian presiden dan gubernur, perubahan iklim dan krisis pangan dunia, Bangsa Indonesia masih tetap hidup. Semakin melarat namun semakin kuat.

Anda tentu masih ingat dengan ramalan pakar-pakar ekonomi di barat sana, ketika krisis ekonomi menerpa sebagian negara-negara Asia Timur dan Tenggara. “Lihat Indonesia, 40 juta bayi dan balita akan mati disana!” Abracadabra, apa yang terjadi? (more…)

Menemukan Diri Sendiri March 13, 2008

Posted by Fadli in Insight.
2 comments

“Kepunahan manusia akan dimulai dari penyeragaman di semua lini”

Mainstream! Kata ini sekonyong-konyong menjadi monster bagi saya. Saya merasa tidak bersalah telah membaiat dan membaptist kata ini menjadi penyebab utama tersesatnya berjenis-jenis manusia kejurang kebingungan, keputusasaan dan kehancuran. Makhluk ini pulalah yang telah menyebabkan beragam-ragam manusia merasa dikutuk, tidak hoki, perlu diruwat bahkan merasa dirinya dianaktirikan oleh Tuhan [kenyataannya Tuhan sendiri tidak punya anak, apalagi anaktiri :mrgreen: ]

Kian banyak manusia modern merasa tidak berada ditempat dia berpijak dan segera ingin merubah keadaan. Dalam segala aspek kehidupan manusia merasa ada yang salah dan perlu diperbaiki. Karir, keuangan, cinta, kebahagiaan, peruntungan dan hunian adalah topik-topik sederhana yang memunculkan profesi-profesi advisor baru untuk memuaskan dahaga manusia-manusia yang tersesat dan ingin mendapat jalan cahaya. Padahal jika mereka semua tahu, mereka hanya butuh satu jalan, yaitu jalan pulang atau jalan kembali. Sejatinya topik-topik yang saya sebutkan diatas dengan segala macam profesi konsultan yang mengurusnya telah berusaha mengingatkan manusia kemana arah jalan pulang itu.

Akhir-akhir ini bermunculan buku-buku dari para trainer tersohor yang membahas langkah-langkah praktis untuk menjadi sukses. Tersebutlah buku-buku populer semacam 7 habbits, ESQ series, dan berbagai buku karya motivator lokal semacam Mbahnya Dahsyat Tung Desem Waringin ataupun Andrie Wongso. Manusia-manusia modern sangat menggemari wahyu-wahyu baru ini bahkan sangat menanti-nantikan sabda-sabda yang akan ditebar via ceramah-ceramah dalam seminar-seminar. Manusia-manusia baru begitu terpesona oleh ritual meloncat dari tempat duduk dan mengumandangkan mantera selamat pagi!, dahsyat! atau saya bisa!

Bukan, saya bukan bermaksud mengecam dan menghujat praktek-praktek demikian. Saya hanya khawatir jika manusia-manusia modern ini secara tidak sengaja telah mengkondisikan dirinya dalam keadaan “tersesat” tadi. Bagaimanapun, produk-produk buku dan ceramah itu sendiri sangat-sangat bernafaskan mainstream tadi. Makhluk yang telah saya tahbiskan sebelumnya sebagai penyebab utama tersesatnya manusia modern. (more…)

Oleh Oleh Pulang Kampung 3 February 12, 2008

Posted by Fadli in Homeland.
6 comments

Stasiun Pariaman sempat berjaya di era 50′an sampai 80′an. Saat ini ada 2 trayek Kereta Api setiap harinya, yaitu Padang - Pariaman pukul 9 pagi dan Pariaman - Padang pukul 4 sore.

Setiap hari minggu ada 2 trayek untuk Kereta Api Wisata dari Padang ke Pariaman. Nantinya stasiun ini juga akan melayani rute Pasar Pariaman - Bandara Internasional Minangkabau di Katapiang, Kabupaten Padang Pariaman

(more…)

Oleh Oleh Pulang Kampung 2 February 12, 2008

Posted by Fadli in Homeland.
4 comments

Sabtu tanggal 9 Februari 2008, saya menyempatkan diri bersepeda sepanjang Pantai Gandoriah, Pariaman. Berikut hasil jepretan sambil bersepeda …

(more…)

Oleh Oleh Pulang Kampung 1 February 12, 2008

Posted by Fadli in Homeland.
1 comment so far

Tanggal 7-10 Februari 2008 kemarin saya berkesempatan pulang ke Pariaman, Sumatera Barat. Berikut sedikit oleh-oleh berupa hasil jepretan Canon Powershoot A700 dari atas motor, yang bisa saya sajikan kepada khalayak.

Semoga Bermanfaat.

(more…)

Indonesia 59 Propinsi January 25, 2008

Posted by Fadli in Insight.
3 comments

Silahkan masuk untuk melihat peta …

(more…)

Kami Butuh Politik Apartheid Jalan Raya January 16, 2008

Posted by Fadli in Uneq Uneq.
2 comments

Mungkin ini tulisan yang kesejuta soal keluhan masyarakat pinggiran [maksudnya dipinggirkan] yang setiap hari harus mengalami penyiksaan di jalan raya. Mungkin juga ini amarah hampa yang telah kehabisan bahan bakar api emosi. Tepat juga dibilang tangisan kering tanpa air mata. Walau hanya sebuah jeritan tak berdaya, kami cukup puas masih bisa menyuarakannya. Terlalu muluk jika kami bermimpi ada yang mendengarkannya.

Pagi ini saudara-saudara. Masih belum berubah dari pagi-pagi sebelumnya. Kami para komuter angkutan umum bergerak menuju pusat-pusat Jakarta. Tuntutan hidup menyuruh kami bersegera. Satu persen angkutan umum kami perebutkan bersama-sama. Kami bersatu dalam cita dan derita. Kami berbagi ruang seluas 25 cm x 20 cm didalam bis kota. Kami berbagi CO2 dan karbon monoksida kenalpot Anda.

Diluar sana kami lihat Anda yang mengumbar amarah. Sambil duduk memegang stir dan atau mengobrol lewat handsfree. Anda yang sekilas bernasib sama dengan kami, terlihat menikmati kemacetan ini.

“Kami tergencet” pekik kami.

“Saya pun kena macet!” teriak Anda.

“Lalu kenapa pula kita harus saling mengumpat” sambung Anda.

Maaf bapak-bapak yang tertawa. Jika Anda melaju di jalan Anda, kami pun tidak sudi mengusik Anda. Lihatlah diri Anda. Untuk membawa diri Anda yang berdimensi 25 cm x 20 cm x 175 cm, Anda harus menghabiskan ruang seluas 150 cm x 350 cm. Anda yang berteriak-teriak macet sebenarnya sedang menikmatinya (more…)

Secara Prosedur Kami Benar (Sebuah Memoir Untuk Insiden Selat Malaka) December 27, 2007

Posted by Fadli in Insight.
3 comments

Belum hapus ingatan kolektif warga bangsa tentang peristiwa berdarah di Pasuruan beberapa bulan yang lalu, muncul lagi insiden yang mengiris hati yang kembali dilakukan oleh TNI Angkatan Laut. Kali ini korbannya adalah nelayan miskin yang tidak tahu apa-apa. Tempat kejadian di Selat Malaka, hanya beberapa kilometer dari bibir pantai Belawan, Sumatera Utara. Seorang nelayan tewas dan tiga temannya kritis menyabung nyawa ditembak oleh tentara penjaga laut negaranya. Nelayan yang tewas ini bernama Mahmud dengan delapan anak yang masih kecil-kecil.

Belum ada informasi yang jelas dan imbang mengenai peristiwa ini, karena secara prosedur tetap biasa sumber informasi diusahakan tetap satu corong, yaitu dari pihak angkatan laut sendiri. Seluruh korban disekap di rumah sakit angkatan laut dan tidak boleh diwawancarai wartawan. Sisanya yang kebetulan tidak tewas “diperiksa”. Sampai sekarang saya belum menemukan definisi resmi dari “diperiksa” ini. Namun saya berkeyakinan inti prosesnya adalah cuci otak dan penyeragaman suara dan mungkin juga pengancaman atau penyuapan. Ini mutlak diperlukan agar sang “terperiksa” tidak menyanyikan lagu yang merusak wibawa sang tentara.

Miris sekali hati ini ketika para petinggi angkatan laut itu mengatakan “secara prosedur kami benar!“. Apa pasal? Nelayan apes yang menaiki kapal Subur Baru itu mereka baiat sebagai perompak. Sederhana bukan? Ini dia yang dinamakan fitnah yang sesuai prosedur. Kapal itu kemudian mereka kejar dan mereka berondong dengan peluru, padahal kapal nelayan ini tidak menampakkan perlawanan apa-apa (catat:ini pengakuan si petinggi tentara laut sendiri).

Lalu mengapa dikejar dan diberondong? “Karena mereka lari”, jelas sumber tentara laut itu. Jadi jelas sudah, dosa nelayan miskin itu adalah ‘karena lari dari tentara’. Saya hanya bisa menggeleng kepala dalam duka. Siapa pula manusia yang tidak ketakutan dan lari dikejar-kejar tentara, sementara mereka tidak tahu salahnya apa. Apalagi kapal tentara itu memberondong mereka dengan beringas. Tentara mencari alasan, bahwa mereka (more…)

Bahari Gerisa (Episode 1) December 24, 2007

Posted by Fadli in Romance.
9 comments

 

Pagi di Kaki Gunung Osga

Tidak ada yang berbeda pada pagi ini. Seperti pagi-pagi lainnya di musim semi, matahari tetap terbit dengan cerlang di ufuk timur. Kabut mulai terangkat dari kaki-kaki bukit di pegunungan Sinabar. Cewang berwarna jingga menghiasi cakrawala di sekitar Gunung Nubus. Di selatan kota, lereng-lereng Gunung Osga mulai berubah warna dari biru pekat menjadi sedikit jingga. Sesaat lereng-lereng itu mempertontonkan guratan-guratan yang sejatinya adalah jalur lava di masa purba.

Rakyat Bakuhumpay sudah sejak dua jam yang lalu terjaga. Kota kecil di kaki Gunung Osga ini memang dihuni oleh penduduk yang tergolong rajin. Ba’da shubuh mereka sudah beranjak memulai kegiatan rutin. Dimulai dari menyambangi kedai kopi sekitar setengah jam, mereka mulai berangsur-angsur pulang ke rumah untuk selanjutnya turun ke sawah. Masyarakat Bakuhumpay sebagian besarnya memang petani. Beberapa gelintir kelas menengah ada juga yang berprofesi sebagai pegawai negeri atau guru.

Pagi itu Sumitra barusaja beranjak dari kedai kopi sehabis menyetorkan uang penjualan gorengan kepada pemilik kedai. Ia sempat menyimak pembicaraan atau lebih tepatnya kehebohan berita yang sedang dibahas oleh bapak-bapak di kedai kopi. Salah seorang di antara mereka membawa cerita yang baru didengarnya dari Radio Gasak. Khabarnya Presiden Oroskane telah memberi titah kepada Panglima Pasukan Rodeopigon untuk menghukum Negeri Bingkanamua atas pembangkangannya terhadap Presiden. Ultimatum yang dikirim Panglima Haldan, seorang panglima penting Negeri Bingkanamua kepada sang presiden dirasa sudah sangat keterlaluan. Maka tiada cara lain yang layak ditempuh untuk memulihkan wibawa presiden, kecuali mengirimkan pasukan ke Negeri Bingkanamua.

Kehebohan di kedai kopi tadi sempat menjadi buah pikiran Sumitra, namun apalah yang bisa dimengerti oleh anak petani berumur sepuluh tahun itu. Dengan seragam putih lusuhnya ia segera bergabung dengan rombongan kecil anak-anak seumurannya. Anak-anak lain berpenampilan kurang lebih sama dengan Sumitra, dengan telanjang kaki mereka bergerak ke arah pasar ternak. Sekolah mereka kebetulan berada di samping pasar ternak itu. Sampai di sekolah, masing-masing anak duduk bersila di lantai dengan rapi. Mereka mengeluarkan alat tulisnya dengan rapi pula. Sebuah batu pipih sebagai buku, beberapa batu tulis dan sebutir putik pepaya sebagai karet penghapus. Dan rutinitas pagi itu pun segera dimulai. (more…)

5 Peraturan Tak Tertulis Yang Paling Susah Diterapkan di Jakarta November 26, 2007

Posted by Fadli in Insight.
5 comments

 

Jakarta dengan segala kompleksitasnya sebagai ibukota negara mensintesa suatu keseragaman sikap yang eksis dalam keberagaman penduduknya. Ia menjadi unik karena begitu berbeda dengan daerah-daerah lain bahkan kota-kota besar lain di dunia. Jakarta adalah kota dengan potensi cultural shock yang sangat besar. Orang-orang dari dunia timur dan dunia barat dipastikan kaget sesaat setelah menginjakkan kaki ditanahnya.

Jakarta adalah kota dimana kebebasan dijunjung setinggi-tingginya bahkan hampir tanpa batasan. Jakarta juga adalah tempat dimana kepedulian adalah hal yang langka untuk ditemukan. Bukan, bukan, bukan kepedulian sosial yang saya maksud. Tapi kepedulian atas kerugian yang dirasakan orang lain disebabkan kebebasan personal yang dijunjung tinggi warga kota ini. Tidak mengapa kalau mereka tidak peduli dengan kesusahan orang, akan tetapi jikalau kesusahan orang itu disebabkan oleh dirinya sendiri, ini baru luar biasa jika dirinya sama sekali tidak peduli. (more…)