Saat kau peroleh rasa
Dalam makna cinta
Tak hiraukan semua angkara
Hanya satu buah titah
Yang kami ejawantah
Terlalu banyak cinta kan binasa
Yang indah kau rasa
Yang manis kau beri
Walau itu hanya sementara
Lihat dirimu…
Semakin jauh mengayuh
Lewati segala tujuan hidup yang mungkin kau tempuh
Tentukan yang utama
Yang satu tercinta
Kan jadi teman hidup yang setia
Semoga kau masih ingat ketika lagu ini kuperdengarkan pertama kali padamu lewat telepon. Maafkan aku mengganggu ketentraman duniamu saat itu.
(taken from Sheila on 7 – Mari Bercinta)
June 2006, Jakarta
Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai, berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri diterpa
Dan luka oleh senja …
Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada disini, dan pekat
Pun berakhir sudah
Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu
Setenang hamparan samudra
Dan tuan burung camar takkan henti bernyanyi
Saat aku berkhayal denganmu
Dan janji, pun terukir sudah
Jika kau menjadi istriku nanti
Fahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu …
Dan semoga lagu ini masih kau ingat juga, ketika kuperdengarkan dengan cara yang sama. Kita masih sama-sama percaya, bahwa jarak dalam ruang dan waktu bukan hambatan.
(taken from Sheila on 7 – Hingga Ujung Waktu)
July 2007, Batam
Kesabaran adalah kunci, yang menjaga kita terus bertahan
Penat yang datang sesekali, pasti selalu ada disepanjang jalan
Aku masih mampu untuk menemanimu
Belum ada rasa ingin menyerah
Dan aku masih mampu untuk melindungimu …
Belum ada terkikis oleh lelah
Kau meragukanku saat ini, seperti kau meragukan perasaanmu padaku
Percaya padaku sekali ini, aku masih pantas untuk kau tunggu
Aku masih mampu untuk menemanimu
Belum ada rasa ingin menyerah
Dan aku masih mampu untuk mencintaimu …
Dengan semua ketulusan hatiku
Tiba-tiba kaukatakan cukup. Kau bilang kau bukan yang dulu lagi. Semudah itukah engkau menyerah? Justru pada saat-saat yang menentukan.
Takkan sampai sewindu ku minta engkau menunggu. Hanya sepuluh purnama saja.
Semoga kau tahu, Aku disini masih menunggu penyesalanmu.
(taken from The Rain – Masih Mampu Menemanimu)
Posted by nayz on July 2, 2007 at 7:22 pm
wah……cerita menarik dari sebuah triolgi. apik !!!
lam kenal juja
Posted by Fadli on July 2, 2007 at 7:33 pm
@nayz
akan lebih menarik jika mendengarkan ketiga lagu tersebut berurutan.
semoga Anda tidak mengalaminya
Posted by Lee Shan-in on July 3, 2007 at 8:51 am
Hiks… Hiks.. T______T
Aih, di sini ada trilogi juga…
Posted by rickisaputra on July 3, 2007 at 8:11 pm
wualah.. wuaduh..
lagu2nya.. jadi inget si DIA nih..
*) imajinasi, lagi ngapain yah DIA..
terima kasih telah mengingatkan..
regards,
Posted by deking on July 3, 2007 at 11:55 pm
Ada apa dengan Mas Fadli
Hehehe…
Posted by Fadli on July 4, 2007 at 11:00 am
@Lee Shan-in
Karena PJJ itu ada dimana-mana hehehe
@rickisaputra
Loh?
@deking
hehehe, kalau sekarang sudah tidak apa-apa lagi
Posted by rickisaputra on July 4, 2007 at 12:37 pm
Loh??
hehehe..
gpp kok..
*) wualah.. gak nyambung..
Posted by Fadli on July 4, 2007 at 12:39 pm
bukannya ga nyambung, tapi coba pikir “Loh?” yang saya tuliskan itu, meski cuma 4huruf (+?), maknanya dalem lho