Reformasi Birokrasi = Remunerasi ?

Ueenak Tenaaan! Begitulah komentar saya ketika akhirnya membaca berita ini di Gatra. Sebenarnya sih saya berusaha untuk menjauhi topik-topik ini untuk ditulis. Alasannya karena udah banyak juga yang nulis seperti disini dan biasanya juga bakalan dibahas disini. Namun suatu kejadian luarbiasa kemarin, membikin tangan saya gatal sehingga hati saya tak kuasa menahannya untuk menulis ini juga.

Jadi gini ceritanya. Departemen Keuangan yang mengklaim dirinya sebagai pioneer reformasi birokrasi, menjadikan metode remunerasi ini sebagai pilar utama agenda mulianya ini. Nah terkait remunerasi ini, konon kabarnya (loh ini udah pasti sih) para pegawai istana duit itu akan memperoleh kenaikan tunjangan yang jumlahnya sangat wah, menurut ukuran saya sebagai buruh IT. Tunjangan yang dalam istilah mereka dikenal sebagai tunjangan khusus pembinaan keuangan negara (TKPKN), ini akan diberikan pada seluruh pegawai dengan rentang 27 grade.

Nah, grade terendahnya saja, yaitu grade 1 bakalan menerima 1,33jt,bisa dibayangkan donk segimana gedenya grade 27. Nambah lagi, khusus untuk pegawai Ditjen Pajak bakalan mendapat extra yang dinamakan tunjangan kerja tambahan (TKT). Makin makmur saja.

Lalu kenapa saya usil mengangkat topik ini. Selain alasan ngiri sih karena alasan sirik aja. Masalahnya alasan kenaikan itu secara bahasa indahnya adalah untuk mengantisipasi beban kerjaan yang berat dan beresiko (baca:rawan penyuapan dan kongkalikong). Jadi ceritanya remunerasi ini diharapkan menjadi pagar moral bagi mereka. Komentar skeptis dan tsuudzon saya : ahh, yang bener aja. Itu kan tergantung orangnya. Kalau tuh orang mengidolakan Paman Gober ya ga ngefek metode ini. Malah tambah senang dia.

OK, sekian pembahasannya. Latar belakang saya menulis ini sih cuma gara-gara kemarin saya barusaja menolak tawaran kerja di BNI, karena saya lebih memilih untuk jadi teknokrat miskin ketimbang birokrat kaya. Selain itu sampai sekarang saya masih dengan teguhnya memegang ideologi Say No to PNS. Bukan apa-apa sih, cuma saya merasa lebih mulia aja membayar pajak untuk gaji mereka, ketimbang makan gaji dari pajak orang-orang swasta yang benar benar banting tulang untuk survive. Latar belakangnya gak nyambung ya? Ya udah, disambung sambungin aja :lol:


15 Responses to this post.

  1. Rumunerasi bukan renumerasi.

    Reply

  2. Rumunerasi?
    Baru dengar tuch. Wah bisa dipatenkan itu definisinya. Tadi saya cek di wikipedia belum ada :D

    Reply

  3. Maaf salah ketik, maksudnya remunerasi. :)
    Asal kata dari remuneration yang artinya:
    1. [n] the act of paying for goods or services or to recompense for losses; “adequate remuneration for his work”
    2. [n] something that remunerates; “wages were paid by check”; “he wasted his pay on drink”; “they saved a quarter of all their earnings”

    Reply

  4. Nah, eta. baru bener. Satulagi kelirumologi di Indonesia.
    Renumeration ga ada di Thesaurus. Tapi remuneration ada, dengan synonim sbb :
    payment, fee, salary, wage, compensation, recompense dan reimbursement

    Thx koreksinya.

    Reply

  5. masih ada ya, orang yang idealis seperti Anda… btw… memang kerja kalau sudah dengan ukuran like and dislike, itu artinya profesionalisme. benar buat apa kerja dan bergaji gede, jika tidak disukai dan (beres)iko… :)
    nice article… bosIT

    Reply

  6. Benar sekali pak Kurtubi. Cuma saya sendiri ragu, apakah idealisme ini akan tetap bertahan. Kalau dalam kondisi terjepit, bukan tidak mungkin saya menjadi pragmatis. Contoh kasus BNI itu, sedikit banyaknya dalam mengambil keputusan itu, saya memasukkan unsur rencana munakahat saya tahun depan (Insya Allah), karena secara materi pasti lebih terjamin.

    Namun setelah saya timbang-timbang, ternyata lebih banyak mudharatnya. Alhamdulillah, Allah memberi ketetapan hati setelah shalat istikharah. Saya tidak ingin dalam bekerja nanti, saya malah tersiksa batin.

    Reply

  7. Mas Fadli, salam kenal. Mas, birokrasi justru membutuhkan orang-orang idealis seperti Anda. Kalau orang baik-baik pada meninggalkan birokrasi mau apa jadinya birokrasi kita. Selama ini, sistem penggajian pegawai negeri yang PGPS telah membuat orang yang baik dan jujur tersingkir atau bahkan ada yang terseret arus. Hanya sedikit saja yang tersisa yang mempertahankan idealismenya dengan penghasilan pas-pasan. Yang diuntungkan oleh sistem itu adalah orang-orang yang berperilaku korup. Di sinilah pentingnya reformasi birokrasi, Sistem imbalan, hukuman, pengawasan yang baru membalikkan proses itu, orang-orang yang berperilaku baik akan diberi reward, orang berperilaku buruk akan dihukum. Nanti yang muncul adalah orang-orang yang baik dan orang-orang juga akan cenderung berperilaku baik. Nantinya juga, dengan sistem imbalan yang baik, orang-orang terbaik akan tertarik untuk masuk birokrasi. Orang idealis seperti Anda tidak perlu khawatir akan terseret menjadi koruptor karena sistemnya sudah tidak korup lagi.

    Reply

  8. Salam kenal balik mas. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya. Saya akan coba berpikir positif menyikapi hal ini. Yang penting kita jangan berhenti berharap :)

    Reply

  9. Posted by sontoloyo on June 30, 2008 at 2:49 pm

    “cuma saya merasa lebih mulia aja membayar pajak untuk gaji mereka, ketimbang makan gaji dari pajak orang-orang swasta yang benar benar banting tulang untuk survive. Latar belakangnya gak nyambung ya? Ya udah, disambung sambungin aja”

    Emang semua swasta bersih? Masak sih… Lha itu yang NIPU COST RECOVERY MINYAK siapa?

    Swasta itu juga pakai NIPU,
    – pabrik makanan pake bahan terlarang
    – pabril mebel kayunya curian
    – dst… dst…

    Sama2 ajalah… Nggak usah merasa paling bersih…

    Ortu ente jgn2 PNS juga? Yakin nggak korupsi buat bisa bayarin uang kuliah ente?

    Reply

    • Posted by alakadarnya on November 18, 2009 at 2:08 pm

      justru karena korupsi buat bayar uang kuliah makanya kita gak boleh korupsi juga. korupsi kok dianggap biasa sih?

      Reply

  10. kawan fadli ..jangan say no to PNS.. seharusnya kawan sadar dong .. dulu kuliah disubsidi negara, dari uang pajak .. nah jadi abdi negara gak mau ..

    Reply

  11. Posted by Rudy on January 4, 2009 at 12:08 am

    Wah, yg di atas bilang uang kuliah disubsidi negara kayaknya salah istilah. Tidak ada itu subsidi negara. Yg ada uang dari masyarakat yang dipakai untuk mensejahterakan masyarakat (baca: mahasiswa yang merupakan pemuda harapan bangsa). Yg namanya negara cuma insitusi tukang ngumpulin doang. Kalo yang terjadi di kenyataan adalah yang seperti di atas (dari masyarakat untuk masyarakat lagi), itu siklus yang benar.

    Yg terjadi sekarang adalah dari masyarakat untuk dikorupsi birokrat. Liat aja APBN isinya sebagian besar belanja rutin (baca: gaji birokrat, udah gitu korupsinya gak pake malu-malu dan berjamaah pulak). Mana yang buat kesehatan gratis, jalan raya, pendidikan gratis, bahan bakar murah? Huh….

    Reply

  12. he..he..yang mulia kan yang bertaqwa kepada Tuhan YME, bukan karena statusnya kan…swasta maupun PNS..(bener nggak ya?)

    Reply

  13. Posted by rilanto on August 28, 2009 at 2:24 pm

    Mesakne tenan sampeyan wong swasta sampe bersumpah Say No to PNS. Yang bikin dan pelihara jalan di depanmu adalah PNS, yang jaga rumahmu aman adalah PNS, yang jaga musuh luar tidak masuk ya PNS atau tentara (pegawai negara), yang melayani urusanmu juga PNS, yang ngurusin usahamu juga PNS. Apalagi yang tidak PNS?

    Reply

  14. Posted by sablah on November 4, 2009 at 9:12 am

    kutipan : “cuma saya merasa lebih mulia aja membayar pajak untuk gaji mereka, ketimbang makan gaji dari pajak orang-orang swasta yang benar benar banting tulang untuk survive”
    berarti, menurut Anda, orang yg kerja jadi PNS itu nggak mulia? imho, naif sekali.

    para bidan negeri, dokter puskemas negeri, guru2 sekolah negeri yang kebetulan ditempatkan di daerah pedalaman, mungkin mereka akan mengasah golok dan ingin membacok Anda bila membaca tulisan ini- mengingat bagaimana pengabdian mereka. yup, yg ingin saya ingatkan ke Anda adalah masih ada pns yg mulia kerjaannya.

    janganlah sedemikian binary minded, 1 – 0 – 1 – 0, item putih item putih. kl nggak item ya putih. kalo nggak pns brarti mulia etc. masih banyak ‘warna’ di dunia ini, bung

    Reply

Respond to this post