Kapal itu telah memesonaku sejak kanak-kanak dahulu
Namun ketika datang kesempatan berlayar, aku urung menaikinya
Badai musim ini benar-benar membuatku gila
Sekarang aku berdiri di tebing menatapnya berlayar menjauh …
Aku tidak tahu apakah kapal berikutnya yang dijanjikan akan datang,
Dan aku tidak tahu apakah jika ia datang aku masih ingin menaikinya.
Duh, badai musim ini terasa amat panjang
@@@
Ibu, berdosakah aku padamu?
Sungguh ibu, sungguh aku bimbang
Awan dipuncak tebing sana terlihat lebih cemerlang ketimbang yang dikaki cakrawala itu
Ayah,
Maaf, aku telah memilih jalanku.
@@@
Wahai Nahkoda,
Tidak terlalu lamakah menurutmu lima tahun perjalanan itu?
Maaf Nahkoda,
Selain cakrawala itu, apakah engkau tidak punya dongeng lain?
@@@
Bahtera, engkau cinta pertama tak bersyarat
Tapi mengapa engkau datang saat badai
Engkau menawan bahtera, bahkan angkuh
Tapi sedikitpun tak kau bawa berita tentang ranah tujuan
@@@
Padamu tebing,
Mungkin aku akan setia bergelantungan
Walau curam-mu tambah lukaku.
Berjanjilah tebing,
Bukan hanya awan yang dapat kuraih dipuncak-mu.
@@@
Badai, pergilah!






Posted by Herianto on September 14, 2007 at 3:20 pm
Inikan interpretasinya bisa macam2 ya…
Kalo saya menginterpretasinya bahwa fadli lagi punya masalah ya..
Semoga kuat, sabar dan tetap istiqamah…
Tidak ada kualitas kecuali melalui rintangan dan cobaan…
Kalo salah, ya ma’af dong. Namanya juga ijitihad interpretasi …
Gimana saudara2nya di pariaman akibat gempa kmaren, mudah2 an selamat2 aja…
Posted by Fadli on September 14, 2007 at 4:33 pm
alhamdulillah baek2 aja. terimakasih doanya
btw ijtihadnya udah mendekati kok
saya cuma lagi bimbang aja milih kerjaan, ini ibarat pameo
“dapek nan dihati, ndak dapek nan kandak hati”
“dapek nan kandak hati, ndak dapek nan dihati”