Archive for the ‘Uneq Uneq’ Category

Cela itu bernama “Kampung”

“Hai perempuan kampung! Jangan pernah kamu membayangkan akan mengawini anakku. Satu-satunya menantu yang diakui keluarga Sanjaya hanyalah Khumairah!”
Lama tidak menyimak sinetron Indonesia, tiba-tiba saya tersentak dan terperangah ketika mendengar sepotong kalimat ini dari mulut salah satu pemerannya. Sinetron apa yah yang akhirnya saya tonton juga setelah hampir 8 tahun mengharamkan jenis tayangan ini? Judulnya adalah [...]

Continue reading »

Kami Butuh Politik Apartheid Jalan Raya

Mungkin ini tulisan yang kesejuta soal keluhan masyarakat pinggiran [maksudnya dipinggirkan] yang setiap hari harus mengalami penyiksaan di jalan raya. Mungkin juga ini amarah hampa yang telah kehabisan bahan bakar api emosi. Tepat juga dibilang tangisan kering tanpa air mata. Walau hanya sebuah jeritan tak berdaya, kami cukup puas masih bisa menyuarakannya. Terlalu muluk jika [...]

Continue reading »

Alhamdulillah HP-nya ketemu, Tapi …

Sesampainya di kost tadi malam, saya langsung melakukan prosedur rutin yaitu membongkar isi ransel yang setiap hari saya bawa. Meletakkan buku agenda, bolpoint, dompet,kacamata, HP dan perlengkapan lainnya ke posisi masing-masing, agar mudah dijangkau dalam situasi darurat. Satu persatu saya absen, dan saya baru tersadar ternyata ada satu barang yang tidak hadir malam itu. Saya [...]

Continue reading »

Saya Dirampok!

Lengkap sudah kekecewaan saya pada bank yang satu ini. Sedari awal saya sudah tidak ikhlas membuka rekening di bank ini, namun karena dipaksa oleh perusahaan saya terdahulu (dan juga tentunya oleh perusahaan sekarang) saya harus legowo menjalaninya. Padahal tidak ada sedikitpun keuntungan yang saya rasakan dengan menitipkan penghasilan saya di bank ini, walaupun hanya untuk [...]

Continue reading »

Kemerdekaan Hakiki dan Nasionalisme Yang Tulus

Saya berpikir lebih dari dua kali sebelum menulis postingan ini. Namun setelah mempertimbangkan bahwa efek kontroversi dan salah paham itu pun sifatnya relatif, maka saya beranikan diri untuk menulis karena saya sadar masih banyak pula orang yang berpikir lebih dari dua kali untuk memahami maksud saya setelah membaca artikel ini. Sedemikian sensitifkah artikel kali ini? [...]

Continue reading »

Selamat Ulang Tahun Bung!

Jujur, lugu dan bijaksana …
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia

Bung, enam puluh tahun setelah peristiwa itu
Ketika kau dampingi sahabatmu itu membaca sumpah proklamasi
Tapi sungguh Bung, saat ini belum kulihat persatuan yang kau cita-cita kan
Malahan persatean yang kau khawatirkan,
Makin jumawa dalam negara
 

Enam puluh tahun sudah Bung
Pendidikan yang kau daulat sebagai senjata
Masih saja [...]

Continue reading »

Menggugat Budiarto Shambazy : Sebuah Perlawanan Terhadap Jurnalisme Kebencian

Anda harus punya musuh, begitu kata salah seorang blogger. Setelah menyimak salah satu thesisnya yang berbunyi “musuh Anda harus benar-benar nyata” saya jadi teringat sebuah nama. Yak, betul nama orangnya adalah Budiarto Shambazy (moga-moga tidak salah tulis namanya).
Siapakah Budiarto Shambazy? Selain fakta bahwa ybs pasti tidak mengenal saya , saya akan memperkenalkan ybs [...]

Continue reading »