Dua kata ini kadang dengan gampangnya begitu sering kita ucapkan. Kepada orang lain, namun,dua tindakan ini kadang terlalu susah juga kita terapkan pada diri sendiri.

Terkadang kita sering mendramatisir skenario kehidupan, mengapa saya selalu mendapat peran sebagai paria. tertindas dan tersiksa. padahal saya lebih baik dari mereka. saya hanya menempuh jalan yang lurus-lurus saja. saya orang yang paling taat pada peraturan. saya juga sering berhati iba. saya ini saya itu.

Tapi, mengapa dunia terlalu kejam pada saya?

Kita meluangkan waktu-waktu kita mengutuk dunia. Sandiwara dengan tokoh-tokoh antagonis disekeliling kita. Kita membayangkan diri bagai malaikat protagonis yang tersiksa.
Kita selalu meluangkan waktu untuk itu.

Sampai satu ketika akhirnya kita jenuh dengan keadaan ini.
Kita tidak lagi melihat warna dunia. Biru pagi jadi kelabu. Jingga petang tak lagi datang. Semua dalam spectrum hitam, putih dan abu-abu. Kering dan bisu.

Saya juga begitu sampai suatu ketika.
Yaitu saat saya bertemu dengan seseorang yang membawa pencerahan bagi saya, walaupun dia mungkin tidak datang menemui saya dengan misi itu.

Ketika saya ceritakan kepadanya, dia hanya tersenyum simpul.
Nak engkau masih muda. Ini baru awal.
Apa kau kira dalam sandiwara ini hanya engkau yang mendapat peran sebagai paria.

Ketahuilah, peran itu bukan dihibahkan padamu, tapi engkaulah yang memilihnya sendiri. Dan kau harus pertanggungjawabkan peran itu.
Tahukah engkau ada banyak orang yang memilih peran ini, di panggung-panggung sandiwara lain.

Bersyukurlah…
Karena peran ini memang tidak mudah, maka bersabarlah dalam Iman
Bergembiralah …
Karena engkau tidak sendirian.

Ahh, kuliah singkat yang mempesona.
Saya bertanya, siapakah Anda sebenarnya?
Tiada jawaban.
Namun saya tidak merasa asing dengan orang itu.
Dan dia pun berlalu, pergi entah kemana.

Tiba tiba saya dibangunkan adzan.
Panggilan yang setahun ini biasa-biasa saja tiba-tiba terasa begitu bermakna.
Rindu pun membuncah padaNya.

Sepuluh menit kemudian saya beranjak ke beranda,
dan menemukan Jakarta,
dengan langit yang lebih biru dari hari sebelumnya