You are currently browsing the monthly archive for May 2007.

Bukan karena latah saya ikut-ikutan membuat tulisan ini, tapi sekadar mencermati dari sudut pandang lain yang lebih luas, lalu mencoba mengambil kesimpulan. Menarik benang merah dan membuat generalisasi. Dan tentunya tanpa mengabaikan fakta-fakta empirik.

Kasus apakah ini? Apalagi kalau bukan kasus nomor 2 tenar setelah NT2007, yaitu kasus proklamasi kematian seorang seleb. Dengan mengenyampingkan dugaan bahwa hal ini hanyalah sebuah eksperimen sosial sang seleb dalam mencapai taraf pendewasaan tertentu, saya dari jauh mengamati ini semua tak lebih hanya sekedar fenomena kontroversi yang (maaf) sudah teramat basi.

Bukan, bukan. Bukan seleb ybs yang saya klaim basi, tetapi fenomena kontroversi ini. Cobalah tengok kembali, masalah apakah gerangan yang paling banyak dibicarakan. Dengan segera pikiran kita akan melayang kepada cerita Kenapa Harus Inul, Boomingnya Tukul, Dekrit Gusdur, Balada Aa Gym dan rupa-rupa kasus yang sejenis. Terakhir yang paling gress adalah soal kasak-kusuk Pak Amien dan Pak Beye.

Apa itu kontroversi? Yang jelas saat ini saya sedang tidak memegang kitab suci KBBI, namun secara orang lugu saya menerjemahkan kontroversi adalah suatu peristiwa atau cerita dimana terdapat kalangan yang pro dan kalangan yang kontra. Ada pendukung dimasing-masing pihak, ada penggembira, ada penonton, ada pengamat.

Ketika kontroversi disajikan dalam sebuah reality show, penonton dan pengamat yang tadinya berada di wilayah netral pun berkemungkinan tersedot kesalah satu kubu. Turut pula meluangkan emosinya disana. Turut merasa bahwa dia mewakili aktor-aktor dalam panggung kontroversi. Banyak contoh yang teramat sering kita lihat. Dari AFI, KDI, API sampai Idol. Simon Cowell, Mutia Kasim adalah tokoh-tokoh kontroversial dalam arena itu. Kita dibuat suka, dibuat benci dan yang pasti dibuat larut didalamnya. Dalam ingatan saya ada satu reality show bagus di ANTEVE beberapa tahun lalu yang menyuguhkan kontroversi secara vulgar. Judulnya Penghuni Terakhir. Anda tentu masih ingat dengan slogan Anti Pemasungan yang tiba-tiba jadi populer di telinga publik. Tokoh Mbak Surastilah pun tiba-tiba jadi beken karena seringnya diteriakkan salah satu peserta kontroversial di acara itu.

Kembali ke fenomena sang seleb, kita tentu sadar sekarang betapa piawainya sang seleb dalam mengemas kontroversi jadi reality show (bahkan kematiannya sendiripun disulap menjadi kontroversi). Penonton dibuatnya keranjingan menyambangi panggung kontroversinya tiap hari. Bahkan sekedar untuk titib absen saja. Luar Biasa! Salut! Reality Show yang disajikan benar-benar memukau, seluruh penonton berpartisipasi aktif. Ada yang mendukung ada yang mencela, ada juga yang cuma mengamati. Kursi panggung penuh terisi (bahkan ada yang rela gelar tikar segala). Reality Show sejati ini benar-benar bikin ketagihan. Read the rest of this entry »

Advertisements

Seperti yang sudah saya duga, di perempatan Pancoran naiklah kembali para pengamen pelantun qasidah dan shalawat yang biasa saya temui setiap hari pas berangkat kerja. Tapi hari ini saya agak kaget, kalau kemarin-kemarin itu artisnya berwajah sejuk dan bertampang ikhwan lha koq sekarang aneh sendiri. Yang naik ini 3 orang, wajahnya masih menyisakan raut-raut kesangaran, dan kalau tidak salah saya sebelumnya juga sudah pernah bertemu mereka (tentu saja bukan dalam “wujud” yang sekarang).

Mereka segera melantunkan shalawat yang tidak jelas betul pengucapannya. Rebana dipukul-pukul sekedarnya dengan botol minuman obat panas dalam dengan diiringi gitar kecil berdawai kendur. Kopiah/songkok khas santri dipakai lengkap dengan celana cingkrangnya (hanya kurang jenggot saja 😀 ). Perlahan saya perhatikan (dari bangku belakang yang tinggi), ibu-ibu (berkerudung) mulai mengeluarkan uang seribuan. Satu orang, dua orang, …, lima orang. Binar senyuman tak dapat mereka sembunyikan dari wajahnya. Dan segera setelah itu mereka mengumpulkan rezeki pagi itu.

Saya tidak sedang sirik dengan mereka. Toh mereka mencari rezeki dengan cara yang halal, bukan dengan mengancam (seperti sebelumnya). Dan beruntungnya aliran yang mereka bawakan pagi ini memang lagi banyak peminatnya. Rating nya pun tinggi seperti sinetron-sinetron “religi” di televisi. Memang masyarakat kita saat ini sedang dahaga religi. Dan tidak ada salahnya kalau mereka beralih profesi melihat keadaan itu. Yaah, mudah-mudahan juga mereka benar-benar insyaf.

Di rumah, Januari 2006, Menjelang Lebaran Haji

Fadli : Bu, Aneh betul yaa orang Jakarta itu, masak orang naik haji aja bangganya minta ampun. Babe Sabeni aja pas si Doel jadi tukang insinyur ga segitunya.

Ibu : Hush, emang kamu tahu darimana, nggak baik ngomong begitu.

Fadli : Itu loh Bu, di sinetron Maha Kasih yang “Tukang Bubur Naik Haji” itu ceritanya begitu.

Ibu : Halah kamu, kecanduan sinetron, paling itu juga di tambah-tambahi.

Di Jakarta, Februari 2006, Lagi ngobrol-ngobrol sama Ibu Kost

Ibu Kost : Jadi orang tuanya kerja apa dikampung?

Fadli : Ayah saya pensiunan PNS, Ibu yaa dirumah aja, ibu rumah tangga.

Ibu Kost : Oo, sudah naik haji belum?

Fadli : Belum Bu, insya Allah saya aja yang haji in nanti

Ibu Kost : Oo, bagus itu. Klo saya sih naik hajinya tahun 98 kemarin, duit taspen tapinya. Jadi ceritanya Pak Haji itu “ngikut saya”

Fadli : Pak Haji siapa ya Bu?

Ibu Kost : Suami saya, Pak Haji Sumarto

Fadli : Ooo (dlm hati : repot amat, timbang bilang suami aja dari tadi)

Ibu Kost : Sodara-sodara saya juga sudah haji semua, yang di rumah tingkat di belokan itu, oo yaa yang di Rawasari juga udah, bareng istrinya juga. Truz yang di … bla bla bla …

Fadli : ???

Di Jakarta, Hari yang sama pada malam nya (lewat telpon)

Fadli : Bu, itu cerita tukang bubur ternyata beneran lho. Aku nemuin sendiri.

Ibu : Tukang bubur yang mana?

Fadli : Itu lho yang diceritain di Maha Kasih pas lebaran haji kemarin

Ibu : Oo, masa sih? Kapan kamu ketemu sama tukang buburnya?

Fadli : Aduh Bu, bukan itu maksudnya. Itu lho soal Dinasti Haji itu, yang satu keturunannya Haji semua. Ibu Kost aku ternyata golongan itu juga.

Ibu : Wah baguslah, emang ada yang aneh gitu?

Fadli : Hajinya sih nggak aneh, narsis nya itu lho Bu, norak banget ga sih.

Ibu : Halah kamu, gitu aja dipikirkan. Biarin aja, dia dia, kita kita.

agam-084.jpg

 

Foto ini saya jepret di Kenagarian Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat Maret 2007 lalu. Sementara saya bertafakkur mengingat kejadian di NAD, saya beristighfar melihat masjid yang satu ini. Masjid ini hancur karena gempa 6 Maret 2007 yang meluluhlantakkan Sumatera Barat, sehingga tinggal tiang-tiangnya saja, sementara rumah disekelilingnya hanya retak-retak. Kalau menurut kata orang, masjid ini jarang dimakmurkan, tapi saya tidak akan berkomentar apa-apa. Takut berburuk sangka. Semoga menjadi I’tibar (pelajaran berharga) bagi kita semua.

Dibawah ini adalah sesudut Nagari Koto Gadang Read the rest of this entry »

Setelah harap-harap cemas menantikan pertandingan final Amien Rais vs SBY, akhirnya saya tergelak sendiri. Waktu itu sore hari, hujan rintik-rintik. Saya lagi leyeh-leyeh habis makan di sebuah rumah makan padang belakang kantor (lah ga kerja apa 😀 ). Sembari menghabiskan es teh manis, saya iseng-iseng ikut nebeng nonton TV yang nangkring disudut atas pojok RMP. Klo ga salah lagi tayang Seputar Indonesia.

Ee lha, koq kebetulan yang ditayangkan adalah berita yang lagi saya tunggu-tunggu. Ternyata Pak Amien dan Pak Beye ketemu (baca: Pak Beye-nya yang minta ketemuan sama Pak Amien, jadi ceritanya beliau-beliau ini janjian) tadi pagi di Bandara Halim Perdanakusumah, dan singkat cerita mereka memutuskan untuk saling minta maaf dan bersepakat untuk meneruskan masalah ini untuk diselesaikan secara hukum saja.

Sembari triping geleng-geleng kepala saya jadi teringat legenda Pak Bagir Manan kemarin yang mau ngadu ilmu dengan Mbah Probosutedjo. Sehabis geleng-geleng kepala saya koq ya terinspirasi bikin satu kategori lagi di blog saya. Karena nggak mau jadi terlalu serius, maka kata politik tidak jadi saya gunaken. Jadilah saya resmiken kategori baru ini bernama Foolitics. Moga-moga nanti bisa diisi dengan sajian-sajian yang tidak bikin nambah kerutan di kening, apalagi di pipi 😀 .

Oya, silahkan juga dibaca di Gatra tentang ending pertandingan ini.

Tulisan ini adalah pembuka untuk kategori Romance yang efektif akan saya isi mulai bulan Juni 2007. Isinya nanti bisa berupa cerpen, cerbung, serial atau skenario. Untuk karangan pendek atau puisi-puisi ngaco akan saya buang pada kategori Personifikasi. Kategori Romance ini saya khususkan untuk menampung obsesi yaitu menjadikan Blog sebagai sarana berbagi cerita fiksi. Saya tidak akan meributkan soal HAKI untuk tujuan ini. Yah syukur-syukur ada yang tertarik untuk mengangkat dan mengolahnya menjadi skenario film pendek atau serial. Kategori Romance ini juga menampung obsesi saya akan penulisan cerita-cerita bernuansa realis atau berlatar belakang sejarah atau fiktif namun logis.

Saya hanya akan menuliskan cerita-cerita sederhana yang kira-kira gampang dikonversi menjadi skenario. Sebab saya memang tidak punya keahlian untuk menulis cerpen kompleks ala Putuwijaya apalagi novel-novel berat ala NH.Dini. Saya juga bukan tipe penulis buku tebal ala Supernova-nya Dewi Lestari. Satu-satunya tulisan saya yang paling tebal hingga saat ini hanyalah skripsi saya 😀 . Saya juga tidak keberatan jika nanti tulisan saya hanya cocok untuk konsumsi remaja. Tapi tak apalah, paling tidak bisa memuaskan obsesi saya untuk menulis cerita yang rada logis, ketimbang tidak berbuat apa-apa dan rajin pula menghujat sinetron televisi atau film nggak mutu tiap hari.

Kenapa kategori ini saya beri nama Romance? Read the rest of this entry »

Ganti rugi sosial? Wacana apa lagi ini? Begitu komentar saya pertama kali ketika membaca satu artikel yang berjudul “Mereka Tetap Ingin Bersama” di halaman depan harian Kompas Sabtu 26 Mei 2007 lalu. Namun setelah saya baca sampai tuntas, terbitlah rasa kagum saya yang luar biasa terhadap kaum yang menyuarakan istilah ganti rugi sosial ini. Dalam hati saya berpikir, mereka inilah “the Genuine of Indonesian society”.

Lho, bagaimana bisa? Begini ceritanya.

Hikayat berawal dari kejadian luar biasa setahun lalu, yang dalam beberapa hari lagi memperingati hari jadinya yang pertama. Ya, ini cerita terkait dengan Legenda Luberan Lumpur Lapindo Porong (L4P) yang sangat fenomenal itu. Ternyata, tak semua pengungsi korban lumpur Lapindo ini bersedia menerima uang kontrak rumah. Ada sekitar 906 keluarga (3.133 jiwa) yang memilih untuk menolaknya, dan tetap bertahan di pengungsian Pasar Baru Porong.

Apa pasal? Cari sensasikah mereka (seperti trend jahit mulut dikalangan aktivis sekarang ini) ? Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 311,776 hits
%d bloggers like this: