Selama berdomisili diketiga kota ini, ada hal-hal kecil yang sempat jadi perhatian saya. Entah ada pula orang lain yang ikut mengamatinya saya tidak tahu. Yang jelas perbandingan dibawah ini tidak ada maksud apa-apa.

Pasal Pertama : Berselisih jalan (terutama dijalan sempit atau diatas trotoar)

Pariaman >> Jarak 5 meter sudah tahu siapa yang mau kekiri, siapa yang mau kekanan, so resiko tabrakan dibawah 5%

Jogjakarta >> Kalau sempat bertatap mata, selayang senyum yang menyejukkan akan disajikan, sambil sama-sama menganggukkan kepala

Jakarta >> Jarak 0,5 meter baru diputuskan siapa yang akan pindah jalur. Kalo ga tabrakan seringkali akhirnya sama-sama salah arah (sama-sama memilih kekanan atau kekiri)

Kesimpulan : di Jakarta radar yang mendeteksi kehadiran orang lain punya jangkauan tidak lebih dari 0,5 meter. Jadi kalau Anda orang baru disini, harap maklum dan lebih inisiatif untuk menghindari tabrakan/gesekan/senggolan ;p

Pasal Kedua : Memberi senyuman pada orang yang tidak dikenal atau seperti pernah kenal namun lupa kapan kenalannya

Pariaman >> Yang diberi senyuman akan senyum balik lebih lebar

Jogjakarta >> Yang diberi senyuman akan menganggukkan kepala dan merespon dengan senyum dan bahasa tubuh yang 2x lebih ramah

Jakarta >> Yang diberi senyuman kemungkinan akan memberi reaksi sbb :

 

*) Melengos (pura-pura menatap kearah lain)

*) Pura-pura tidak tahu dan bereaksi tanpa ekspresi

*) Pasang muka curiga

*) Pasang wajah angkuh

*) Tersenyum sinis atau dipaksakan, sehingga kelihatan tidak dari hati

*) Bisa juga membalas senyuman (kemungkinan paling kecil)

Kesimpulan : di Jakarta si penebar senyum kemungkinan akan sering keki, sehingga memutuskan meralat sikap suka senyumnya (kemungkinan lho ;p). Jadi populasi mereka kian hari kian sedikit


Pasal Ketiga : Bertanya pada orang tak dikenal

Pariaman >> Asal sopan, pasti akan dilayani dengan ramah

Jogjakarta >> Sopan tidak sopan, kemungkinan besar tetap ditanggapi dengan ramah dan antusias

Jakarta >> Semakin sopan nanyanya, semakin dicurigai


Pasal Keempat : Tabrakan atau Kecelakaan

Pariaman >> Segera ditolong dan dibawa kerumah terdekat sebelum ambulans datang

Jogjakarta >> Warga rebutan untuk menolong

Jakarta >> Sampai mati juga ga bakalan ditolong (kalo ditonton iya)

 

Pasal Kelima : Duduk berhadapan diatas angkot

Pariaman >> Tegur sapa darimana hendak kemana, sering berakhir dengan percakapan akrab dan atau dibayari ongkos ;p

Jogjakarta >> Nggak ada angkot yg duduknya hadap-hadapan, jadi ga ada pembanding

Jakarta >> Pasang muka curiga+waspada, jangan sampai ketiduran satu detik pun, semua barang bawaan dipangku erat-erat seperti memangku balita. Jika ditanya oleh sesama penumpang pura-pura tidak dengar dan pura-pura bingung atau pura-pura tidak tahu bahwa dialah yang diajak bicara (biasanya respon pertama adalah : Oh ya, siapa, kenapa???, kayak orang habis bangun tidur)

… Lain kali bersambung untuk Pasal Keenam dst