Siang itu saya baru saja selesai shalat dzuhur disebuah masjid (sebenarnya lebih pantas disebut mushalla). Masjid ini terletak di lantai 3 bangunan parkir Menara Jamsostek. Di langit-langitnya melintang pelbagai pipa berbagai ukuran. Jika tidak karena cat nya yang berwarna putih, maka tempat ini lebih meyedihkan kondisinya daripada gudang di pelabuhan.

Tempat wudhu’ ada 4 keran air yang langsung dicatut dari pipa suplay utama, sehingga begitu keran dibuka bunyi bisingnya bisa menyaingi kompressor tukang tambal ban. Tempat whudu’ ini dipakai bersama jamaah pria dan wanita. Saya sering melihat wanita berjilbab dibikin risih karenanya, dan memilih untuk berwudhu’ di toilet saja. Namun biar bagaimanapun inilah tempat terbaik untuk meghadap Tuhan di gedung ini.

Kembali ke Laptop!

Begitu pintu lift yang akan mengantar saya ke lantai 11 bangunan parkir terbuka, ternyata didalamnya telah bersemayam satu kereta dorong dengan sejumlah banyak kotak minuman keras diatasnya. Pelbagai merek dari rendahan sampai lumayan bersusun didalamnya. Tumpukan ini beserta dua pengawalnya nyaris memenuhi lift yang kadang juga berfungsi sebagai lift barang ini. Saya paksakan masuk karena tidak mau menunggu satu ronde lagi.

Lift kemudian berhenti dilantai 10. Di diskotek, 7 lantai diatas masjid terbaik kami.

Saya meneruskan langkah ke gedung utama Menara Jamsostek, naik kelantai 19 ruang kerja saya. Oya, kebetulan 6 lantai diatas ruang kerja saya juga ada diskotek kelas atas yang cukup terkenal di Jakarta ini. Biasanya para penunggunya sudah mulai datang setelah jam kerja normal berakhir.

Bukan pemandangan langka memang untuk gedung-gedung perkantoran di kawasan Jakarta ini, bahwa diskotek seringkali ditempatkan lebih mulia ketimbang masjid/mushalla. Diskotek, jelaaass mendatangkan pemasukan.