Kedengaran seperti iklan memang. Namun maksud saya sebenarnya juga tidak jauh-jauh amat dari kalimat ini.

Selama setahun lebih tinggal di Jakarta ini saya tergelitik untuk mengamati karakter sosial warganya yang kadang terasa janggal bagi saya. Aneh saja rasanya melihat percampuran aneka suku bangsa di republik ini yang malah menghasilkan sintesa karakter seperti ini (you know laa).

Pertama saya membayangkan paling tidak ada 3 macam hasil dari percampuran budaya dan karakter di Jakarta ini, yaitu:

  1. Pencampuran Pigmen, yang sering kita kenal sebagai pencampuran cat. Biasanya akan timbul warna sekunder yang berbeda dari warna penyusunnya, namun cenderung dekat ke warna penyusun yg dominan. Ini tidak terbukti di Jakarta. Jika terbukti maka budaya disini akan kental dengan keramahtamahan ala Betawi dan Kelemahlembutan ala Jawa.
  2. Pencampuran Cahaya, yang telah kita kenal, yaitu ketika warna putih tercipta dari pencampuran 7 warna spektrum penyusunnya. Saya menafsirkan ini sebagai sintesa antar budaya, sehingga seharusnya budaya adi luhung dari berbagai tempat di Indonesia berkumpul di Jakarta dan menemukan bentuk modernnya. Ini masuk akal, karena mayoritas warga Jakarta adalah kaum terdidik. Namun ini juga tidak terbukti disini.
  3. Pencampuran Minyak dan Air. Disini tidak ada sintesa apa-apa. Sifat-sifat asli dari budaya-budaya yang ada akan muncul dengan bebasnya. Dari yang khas sampai yang universal. Namun lucunya, penduduk Jakarta (pendatang) malah kebanyakan menanggalkan kearifan budayanya ini karena takut di cap kampungan, ndeso, dkk. Terus terang kata “kampungan” ini jadi kata favorit di Jakarta untuk melakukan penghinaan. Benar-benar kacang lupa kulit. Saya sendiri bangga menyebut diri saya kampungan. Orang Jepang di Megapolitan Tokyo rata-rata juga kampungan koq. Kenapa kita harus malu.

Terus, Jakarta itu mau seperti apa? Jatidirinya seperti apa?

Katanya “go international”, setiap hari warganya akrab dengan bahasa Inggris yang grammarnya benar-benar tidak cukup nilainya untuk lulus UN. Parahnya penganut “bahasa Hybrid”, juga tidak kalah banyaknya. Namun jauh sekali dari kesan terdidik (bukan akademis lho). Yang dilafalkan dalam bahasa Linggis itu malah istilah sehari-hari bukannya istilah teknis atau yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

OK, Jakarta mau go International. Bisa ga kita pake nilai-nilai yang lazim dinegara maju itu.

Menghentikan mobil saat hujan ketika ada yg menyetop, lalu mempersilahkan orang itu menumpang (ini lazim di Amrik).

Menggunakan sepeda untuk pergi kerja sembari mengurangi polusi (ini lazim di Belanda).

Menyediakan sisi sebelah kanan lift untuk orang yang ingin buru-buru (ini lazim di Jerman).

Ahhh rasanya terlalu jauh, kita baru bisa meniru gayanya saja.

Tapi kenapa kita tidak coba melembagakan budaya kita sendiri di ibukota ini. Tidak usah terlalu rumit. Mengembangkan dua budaya saja sudah cukup untuk membuat kita unik dan Stands out among the Crowd.

Tidak ada salahnya kembali kesalah satu akar budaya kita, yaitu budaya ramah dan budaya peduli. Sikap curiga tidak perlu diperlihatkan secara frontal sehingga menyinggung perasaan orang lain. Sikap ramah orang lain berlakukanlah azas praduga tak bersalah, boleh waspada namun jangan kentara. Apa salahnya menanyakan kondisi korban keserempet atau tabrak lari. Syukur-syukur mau menawarkan betadine atau isi kotak P3K dimobil kita, kalaulah kita terlalu mulia rasanya untuk mengantar ke rumah sakit.

Ahhh, terlalu lama saya membayangkan Jakarta bukan sebagai ibukota Republik Indonesia.

Namun sebagai Ibukota Republik Mimpi🙂