Satu ketika ditahun yang lalu, saya pernah mendapatkan forwardan email dari seorang teman SMA. Isinya adalah “Top 10 Dreamy Corporate” di Indonesia. Ya ya ya, isinya tidak bakalan jauh-jauh dari Astra, Telkomsel, BI, BCA dan Caltex (Chevron). Tapi saya tergelitik, karena salah satunya adalah IBM yang bersemayam di peringkat ke 10.

Ada apa dengan IBM? Yang menarik perhatian saya adalah perusahaan ini selain menawarkan benefit-benefit konvensional yang tidak jauh-jauh dari materi, ternyata juga menawarkan benefit yang berupa kefleksibelan. Bagaimana tidak, disini terdapat program “Working at Home” yang memfasilitasi setiap karyawan apabila ingin bekerja dari rumahnya dengan penyediaan perangkat dan infrastruktur teknologi informasi pendukungnya.

Sebagai karyawan IT saya merasa jealous juga. Saya membayangkan, andai saja perusahaan-perusahaan IT di Indonesia (katakanlah yang sudah mapan) bisa menerapkan hal ini, maka keuntungan yang didapat pasti akan bertambah. Saya berasumsi produktivitas karyawan pasti akan bertambah seiring meningkatnya kualitas hidup mereka (terutama dari aspek non materi).

Bisa dekat dengan keluarga (apalagi kalau boleh tinggal di kampung halaman) dan tidak perlu memikirkan mudik yang melelahkan setiap tahunnya, mungkin merupakan kemewahan tak ternilai saat ini (apalagi jika ditambah standard gaji yg tetap internasional😀 / gaji Jakarta). Barangkali kompensasi-kompensasi yang lain bisa digantikan dengan ini.

Tentu tidak semudah itu mewujudkannya, karena walaupun perusahaannya mau dan mampu, infrastruktur internet kita ternyata belum menunjang (atau masih mahal pada lain kasus). Kalaulah dua hal diatas bisa dinihilkan, tentu kita sudah pantas melayangkan pertanyaan “Kenapa harus di (ke) Jakarta ?”. Paling tidak pertanyaan ini ditujukan untuk buruh IT yang pekerjaannya berkaitan dengan development (tidak tertutup kemungkinan untuk yang bergerak dibidang maintenance suatu hari nanti).

Beruntunglah teman-teman di Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar yang tampaknya sudah mulai bisa menikmati kemewahan diatas (lewat proyek-proyek outsourcing dari perusahaan Jakarta).

Kami yang berkampung di Sumatera, Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan pulau-pulau kecil yang tidak terlalu beken masih harus menunggu entah berapa lama. Mungkin selama kami menantikan Flexi dan Speedy yang ternyata hanya “segitu aja”.