Artikel berikut ini saya kutip dari forwardan email yang saya kurang begitu tahu awalnya darimana. Informasi (terkait peringkat) mungkin juga sudah tidak aktual lagi. Tulisan ini perlu saya sadur sebagai referensi postingan berikutnya.

 

“Di IBM, karyawan banyak memperoleh fasilitas pengembangan diri. Itu penting untuk memelihara komitmen mereka”

Dengan memiliki lebih dari 330.000 pegawai di lebih dari 170 negara, International Business Machines Corporation (IBM) mengukuhkan diri sebagai salah satu perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia. Resmi berdiri pada 15 Juni 1911, IBM memiliki pendapatan US$96 miliar (2004). Perusahaan yang berkantor pusat di Armonk, New York, AS, ini memproduksi dan menjual perangkat keras komputer, perangkat lunak, dan jasa.

Oleh karena kebesarannya itu pula IBM masuk dalam 10 besar perusahaan yang paling diidamkan karyawan sebagai tempat bekerja dalam survei Warta Ekonomi terhadap 1.000 responden. Sebanyak 16,39% responden yang memilih IBM beralasan memilih IBM karena nama besarnya. Selain itu, 12% responden yang memilih IBM menganggap berkarier di IBM sangat menjanjikan bagi masa depan mereka, terutama kesempatan untuk bekerja diluar negeri. Namun, alasan terbanyak adalah karena penghasilan di IBM lebih besar (27,59%).

Akan tetapi, Audrey Wardana, country manager human resources PT IBM Indonesia, menuturkan faktor penghasilan bukanlah hal yang ditonjolkan IBM dalam memelihara komitmen karyawan. “Menurut data survei pihak ketiga, gaji yang kami berikan sangat kompetitif dibanding perusahaan sejenis lainnya,” ungkapnya.

Dalam memelihara komitmen karyawannya, IBM lebih memilih memfasilitasi mereka agar berkembang. Di antaranya melalui pemberian program Professional Development yang merupakan fasilitas intranet yang dapat dipakai setiap waktu oleh seluruh karyawan, seperti e-Learning Program,Global Campus, Updated Professional/ Technical Training, dan Management Development.

IBM juga memberikan program Working at Home yang memfasilitasi setiap karyawan apabila ingin bekerja dari rumahnya dengan penyediaan perangkat dan infrastruktur teknologi informasi pendukungnya. Ada juga pemberian program Compressed Working Day untuk karyawan yang ingin jam kerjanya lebih sedikit, misalnya 20 jam per minggu, karena sedang mengikuti pendidikan S2/S3 atau sedang mengalami masalah keluarga. “IBM menyadari bahwa karyawan harus memiliki work life balance,” papar Audrey.

Bagi IBM, penghargaan (reward) untuk karyawan yang berprestasi juga tidak selalu harus berupa uang. “Terkadang mereka juga butuh pengakuan,” ujar Audrey. Di antaranya, IBM selalu mengumumkan karyawan yang berprestasi, seperti berhasil dalam sebuah proyek, melalui pengeras suara yang terdengar ke seluruh kantor.

(Penulis Artikel : Iman Hendarto)