Akhirnya penantian saya berakhir. Setelah dua ronde sabtu-minggu sweeping di seputaran Cikoko dan Pengadegan, bertemu juga akhirnya dengan kost-kostan idaman. Suasana lingkungannya yang tenang dan sedikit asri mengingatkan saya pada Jogja, kota kesayangan saya. Ditambah lagi dengan ibu kost yang orang Solo asli dan hobi nembang. Benar-benar menghidupkan memori kembali.

Sebelumnya sempat tiga minggu kost diwilayah yang sama. Selama tiga minggu itu pula saya merasa tersiksa disana(hiperbola mode : on). Bagaimana tidak, kamar kost saya itu tidak ada akses udara dan cahaya. Letaknya disamping kamar mandi yang lembab, luasnya 2×2 m. Malam berganti siang pun saya tidak tahu didalamnya.

Lucunya selama sweeping dari belakang Bukopin sampai belakang Menara Saidah, sering sekali saya temui kamar kost – kamar kost yang mirip dengan kondisi diatas. Saya heran, bagaimana mungkin orang merasa nyaman didalamnya. Dengan imbalan AC, ada saja peminat yang mau menempatinya. Ahh mungkin saya terlalu manja dan banyak pinta.

Bersyukur benar saya mendapatkan kamar kost yang baru ini. Sudahlah baru (direnovasi), warna biru muda kombinasi putih, luas dan nyaman, terletak dilantai dua, menghadap ketimur pula. Dan ditambah lagi dengan jendela nako dan beranda disampingnya.

Setiap pagi mentari langsung menerobos masuk, dan malamnya angin timur setia bertandang lewat jendela ini. Terus terang anatomi ini telah mencukupi 90% kriteria yang saya dambakan. Dan yang lebih bikin jatuh cinta, sewanya sebulan cukup 350 ribu sahaja (ini pasal 1 dari daftar kriteria saya😀 )