Satu bulan tinggal di Cikoko-Pancoran sudah cukup untuk bikin saya uring-uringan soal menu makan malam. Bagaimana tidak, saya yang punya kebiasaan pulang malam dari kantor (baca: datangnya sengaja telat sampai jam 10.30) benar-benar tidak punya pilihan lain selain nasi goreng, menu Indonesia paling merakyat itu.

Saya bukannya penganut ideologi Anti Nasi Goreng dan terus terang ini menu adalah menu favorit saya (dengan berbagai macam variannya). Tapi please decchh, moso tiap malam ketemunya nasi goreng lagi nasi goreng lagi.

Ya ya ya, Cikoko memang daerah perumahan, tidak serupa dengan Johar Baru tempat saya tinggal (ngekost) dahulu. Johar Baru yang padat di Jakarta Pusat, masih punya pasar yang hidup sampai 12 malam. Disana bertebaran 4 rumah makan padang (makanan wajib saya😀 ), 6 tenda pecel lele, 5 tenda nasi goreng, 2 sate padang, 4 warung bakso, 2 gerobak ketoprak dan sate madura yang setia sampai malam. Seapes apesnya saya klo pulang malam (00.30) masih ada pecel lele yang menantikan.

Kembali ke Cikoko, sepertinya pasar paling dekat cuma Pasar Tebet Barat. Minggu sore kemarin saya udah survey kesana dan sepertinya daerah ini mirip-mirip Johar Baru klo malam (banyak macam makanannya). Tapi masak saya harus turun disini sepulang kantor hanya untuk makan malam.

Akhirnya anak kost yang malang ini menyerah pada nasibnya, sembari mendata dan me-rangking para tukang nasi goreng. Maklum nasi goreng gerobak rasanya suka unpredictable, banyak tukang nasi goreng yang ga pinter masak tapi nekat jualan.

Saat ini saya baru punya satu “postulat” untuk memprediksi rasa nasi goreng, yaitu semakin lama waktu yang dibutuhkan tukang nasi goreng untuk mengolah jualannya, semakin enak rasanya. Soal rasa, saya lebih cocok dengan nasi goreng Tegal (trek tek tek) ketimbang nasi goreng Suroboyoan (duk duk duk). Lebih dekat dengan lidah Sumatera sepertinya.