“Dan, kulihat banyak juga orang seperti itu. Bila ada orang yang terbuka, sungguh aku sangat menghargainya. Tapi, aku kurang begitu suka bila ada yang memaksa aku untuk keluar dari zona nyaman ku.”

Kutipan dari blog seorang rekan diatas, sengaja saya sajikan sebagai appetizer topik ini. Tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar lebih berasa realita.

Zona Nyaman, Apakah itu? Pertama kali mengenal istilah ini saya kira ini semacam tempat seperti Taman Menteng atau Lapangan Banteng. Seiring makin populernya istilah ini, makin pahamlah saya bahwa ini tempat ternyata bukan lapangan hijau dimana banyak anak-anak bermain, dan orang dewasa tidur-tiduran dibawah rimbunnya pepohonan.

Kalau menurut Bank AI, konon yg disebut Comfort Zone alias Zona Nyaman ini adalah suatu kondisi di mana seseorang merasa aman dan nyaman dengan keadaan yg dimilikinya saat ini sehingga tidak ingin dan takut untuk berubah.

Tapi di ranah yang lain saya juga menemukan varian baru terhadap makna Zona Nyaman ini. Istilah Zona Nyaman dalam konteks ini malah lebih sering muncul ditempat-tempat yang tidak kasat mata, seperti pada pembicaraan mengenai budaya, etnis, agama atau kelompok (saya tidak mengaitkan SARA disini).

Ini lazimnya ditemui di internet (katakanlah Blog). Dengan memakai Blog sebagai Zona Nyaman, pemiliknya (biasanya anonimouz) bisa dengan semena-mena melempari orang lain dari dalam pagar wilayahnya. Ketika ditanya kenapa ybs menyamarkan diri, umumnya akan menjawab “buat apa saya terbuka kalau saya merasa terancam, dimata-matai, dibunuh, dsb”. Pepaya dibelah-belah, Yaa iyaa lah😀 , orang kerjaannya ngusilin orang mulu. Dimana-mana juga orang seperti itu akan merasa terancam. Saya garis bawahi kata terakhir, karena itu sebenarnya hanya perasaan orang usil tersebut saja. Ini identik dengan kasus maling yang merasa dikejar-kejar polisi. Bahkan ketemu polisi lalu lintas pun dia merasa GR, bahwa dialah yang dicari.

Ahh, apapun itu, sepertinya “Zona Nyaman” jenis kedua ini lebih banyak dibangun diatas areal yang sempit dengan dinding prasangka mengelilinginya.

Omong-omong, saya tidak munafik juga, saya juga punya zona nyaman sendiri sebagai orang melankolis, yaitu suka berdiri dipinggir keramaian, berusaha untuk tidak terlalu menarik perhatian dan terobsesi untuk invisible😀 .

Any comments?