Anda termasuk kalangan yang sering pulang-pergi ke wilayah Banten dengan kendaraan umum? Ke Tangerang, Cikokol, Cimone atau Ciledug misalnya. Ada hal menarik yang tak bisa saya luputkan dari amatan saya dalam perjalanan pulang pergi ini. Yak, betul, yaitu suguhan pengamen jalanan yang kentara sekali rasa religinya.

Kadang kala saya bertemu dengan penyanyi qasidah yang melantunkan qasidah, shalawat dan nasyid dengan cukup merdu dan durasi yang lama. Kali lainnya saya disuguhkan khotbah oleh pengkhotbah yang asyik sendiri dengan khotbah dan puisinya (juga dengan durasi yang tidak kalah lama). Kali lainnya lagi, saya berjumpa (yang ini saya tidak tahu seni jenis apa😦 ) penampil yang membawakan puisi plus alunan seruling dengan style mistik yang mengingatkan saya kepada seniman Sujiwo Tejo atau malah Ki Joko Bodo.

Kembali ke Laptop!, rasanya tidak ada yang salah dengan fenomena ini, mengingat Banten (seperti halnya Manokwari di Papua Barat) memang kental sekali dengan simbolisasi religi (misalnya neonbox Asmaul Husna dipusat kota yang dipaksa bersaing dengan iklan rokok). Cuma saja tetap ada rasa yang janggal ketika saya menjumpai corak seperti ini. Terlebih lagi setelah saya cermati (semoga saya salah), terjadi semacam perebutan ruang publik (yang plural) oleh para pengkhotbah dan penyanyi qasidah ini.

Tidak saya pungkiri, kedua jenis entertainer ini punya segmentasi konsumennya masing-masing. Tapi alangkah elok rasanya jika “hiburan” ini disajikan diruang privat saja (untuk kalangan sendiri), toh tempatnya juga sudah ada. Koq rasanya ada hawa sedikit panas menyeruak dalam aroma perebutan ruang publik ini.