Ganti rugi sosial? Wacana apa lagi ini? Begitu komentar saya pertama kali ketika membaca satu artikel yang berjudul “Mereka Tetap Ingin Bersama” di halaman depan harian Kompas Sabtu 26 Mei 2007 lalu. Namun setelah saya baca sampai tuntas, terbitlah rasa kagum saya yang luar biasa terhadap kaum yang menyuarakan istilah ganti rugi sosial ini. Dalam hati saya berpikir, mereka inilah “the Genuine of Indonesian society”.

Lho, bagaimana bisa? Begini ceritanya.

Hikayat berawal dari kejadian luar biasa setahun lalu, yang dalam beberapa hari lagi memperingati hari jadinya yang pertama. Ya, ini cerita terkait dengan Legenda Luberan Lumpur Lapindo Porong (L4P) yang sangat fenomenal itu. Ternyata, tak semua pengungsi korban lumpur Lapindo ini bersedia menerima uang kontrak rumah. Ada sekitar 906 keluarga (3.133 jiwa) yang memilih untuk menolaknya, dan tetap bertahan di pengungsian Pasar Baru Porong.

Apa pasal? Cari sensasikah mereka (seperti trend jahit mulut dikalangan aktivis sekarang ini) ? Ternyata tidak rupanya. Bagi mereka, harta tak ternilai yang mereka miliki tak sebanding harganya jika digantikan dengan uang kontrak rumah sebesar 5 juta rupiah untuk 2 tahun ditambah uang cash ganti rugi rumah dan lahan. Mereka lebih memilih untuk tetap tinggal bersama dalam komunitas sosialnya.

Salah satu dari mereka menceritakan kenangan semasa desa mereka belum tenggelam. Semua warga bagaikan bersaudara, kerja bakti sering dilakukan, kalau ada warga yang kesulitan tetangganya sering membantu dan tiap tahun selalu digelar syukuran pada setiap panen pertama.

Keakraban seperti inilah yang tidak dapat mereka relakan menjadi kenangan saja. Mereka tetap ingin melestarikannya sebagai status quo dan zona nyaman mereka. Bahkan bagi sebagian dari mereka, keakraban inilah yang menjadi obat stres ketika ganti rugi rumah dan lahan mereka tak kunjung dibayarkan.

Lalu sejatinya, apa permintaan mereka? Nah ini dia yang beda sendiri. Mereka meminta ganti rugi sosial berupa sebidang tanah seluas 30 hektar diwilayah Pandaan, Kabupaten Pasuruan, dimana mereka dapat pindah bersama-sama dan membangun kembali komunitas sosialnya. Kembali berkumpul dan melestarikan kohesi sosialnya yang tinggi, kembali bertani seperti dulu dan tentu saja lengkap dengan syukuran panen perdana di setiap tahunnya. Ironisnya sampai sekarang permintaan mereka yang sebenarnya sederhana ini masih belum digubris oleh pihak Lapindo Brantas Inc.

Mencermati hal ini saya berpikir, pada hakikatnya yang diperjuangkan sebagian warga Renokenongo ini adalah jati diri bangsa. Yang bagi sebagian kita sudah terlalu lama kita lupakan (dengan sengaja). Mungkin film Nagabonar(3) bisa mengingatkannya kapan-kapan.