Yogyakarta medio Juni 2001. Tidak berapa hari lamanya setelah saya menjejakkan kaki di Bumi Mataram

Maryoto : kamu darimana Mas?

Fadli : dari Sumatera Barat Pak.

Maryoto : Oo, Padang.

Fadli : bukan Pak, bukan dari Padang tapi dari Pariaman

Maryoto : iya, Padang juga itu.

Fadli : ???

Secara saya orang kampung nan lugu dan baru sekali itu keluar daerah, saya dibikin bingung oleh ucapan Pak Maryoto (nama sebenarnya). Lha kok Pak Maryoto ini sedemikian ngototnya mengklaim Pariaman sebagai Padang juga, padahal tentu lebih mengerti saya mengenai batas-batas dua daerah itu, lha wong saya yang bertempat tinggal disana je.

Makin hari makin banyak saya temui istilah-istilah janggal seperti bahasa padang, tari padang atau baju padang. Lho lho lho, istilah dari mana ini padahal sebatas pengetahuan saya waktu itu yang ada hanyalah Bahasa(Baso) Minang atau Tari Minang.

Ketika saya ditanya “kamu orang mana?”, saya jawablah pertanyaan itu “saya orang Minang” karena menurut terjemahan saya pertanyaan ini bertujuan untuk mengetahui etnik saya, bukan asal saya (seperti pertanyaan kamu darimana). Orang yang bertanya (kebetulan) bingung, dan balik nanya lagi “di mana itu?”. Sumatera Barat jawab saya. “Oo, bilang aja orang padang” kata sang penanya lagi. Kali ini saya yang dibikin bingung, kenapa padang demikian populernya. Apa perantau Minang itu mayoritas orang Padang, pikir saya dengan lugunya.

Dan sekarang setelah enam tahun berlalu tentu saya sedikit banyak sudah tahu kenapa jadi seperti itu kasusnya. Sayapun mulai membiasakan diri untuk memperkenalkan diri sebagai “orang padang” dan membiasakan telinga saya dengan istilah padang pariaman, padang bukittinggi, padang solok atau padang kota.

Tapi saya tergelitik juga untuk mencoba meluruskan kerancuan-kerancuan istilah ini. Sekedar untuk memperkenalkan diri, bukan bermaksud mengkampanyekan politik identitas. Toh, saudara-saudara saya dari etnik Tionghoa juga sering menyuarakan bahwa mereka lebih senang disebut sebagai orang “Chainis” (Chinese) ketimbang Cina yang menurut tafsiran mereka berkonotasi merendahkan (konfirmasi : di Sumatera Barat etnik Tionghoa rata-rata tidak berkeberatan disebut sebagai Cino).

Kembali ke soal istilah Padang yang meng-overwrite istilah Minang ini, setelah saya telusuri penyebabnya ternyata dimulai oleh orang Belanda (walaupun ada yang berpendapat ini terjadi karena menjamurnya rumah makan padang yang mempopulerkan Masakan Padang). Dalam usahanya menguasai Ranah Minang, Belanda pada awalnya (sekitar 1600-an) menancapkan kaki di Padang, bersaing dengan pedagang-pedagang Aceh dalam berebut kekuasaan. Lambat-laun Belanda berhasil juga menguasai seluruh wilayah Padang. Wilayah yang mereka sebut sebagai residensi “Padangsche Benedenlanden” ini kemudian meluas ke seluruh wilayah pesisir Konfederasi Minangkabau. Pariaman, Ranah Pesisir Selatan sampai Sibolga di Sumatera Utara secara administrasi kolonial termasuk kedalam residensi ini. Sedangkan wilayah Alam Minangkabau (Dataran Tinggi Minangkabau) masih berdaulat dengan sistem Konfederasi Nagari-nya.

Pasca Perang Paderi dimana Belanda sebagai pemenangnya, kekuasaannya meluas sampai ke Dataran Tinggi Minangkabau, dan daerah baru ini secara administrasi mereka sebut sebagai residensi “Padangsche Bovenlanden”. Jadilah seluruh Konfederasi Minangkabau baik Benedenlanden (pesisiran) maupun Bovenlanden (dataran tinggi) resmi memakai istilah Padangsche buatan Belanda. Status Quo ini berlangsung cukup lama (100-an tahun lebih) sehingga istilah Sumatera Westkust (sebutan untuk kedua daerah) yang muncul kemudian tidak sanggup menenggelamkan istilah Padangsche. Namun orang Minang sendiri saat itu tidak ambil pusing dengan istilah bikinan Belanda ini. Karena mereka lebih terikat pada nagari-nya, umumnya diluar daerahnya mereka memperkenalkan nama nagari atau federasi nagari nya sebagai daerah asal, walaupun nagarinya tersebut hanyalah sebuah daerah pelosok. Contohnya H.Agus Salim yang lebih dikenal berasal dari Koto Gadang ketimbang Bukittinggi (kebetulan nagarinya memang terkenal).

Namun tentu saja istilah resmi pemerintah (kolonial) lebih populer dimata masyarakat luas, terutama diluar wilayah Minangkabau. Kasus ini sama seperti penggunaan istilah Ujung Pandang terhadap kota Makassar atau Irian Jaya terhadap Papua semasa Orba.

Kembali ke persoalan setelah berpanjang-panjang membicarakan sejarah, tentu saya akan memberikan kesimpulan akhir mengenai istilah-istilah tadi. Penjelasan akan saya kelompokkan berdasarkan istilahnya.

  1. Padang adalah nama daerah/kota di Sumatera Barat. Orang Padang artinya orang yang berasal dari Kota Padang. Istilah Padang juga lazim digunakan untuk trademark seperti masakan padang, nasi padang, soto padang atau ketupat padang. Atau bahkan sindikat padang😀
  2. Minang adalah nama etnik, analog dengan Sunda atau British. Minang juga merujuk pada bahasa, analog dengan English.
  3. Minangkabau atau Ranah Minang adalah wilayah tempat asalnya etnik Minang, analog dengan Pasundan atau England.

Cukup jelas bukan 🙂 . Tapi saya sendiri tidak akan se-strict itu mengkampanyekan istilah ini. Ketika saya memperkenalkan diri bahwa saya berasal dari Sumatera Barat / Minangkabau, dan orang berkomentar “Oo, orang Minang” dalam hati saya berbisik “Alhamdulillah ada yang faham”, dan ketika orang berkomentar “Oo, orang Padang” dalam hati saya berbisik “Alhamdulillah, masih punya identitas”😀 .