Masih belum selesai ribut-ribut soal penarikan sebagian buku teks Sejarah Indonesia dari peredaran. Saya sendiri merasa heran awalnya, apa pasal buku-buku itu mendapat label haram dari Depdiknas sehingga harus segera diasingkan dari khalayak. Ternyata cuma gara-gara satu potong kata yang terdiri dari tiga huruf yaitu “PKI”. Lho ada apa dengan PKI? Bukankah kita sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Bahkan menonton film horor politik berjudul Pengkhianatan G30S/PKI yang berdarah-darah itu adalah agenda wajib kita dizaman Jenderal Soeharto dulu. Saat ini kita malah seakan-akan rindu dengan agenda tahunan yang sudah 8 tahun menghilang ini.

Kembali ke Laptop! Ternyata kata PKI ini pada buku teks yang ditarik tidak disandingkan lagi dengan pasangan setianya yaitu “G30S” atau Gestok dalam istilah Ir. Soekarno. Para “elit sejarah” merasa khawatir sejarah nasional kita akan menjadi kabur kedepannya, sehingga warna yang dominan hanya abu-abu saja. Tidak kelihatan hitam diatas putih dan tidak lagi ada tanda seru (!) Semuanya didominasi tanda tanya (?).

Lepas dari soal G30S(PKI) saya hanya berkomentar “ Hei bung! Harre gene?”. Komentar yang aneh😀 . Lha iya, saya pikir sudah lewat masanya kita menganggap sejarah sebagai kitab suci yang wajib dipercaya dan mengandung kebenaran tunggal serta haram hukumnya untuk dipertanyaken apalagi dipersoalken. Indonesia ini umurnya sudah berapa lama toh? Kalau tidak salah baru sekitar 60-an. Pelaku sejarahnya saja masih banyak yang berdiam di sekitar kita, siap untuk menceritakan memori yang pernah dialaminya.

Sekali lagi saya berkomentar “ Hei bung! Harre gene?”. Indonesia itu merdeka tahun 1945. Pada dekade itu orang sudah mengenal media massa, koran ada dimana-mana, radio sudah mengudara, film juga sudah banyak yang beredar dan televisi lagi lucu-lucunya (walaupun bukan dinegara kita). Bahkan rekaman pidato Bung Tomo terkait peristiwa Surabaya 10 November 1945 pun lazim kita tonton saat ini setiap tujuhbelasan. Lebih uzur lagi, film bisu mengenai Kota Batavia pada tahun 1920-an juga dapat dengan mudah kita cari di internet.

Sungguh, Sejarah Indonesia modern tiada tertulis diatas prasasti dengan aksara pallawa dan bahasa sansekerta, sehingga perlu pakar linguistik untuk menerjemahkannya. Sungguh, Sejarah Indonesia modern tidak pula ditemukan didinding-dinding gua dengan tulisan hieroglyph sehingga apa kata penerjemahnya, itulah yang dipercaya sebagai kebenaran mutlak. Indonesia merdeka jauh setelah zaman prasejarah berakhir.

Kenapa tidak kita perlakukan saja sejarah itu sebagai fakta sederhana, kebenaran relatif atau malah reality show. Kita masih ingat pada periode yang sama juga terjadi banyak peristiwa-peristiwa yang menyedot perhatian diluar negara kita. Ada kisah penembakan Mahatma Gandhi, Neil Amstrong yang katanya menjejakkan kaki di bulan, penembakan John F. Kennedy, kemenangan petinju Mohammad Ali, Perang Vietnam lengkap dengan Rambo nya sampai kepada kisah perjuangan Nelson Mandela. Semua kisah diatas dan fakta-fakta yang mengelilinginya tersaji begitu sederhana selayaknya berita Liputan6.

Lalu apa pasal untuk negara kita tercinta ini kita harus menuliskan standar baku soal G30S(PKI), Dekrit Presiden Ir. Soekarno 5 Juli 1959 atau bahkan peristiwa PRRI/Permesta yang demikian kompleksnya, sehingga cukuplah diterjemahkan sebagai pemberontakan separatis dalam bahasan 2 halaman saja.

Hei bung! Harre gene?”. Menurut hemat saya, Anda-Anda yang terhormat hanya buang-buang waktu saja dan sembari buang-buang waktu banyak pihak akan mencibiri Anda. Kalau metodologi berpikir seperti itu, apa yang akan Anda tuliskan mengenai peristiwa gonjang-ganjing politik 1998, apa yang akan Anda tuliskan mengenai konspirasi Poros Tengah, apa yang akan Anda tuliskan mengenai Dekrit Presiden KH. Abdurrahman Wahid dan apa yang akan Anda tuliskan mengenai perdamaian GAM dengan Pemerintah RI. Sementara rekaman-rekaman peristiwa itu terdokumentasi dengan sangat baik oleh selusinan stasiun TV dalam negeri.

Cukuplah sudah buku sejarah didominasi sejarah militer. Cukup sudah saya saja yang merasakan betapa konyolnya menghafalkan tanggal-tanggal batalyon anu atau kompi anu merebut kota anu. Cukuplah Nugroho Notosusanto menjadi ahli kitab sejarah pada zamannya.

Zaman keterbukaan informasi tidak akan dapat Anda-Anda lawan dengan menuliskan standar baku versi Anda. Pengamat realita sangat banyak, dan sekarang mereka (sendiri atau dengan pertongan orang lain) leluasa menceritakan dan menuliskan amatan mereka di website, milis-milis, forum-forum, blog, jurnal dan banyak lagi jenis media. Dan mereka tidak terobsesi mengklaim tulisan atau kesaksian mereka sebagai sejarah. Mereka mengomentarinya seperti halnya mengomentari berita atau tayangan reality show.

Mungkin saat ini konsumen Anda masih ada di wilayah-wilayah yang belum terjangkau akses informasi. Tapi percayalah, lambat-laun mereka semua akan tercerahkan dan kemudian menentukan sendiri apa yang akan mereka percaya dan apa yang tidak. Logika mereka akan dengan senang hati memandu mereka. Kepercayaan mereka akan bersifat personal sehingga dapat saja bervariasi satu sama lain. Dan Anda tidak akan kuasa lagi menyeragamkannya.