Di rumah, Januari 2006, Menjelang Lebaran Haji

Fadli : Bu, Aneh betul yaa orang Jakarta itu, masak orang naik haji aja bangganya minta ampun. Babe Sabeni aja pas si Doel jadi tukang insinyur ga segitunya.

Ibu : Hush, emang kamu tahu darimana, nggak baik ngomong begitu.

Fadli : Itu loh Bu, di sinetron Maha Kasih yang “Tukang Bubur Naik Haji” itu ceritanya begitu.

Ibu : Halah kamu, kecanduan sinetron, paling itu juga di tambah-tambahi.

Di Jakarta, Februari 2006, Lagi ngobrol-ngobrol sama Ibu Kost

Ibu Kost : Jadi orang tuanya kerja apa dikampung?

Fadli : Ayah saya pensiunan PNS, Ibu yaa dirumah aja, ibu rumah tangga.

Ibu Kost : Oo, sudah naik haji belum?

Fadli : Belum Bu, insya Allah saya aja yang haji in nanti

Ibu Kost : Oo, bagus itu. Klo saya sih naik hajinya tahun 98 kemarin, duit taspen tapinya. Jadi ceritanya Pak Haji itu “ngikut saya”

Fadli : Pak Haji siapa ya Bu?

Ibu Kost : Suami saya, Pak Haji Sumarto

Fadli : Ooo (dlm hati : repot amat, timbang bilang suami aja dari tadi)

Ibu Kost : Sodara-sodara saya juga sudah haji semua, yang di rumah tingkat di belokan itu, oo yaa yang di Rawasari juga udah, bareng istrinya juga. Truz yang di … bla bla bla …

Fadli : ???

Di Jakarta, Hari yang sama pada malam nya (lewat telpon)

Fadli : Bu, itu cerita tukang bubur ternyata beneran lho. Aku nemuin sendiri.

Ibu : Tukang bubur yang mana?

Fadli : Itu lho yang diceritain di Maha Kasih pas lebaran haji kemarin

Ibu : Oo, masa sih? Kapan kamu ketemu sama tukang buburnya?

Fadli : Aduh Bu, bukan itu maksudnya. Itu lho soal Dinasti Haji itu, yang satu keturunannya Haji semua. Ibu Kost aku ternyata golongan itu juga.

Ibu : Wah baguslah, emang ada yang aneh gitu?

Fadli : Hajinya sih nggak aneh, narsis nya itu lho Bu, norak banget ga sih.

Ibu : Halah kamu, gitu aja dipikirkan. Biarin aja, dia dia, kita kita.