Seperti yang sudah saya duga, di perempatan Pancoran naiklah kembali para pengamen pelantun qasidah dan shalawat yang biasa saya temui setiap hari pas berangkat kerja. Tapi hari ini saya agak kaget, kalau kemarin-kemarin itu artisnya berwajah sejuk dan bertampang ikhwan lha koq sekarang aneh sendiri. Yang naik ini 3 orang, wajahnya masih menyisakan raut-raut kesangaran, dan kalau tidak salah saya sebelumnya juga sudah pernah bertemu mereka (tentu saja bukan dalam “wujud” yang sekarang).

Mereka segera melantunkan shalawat yang tidak jelas betul pengucapannya. Rebana dipukul-pukul sekedarnya dengan botol minuman obat panas dalam dengan diiringi gitar kecil berdawai kendur. Kopiah/songkok khas santri dipakai lengkap dengan celana cingkrangnya (hanya kurang jenggot saja😀 ). Perlahan saya perhatikan (dari bangku belakang yang tinggi), ibu-ibu (berkerudung) mulai mengeluarkan uang seribuan. Satu orang, dua orang, …, lima orang. Binar senyuman tak dapat mereka sembunyikan dari wajahnya. Dan segera setelah itu mereka mengumpulkan rezeki pagi itu.

Saya tidak sedang sirik dengan mereka. Toh mereka mencari rezeki dengan cara yang halal, bukan dengan mengancam (seperti sebelumnya). Dan beruntungnya aliran yang mereka bawakan pagi ini memang lagi banyak peminatnya. Rating nya pun tinggi seperti sinetron-sinetron “religi” di televisi. Memang masyarakat kita saat ini sedang dahaga religi. Dan tidak ada salahnya kalau mereka beralih profesi melihat keadaan itu. Yaah, mudah-mudahan juga mereka benar-benar insyaf.