Bukan karena latah saya ikut-ikutan membuat tulisan ini, tapi sekadar mencermati dari sudut pandang lain yang lebih luas, lalu mencoba mengambil kesimpulan. Menarik benang merah dan membuat generalisasi. Dan tentunya tanpa mengabaikan fakta-fakta empirik.

Kasus apakah ini? Apalagi kalau bukan kasus nomor 2 tenar setelah NT2007, yaitu kasus proklamasi kematian seorang seleb. Dengan mengenyampingkan dugaan bahwa hal ini hanyalah sebuah eksperimen sosial sang seleb dalam mencapai taraf pendewasaan tertentu, saya dari jauh mengamati ini semua tak lebih hanya sekedar fenomena kontroversi yang (maaf) sudah teramat basi.

Bukan, bukan. Bukan seleb ybs yang saya klaim basi, tetapi fenomena kontroversi ini. Cobalah tengok kembali, masalah apakah gerangan yang paling banyak dibicarakan. Dengan segera pikiran kita akan melayang kepada cerita Kenapa Harus Inul, Boomingnya Tukul, Dekrit Gusdur, Balada Aa Gym dan rupa-rupa kasus yang sejenis. Terakhir yang paling gress adalah soal kasak-kusuk Pak Amien dan Pak Beye.

Apa itu kontroversi? Yang jelas saat ini saya sedang tidak memegang kitab suci KBBI, namun secara orang lugu saya menerjemahkan kontroversi adalah suatu peristiwa atau cerita dimana terdapat kalangan yang pro dan kalangan yang kontra. Ada pendukung dimasing-masing pihak, ada penggembira, ada penonton, ada pengamat.

Ketika kontroversi disajikan dalam sebuah reality show, penonton dan pengamat yang tadinya berada di wilayah netral pun berkemungkinan tersedot kesalah satu kubu. Turut pula meluangkan emosinya disana. Turut merasa bahwa dia mewakili aktor-aktor dalam panggung kontroversi. Banyak contoh yang teramat sering kita lihat. Dari AFI, KDI, API sampai Idol. Simon Cowell, Mutia Kasim adalah tokoh-tokoh kontroversial dalam arena itu. Kita dibuat suka, dibuat benci dan yang pasti dibuat larut didalamnya. Dalam ingatan saya ada satu reality show bagus di ANTEVE beberapa tahun lalu yang menyuguhkan kontroversi secara vulgar. Judulnya Penghuni Terakhir. Anda tentu masih ingat dengan slogan Anti Pemasungan yang tiba-tiba jadi populer di telinga publik. Tokoh Mbak Surastilah pun tiba-tiba jadi beken karena seringnya diteriakkan salah satu peserta kontroversial di acara itu.

Kembali ke fenomena sang seleb, kita tentu sadar sekarang betapa piawainya sang seleb dalam mengemas kontroversi jadi reality show (bahkan kematiannya sendiripun disulap menjadi kontroversi). Penonton dibuatnya keranjingan menyambangi panggung kontroversinya tiap hari. Bahkan sekedar untuk titib absen saja. Luar Biasa! Salut! Reality Show yang disajikan benar-benar memukau, seluruh penonton berpartisipasi aktif. Ada yang mendukung ada yang mencela, ada juga yang cuma mengamati. Kursi panggung penuh terisi (bahkan ada yang rela gelar tikar segala). Reality Show sejati ini benar-benar bikin ketagihan.

Sang seleb paham betul kodrat masyarakat. Yang sepanjang masa menggilai topik-topik kontroversi. Cerita-cerita pertentangan sudah sangat akrab ditelinga kita, bahkan sudah sangat tua. Setua cerita pertentangan dua kerajaan dalam Mahabharata. Semua penonton larut dalam reality show sang seleb. Dahaga mereka(kita) benar-benar terpuaskan. Lalu …

Lalu ya seperti yang sudah-sudah. Ending sebuah kontroversi tiada lain adalah kejenuhan. Ia seperti segelas jus melon disiang hari. Kalau nekat meminumnya setelah dahaga hilang, alamat perut akan kembung.

Cuma bedanya disini adalah sang seleb yang pertama kali merasa jenuh dengan reality shownya. Padahal para penonton masih pengen. Penonton masih merindukan episode dua, tiga, empat dst. Maka dibuatlah panggung baru setelah gegap gempita kematian sang seleb. Penonton masih belum jenuh. Masih jauh, masih jauh, masih jauh. Sampai suatu saat penonton juga jenuh.