You are currently browsing the monthly archive for June 2007.

masakan_padang.jpg

Cerita yang satu ini sudah sejak lama saya dengar. Namun berhubung saya orang Minang yang terbiasa tidak reaktif dalam menanggapi isu-isu seputar etnik, khabar burung ini biasanya saya diamkan saja. Sama seperti saya mendiamkan kasak-kusuk seputar laki-laki Minang yang tidak berkuasa di kampung halamannya, atau laki-laki Pariaman (kebetulan saya juga) yang dibeli sama istrinya. Saya terlalu malas untuk menanggapi banyolan-banyolan yang saya klaim bodoh itu.

Alasannya, pertama sebagaimana kebanyakan orang Minang, mereka tidak mengenal kata haram dalam aktivitas otokritik (mengkritik diri sendiri). Maka irrasional jika marah kalau ada orang luar Minang ikut-ikutan mengkritik. Kedua, saya yakin jika yang mendengar isyu maupun melempar isyu mau saja sedikit berusaha mencari fakta, pasti keyakinan mereka akan berubah.

Jadi ceritanya, suatu malam saya sedang makan nasi goreng di angkringan depan Patrajasa. Sambil makan saya mencuri dengar obrolan seorang pegawai rumah makan padang (yang kebetulan juga orang Minang) dengan pemilik angkringan nasi goreng. Dia yang menurut saya cukup cerdas, tiba-tiba mengeluarkan celetukan “tapi ada juga lho rumah makan padang yang pakai ganja dan magic, kalau saya sih tidak macam-macam”. Nah loh? Begitu mendengar yang ngeluarin opini adalah orang Minang sendiri, saya sedikit terkejut. OK, kalau dia sedang melakukan tradisi otokritik saya tidak ambil pusing. Namun isi otokritiknya itu menurut saya sangat diragukan kebenarannya (menurut saya lho 😀 ).

Saya tidak habis pikir mendengar opini yang saya dengar itu. Disatu sisi, bisa jadi itu benar karena yang berbicara adalah pelaku usaha sendiri. Dan jika itu memang benar berarti saya wajib memasukkannya sebagai fakta empirik dalam database saya, dan haram hukumnya saya memicingkan mata. Namun logika saya pada tingkat yang paling sederhana memberontak untuk menolaknya. Pertanyaan skeptis saya sederhana saja. Untuk apa pakai ganja?

Biar enak? Lho memangnya ganja itu enak. Biar ketagihan? Ini lebih aneh lagi, sebab kalau logika ini yang dipakai, saya boleh juga dunkz menuduh Starbucks diraciki ganja. Setahu saya efek ganja (menurut wikipedia) adalah rasa gembira yang berlebihan, hilangnya konsentrasi dan malas. Saya belum pernah menemukan orang yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak tanpa alasan setelah makan nasi padang. Pun belum pernah menjumpai orang yang teler setelah makan nasi padang. Cuma kalau efek malas saya sering menjumpai, namun menurut saya ini karena kekenyangan 😀 .

Entahlah sampai kapan isyu ini akan beredar. Setelah menulis postingan ini saya akan kembali ke sikap awal saya, yaitu mendiamkannya. Toh, kalau ada yang masih penasaran gampang saja untuk membuktikannya. Belilah sebungkus nasi padang yang dicurigai, lalu minta tolong periksakan ke Badan POM. Beres kan 😀

Advertisements


vcd-giant_2.jpg

Pagi ini akhirnya saya bisa merasakan bagaimana menderitanya Nobita, Suneo dan Shizuka ketika dipaksa menonton konser Giant. Suara emas Giant pagi ini hadir dalam penampakan nyata lewat seorang “seniman bus kota” yang naik di perempatan Pancoran. Saya sebagai pengamat dan objek penderita berada diatas bus P46 (Kampung Rambutan – Grogol). Giant berdiri menghadap saya dalam jarak sekitar 80 cm.

Pria tambun berkulit gelap yang tampak sehat wal afiat ini, total menyita perhatian saya sekurangnya selama 15 menit. Tiga lagu yang sangat menyiksa ia lantunkan dalam bus kota yang merayap dalam kemacetan yang padat di ruas Gatot Subroto antara Pancoran dan Kuningan. Dengan suara kualitas TOA-nya, ia begitu digdaya menyiksa penumpang bus kota. Saya sendiri beberapa kali memicingkan mata ketika ia memaksakan diri mencapai nada tinggi dalam sebuah lagu. “Mengapa… oh mengapa, aku tak berdaya”, begitulah salah satu cuplikan lagu Broery yang dibawakannya. Dalam hati saya meneruskan, “mengapa engkau harus hadir di dunia?”. Pada lagu ketiga (Kasih Tak Sampai – Padi) ia mulai tumbang pada potongan “tetaplah menjadi bintang dilangit …”. Pria tambun itu tersedak dan batuk-batuk tersengal. Penonton tertawa. Saya mengucap syukur :mrgreen:

Dalam hati saya benar-benar mempertanyakan motivasinya mengamen, apakah dia sengaja menciptakan situasi yang tidak nyaman. Sebab dalam pengamatan saya, sejauh ini memang ada dua tipe seniman bus kota. Jenis satu benar-benar jual suara, jenis kedua adalah sebaliknya. Penumpang ingin segera memberi recehan untuk mengakhiri penderitaan.

Di perempatan Kuningan Giant turun. Semua penumpang menarik napas lega.

Akhirnya saya berkesempatan lagi menulis, setelah hampir sepuluh hari berkutat dengan pekerjaan. Dalam sepuluh hari itu, lama saya merenung memikirkan topik apa yang akan saya angkat. Berulang kali saya menulis sampai dua atau tiga paragraph, namun selalu berakhir dengan CTRL+A, DEL. Atau malah tidak jarang ketika saya nekat melakukan SAVE, satu menit kemudian saya melakukan klik, SHIFT+DEL. Ternyata saya juga munafik, tidak bisa memegang janji sendiri untuk tidak menulis jika tidak ada bahan. Sampai akhirnya saya teringat dengan petuah guru bahasa indonesia saya.

Saya berpikir, mungkin karena sibuknya pekerjaan, saya tak sempat lagi memperhatikan hal-hal kecil yang berharga, yang kadang saya temui diperjalanan, dan tidak jarang berbuah inspirasi tulisan saya. Hari ini, saya sempatkan berjalan-jalan di negeri blogger. Sering terpikir membuat satu postingan karena terinspirasi postingan teman, namun saya segera sadar, kalau saya melakukannya, berarti saya telah menyerah pada prinsip saya sendiri, untuk membuat tulisan yang se-original mungkin, paling tidak dari sisi sudut pandang. Sering pula saya terkadang kecewa (walaupun saya tahu saya tidak ada hak untuk kecewa dalam konteks ini) ketika menemukan, ide yang telah saya pendam-pendam, ternyata telah pernah dibahas orang. Salah satunya soal iklan paradox yang dilakukan perusahaan rokok Djarum dengan jargon “bhakti lingkungannya”.

Perjalanan ke-negeri blogger saya akhiri pada sebuah blog seleb yang dulu hampir tiap hari saya kunjungi. Penulisnya sangat terkenal (kebetulan salah seorang kakak kelas saya waktu kuliah). Sepintas saya lihat tidak ada yang berubah (mungkin bagi pengunjung lain ada yang melihat perubahan). Dalam pengamatan saya, ide dasarnya sangat bersahaja. Blog sang seleb itu sejatinya hanya berupa diary tentang mimpi dan cita-cita. Kalau sedikit di fokuskan mungkin saya menyimpulkan mimpi dan cita-cita seorang laki-laki. Itu sudah cukup fokus menurut saya, karena parameter ruang dan waktu sifatnya konstan. Namun karena mimpi dan cita-cita (laki-laki) itu seringnya bersifat universal, maka dengan sendirinya ia menjadi dekat dengan mimpi dan cita-cita semua orang (laki-laki).

Apa itu? Tidak lain adalah pameo purba yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Yaitu Harta, Wanita dan Tahta. Berani sekali saya mengambil kesimpulan seperti itu? Apakah saya terlalu sok akrab dengan sang seleb sehingga lancang memberi label. Oh, tidak kebetulan sang seleb cuma satu dari sekian fakta empirik yang telah saya kumpulkan, sehingga membuat saya berani untuk menarik generalisasi.

Harta, Wanita dan Tahta. Dalam kamus modern, wa bil khusus dalam kasus anak muda kuliahan yang berjuang mengadu nasib di Jakarta akan menjelma jadi berbagai aktivitas seru. Pada tahun-tahun pertama, ia akan malih rupa menjadi perjuangan mencari pekerjaan yang bonafid, paling tidak gaji (materi) menjadi parameter utama. Anak muda akan berusaha untuk lebih dan lebih dari kompetitornya (katakanlah orang-orang yang dia daulat secara sepihak sebagai kompetitornya, misalnya rekan kerja atau teman kuliah). Selanjutnya ia mulai terpikir berumah tangga, mulai memfokuskan diri untuk mencari wanita baik-baik, dengan standar yang berbeda dari masa pacaran dulu. OK, yang barusan terkabul. Maka selanjutnya ia mulai memikirkan rumah, mobil, asuransi, reksadana, investasi dan segala macam rombongannya. Sudah cukup? Tentu saja belum, ia mulai berpikir untuk berkuasa (katakanlah untuk scope tertentu). Ini bisa dimulai dengan membangun networking, mencari backingan dan lain-lain cara yang terbukti ampuh.

Lalu akan kemana semua bermuara? Kalau dilihat trend sekarang yang paling banyak adalah menjadi pengusaha sekaligus penguasa (dalam spektrum yang cukup luas). Barangkali itu yang didamba. Namun apa setelah yang tiga itu? Saya khawatir jangan-jangan hal yang keempat adalah Lupa. Fitrah manusia yang paling purba. Terlena dengan semuanya.

Siapa yang sedang saya bicarakan. Saya sedang membicarakan Anda, mereka dan orang yang senantiasa saya lihat didalam cermin ketika saya akan berangkat bekerja.

Dear tEmAn-2, 

Senin, 25 Juni 2007,

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

akan diselenggarakan di kantor Encrypted Indonesia, ( PUNCAK JAYA ROOM )

Khusus untuk hari tersebut, mohon perhatiannya untuk menggunakan dress-code formal dan mohon bantuannya untuk menjaga kerapihan dan kebersihan tempat kerja masing2 ya, karena rencananya akan ada tinjauan ke lokasi kerja masing2.

Malu donk kalau berantakan… 😀 

Hari ini, selain mengerjakan tugas hari-hari seperti biasa, teman2 diharapkan untuk mulai rapi2 dan bersih2.

Sore hari, rencananya akan ada pengecekan untuk kerapihan dan kebersihan.

Masukan akan langsung diberikan untuk area yang dinilai kurang rapi 

(Malu juga kan kalau kena teguran) 

Yux sama2 berbenah

 

Pesan dari management:

Baiknya kerapihan dan kebersihan selalu kita jaga, tidak saja pada saat ada yang mengecek, tapi untuk seterusnya. 

Let us make encrypted a better place to work for all of us

 

Thank You & Best Regards,

Fe** ***rina

HR Departement

Encrypted Indonesia

Kalau ada hal yang paling saya benci dari negara-negara Arab selain adat suka gontok-gontokan mereka yang sangat terkenal itu, adalah sikap biadab sebagian warga negara mereka terhadap pembantu-pembantu (asal Indonesia). Jika mengingat hal ini saya kadang jadi lancang berpikir, rasanya sia-sia saja Islam menjamahi mereka selama 1400 tahun lebih. Sia-sia saja mereka dipilih Tuhan sebagai penyebar syiar pertama. Padahal salah satu ajaranNya yang paling fundamental adalah penghapusan perbudakan.

Kebiadaban yang justru mayoritas pelakunya adalah ummu-ummu (ibu-ibu) ini saya pandang tidak lebih adalah bentuk perbudakan yang telah termodernisasi. Sudah sangat banyak korbannya terbetik dalam berita. Dari mulai meninggal dunia karena disiksa, sampai ada yang gila karena trauma.

Namun kalau kita bicara tentang perbudakan, tentu bukan Bangsa Arab saja yang mengenalnya. Bangsa Amerika pun pernah terbiasa dengan praktek nista ini. Bahkan sindrom zaman perbudakan ini kerap masih tercium aromanya hingga kini. Baru-baru ini sebuah keluarga terpandang asal India yang kaya raya juga melakukan praktek penyiksaan terhadap seorang pembantu asal Indonesia. Mereka dikenal sebagai pengusaha parfum ternama di Amerika Serikat. Namun status itu ternyata tidak berkorelasi dengan tabiat mereka yang sangat jauh dari terminologi manusiawi.

Kita tidak tahu sampai kapan sistem perbudakan ini akan benar-benar hapus dari dunia. Di negara kita yang berbudaya feodal ini, terkadang kita masih dapat menjumpainya dalam berbagai bentuk. Istilahnya mungkin sudah berganti jadi woman trafficking atau semacamnya, namun pada hakikatnya sama saja. Saya berharap, semoga masih ada banyak orang yang memperhatikan hal ini dan berusaha mengambil tindakan untuk segera mengakhiri. Paling tidak dari lingkungan keluarga sendiri.

 

Seingat saya, dulu yang namanya trotoar ini adalah penanda peradaban kota. Kalau saya berkendara dari suatu daerah dan sekonyong-konyong menemukan trotoar dipinggiran jalan, maka dapat dipastikan bahwa saya barusaja meninggalkan sebuah kabupaten dan memasuki sebuah kotamadya atau ibu kabupaten. Saya tidak tahu apakah patron ini masih berlaku sampai saat ini.

Namun yang saya jumpai di Jakarta dan jamak kota-kota besar lainnya, trotoar ini sekarang tak lebih hanyalah sebuah zona tak bertuan. Pernah saya hampir diserempet taksi gara-gara ditrotoar ada pedagang makanan yang memajang gerobaknya secara melintang, dan tepat didepannya ada taksi yang sedang parkir. Terpaksalah saya berjalan di badan jalan, satu meter lebih dari bibir trotoar. Pernah juga saya hampir diserempet motor, cuma kali ini saya sedang berada diatas trotoar. Saya bingung sebenarnya trotoar dibuat untuk apa sih? Lebih konyolnya lagi, saya pernah hampir diserempet motor diatas jembatan penyebrangan. Masya Allah.

Di Jakarta ini dari mulai pedagang kaki lima sampai pot bunga serta tapal batas kelurahan berebutan menancapkan kekuasaan diatas trotoar. Tidak jarang juga sebuah pohon pelindung berdiameter besar ikut-ikutan mejeng diatas trotoar. Padahal disamping trotoar tersebut ada saluran air sedalam satu meter lebih tanpa batas pengaman. Malah kadang-kadang saya menjumpai telepon umum box ikut-ikutan nangkring di space utama trotoar. Sementara sang trotoar sendiri menyediakan sensasi bagaikan permainan russian roulette ketika kita melangkah diatasnya. Banyak lubang-lubang yang lebih besar dari ukuran sepatu ditemui. Atau bahkan lempengan beton yang berpindah tempat ketika diinjak.

Entahlah, saya tidak tahu kepada siapa harus mengadu. Mungkin mimpi untuk menikmati sehatnya berjalan kaki diatas trotoar yang beradab dan manusiawi harus saya pendam dulu. Tidak mungkin rasanya Jakarta menyamai Singapura.  Kalaupun bisa, mungkin hanya sebatas Kelapa Gading dan Karawaci saja. Tempat manusia beradab berada.

 

“Kematian hanyalah tidur panjang”

“Maka mimpi indahlah engkau… Camelia”

Tidak. Ternyata Satrio tidak salah. Bu Siska juga tidak salah. Dan jam di HP ku juga tidak mungkin salah. Hari ini adalah hari Kamis. Dua hari setelah hari Selasa saat aku pergi mencari tambahan bunga yang dipesan Bu Siska. Hari ini bukan hari kesembilan setelah aku bertemu Camelia untuk pertama kalinya. Hari ini adalah dua hari sejak peristiwa itu. Setidaknya dalam hitungan manusia normal.

Ohh, apakah aku telah sedemikian gila karena jatuh dari motor. Kemana saja aku seminggu kemarin. Kenapa waktu tidak berjalan semestinya. Benarkah apa yang dikatakan dua gadis tadi. Kenapa aku langsung percaya pada mereka, padahal selama ini aku tak pernah percaya pada cerita mistik. Kenapa aku sedemikian pengecutnya sehingga memilih untuk kabur dari desa itu begitu mendengar cerita dua gadis tadi. Kenapa? Ohh, apakah yang telah terjadi pada diriku? Kenapa sama sekali tidak ada bekas luka pada diriku. Ilusi apakah ini? Kenapa harus aku?

Kembang, jembatan, Camelia, kucing hitam. Semua berputar-putar dipikiranku membentuk rantai pertanyaan yang tak kunjung putus. Mataku nanar menatap lampu kamar kostku yang seakan-akan berputar-putar dan berubah warna. Kepalaku terasa berat. Berat sekali. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 311,776 hits
%d bloggers like this: