“Kau sejuk seperti titik embun membasah di daun jambu”

“Dipinggir kali yang bening”

“Sayap-sayapmu kecil lincah berkepak”

“Seperti burung camar, terbang mencari tiang sampan”

Dengan langkah gontai aku beranjak dari kios terakhir ini. Ini adalah kios kelima yang kudatangi, dan semuanya memberikan satu jawaban. “Sudah habis Mas, kenapa tidak pesan dari dua hari kemarin?, kenapa tidak telpon dulu?” Ahh, tahu apa mereka tentang kesulitanku. Aku juga tidak menyalahkan mereka atas jawaban-jawaban tadi. Aku hanya mengumpat diri sendiri. Kenapa harus hari ini. Kenapa pada hari pertama kerjaku. Kenapa pada diriku.

Apa kata Bu Siska nanti. Hari pertama kerja udah nggak becus, masa dikasih tugas segampang ini aja gagal. Aku tak kuasa lagi membayangkan dan ingin segera menghapusnya dari khayalan.

Matahari kian jatuh keufuk barat. Aku meneruskan perjalanan tanpa arah. Berputar-putar didesa-desa sekitar lembah ini. Berharap menemukan sebuah keberuntungan. Namun satu jam berlalu, belum ada tanda-tandanya. Hari kian senja, dan aku makin putus asa.

Pada sebuah jembatan, kuputuskan menghentikan motor bututku. Untuk beberapa saat aku hanya duduk terdiam. Berusaha menghilangkan suara-suara bising yang berputar-putar dikepala. Berusaha untuk tenggelam dalam keheningan senja. Pandangan kupusatkan pada jeram kecil dibawah sana. Airnya memantulkan rona jingga yang masih tersisa di angkasa.

Namun aku tak dapat menguasai pikiranku yang lagi dan lagi terus kembali ke Jakarta sana. Hari pertama kerja ku ini akan segera berakhir. Berakhir sebagai hari terakhir. Bukan aku yang mendramatisir. Namun begitulah perjanjiannya kemarin. Dasar nasib. Hidup memang tak memberi pilihan. Sekalinya datang, secepat itu pula ia menghilang.

“Maaf mas, bisa dipindahkan motornya dari jembatan?” Pertanyaan barusan mengiringi sebuah tepukan dipundakku. Aku terkejut dan segera menoleh kebelakang. Seorang gadis bermata teduh telah berada dibelakangku entah sejak kapan. Masih belum hilang gagapku dia menyambung ucapannya, “maaf mas, tadi saya klakson sepertinya mas tidak dengar”. “Oya?”, jawabku dengan bodohnya. Aku sendiri heran. Sedemikian kalutkah aku barusan sampai-sampai tidak terdengar olehku bunyi klakson mobil. “Jembatannya sempit mas, kalau motornya nggak dipindah mobil saya nggak bisa lewat”. Gadis dengan gaya bahasa ramah ini kembali meneruskan ucapannya. “Oo, ya ya ya, saya pindahkan segera”.

“Makasih mas”. Gadis itu dengan santunnya berkata ketika mobil bak terbukanya melewatiku. Sebuah senyum ramah menghiasi wajahnya. Aku mengangguk. Aku memandangi mobil itu sampai hilang di belokan.

Tiba-tiba aku baru tersadar. Lho, yang didalam bak terbuka tadi kan kembang. Mau dibawa kemana kembang itu malam-malam begini. Harapanku seketika bangkit kembali dan dengan segera kuhidupkan mesin motorku untuk mengejar mobil tadi. Tapi alamaaak! Aku lagi-lagi menggerutu.”Please beng, not now!”, aku sedemikian kesalnya pada si beng yang tiba-tiba ngadat. “ Ah dasar butut lu, nggak tahu diri”, aku tambah kesetanan mengumpat benda mati ini setelah satu menit masih belum nyala mesinnya. Satu menit ini rasanya bagaikan satu jam.

Akhirnya setelah kutendang tiba-tiba si beng hidup. Tidak kubuang lagi kesempatan. Aku segera memacunya melewati jalan setapak yang semakin gelap. Aku memburu bagaikan dikejar setan. Ahh kemana perginya mobil itu. Aku tambah kalut setelah hampir dua kilometer masih belum kutemukan jejaknya. Ingin bertanya tak seorangpun kutemui. Ahh, benar-benar hari sial. Untuk kesekian kalinya aku mengumpat dalam hati.

Suara Adzan Maghrib memecahkan konsentrasiku. Ingin kuabaikan namun sepertinya himbauannya lebih kuat. Kuputuskan untuk menghentikan kendaraanku. Aku mencoba mencari asal suara itu. Sepertinya aku tadi tidak melihat mesjid atau mushala sepanjang jalan yang kulalui dari jembatan tadi. Adzan terus bergema dan tanpa sengaja aku melihat sebuah papan kecil penunjuk arah mesjid beberapa meter didepanku. “Oo didalam sana mesjidnya”, gumamku. Dan akupun bersegera kesana.