Gerangan apa tiba-tiba saya mengangkat kata seram ini sebagai judul? Apakah saya mau merilis ulang sebuah cerita di tabloid lampu merah atau poskota. Atau saya sedang membahas satu episode dalam patroli atau TKP? Oh tidak, saya hanya sedang ingin bercerita tentang suatu kaum disuatu negeri yang sedang kalap.

Tersebutlah suatu kampung disuatu negeri yang berpenduduk sekitar satu juta tiga puluhan ribu lebih. Kampung ini tidak ada orang yang tahu berapa jumlah penduduknya, mungkin sekitar lima ribuan lebih. Dari sekian banyak orang yang berdiam disana, mahsyur terkenal ada sekitar duapuluhan tokoh-tokohnya. Mereka mewakili berbagai kalangan, dari penyanyi keliling sampai guru ngaji. Dari buruh yang sehari hari kerja di pabrik sampai manusia malam yang jumlahnya tidak sedikit.

Kampung yang satu ini benar-benar aneh karena tidak ada tandingannya yang serupa di kampung-kampung lain ataupun di negri lain. Paling tidak sayalah yang belum menemukannya. Dari komentar orang-orang yang pernah berkunjung kesana, terbetiklah kabar mengenai tabiat warga kampung tadi, yaitu kampungan. Oo, tentu saja, namanya juga tinggal dikampung, kalau di kantor tentu tabiatnya kantoran.

Kampung ini termasuk wilayah yang ramai dan padat. Ditengahnya bersilang dua jalan utama. Banyak orang datang kesana, sekadar mampir atau tidak sengaja tersasar kesana. Banyak juga mahasiswa dari kota yang melakukan penelitian sosial dikampung ini saking terkenalnya. Dengar-dengar sebuah universitas akan menjadikannya lokasi KKN tahun ini.

Minggu terakhir ini kampung yang terkenal ini kembali heboh. Kabarnya seorang wak dukun dibacok seorang guru ngaji sampai tewas. Kabarnya lho. Sebab tiada seorang pun yang menyaksikan. Seorang muridnya menemukan jasad wak dukun dalam pondoknya dalam keadaan mengenaskan. Banyak juga orang yang menyangka wak dukun mati karena kesurupan. Ia dirasuki semacam roh sehingga tak sadar diri dan lalu bunuh diri. Entahlah siapa yang benar, namun warga kampung jadi terbelah gara-gara kasus ini. Menurut salah seorang murid mendiang wak dukun, dua malam sebelumnya mereka sempat dihadang seseorang yang berpakaian guru ngaji didekat pos ronda. Sambil menghunus golok orang itu mengancam “Kalau ente masih nekat menebar kemusyrikan dikampung ni, ane kagak segan-segan ngabisin ente, camkan itu”. “Ane kasih waktu ente minggat dari kampung ni paling lambat malam jum’at”. “Kalau ente masih belagu, rasain sendiri akibatnya”.

Wak Dukun ternyata tidak gentar. “Lu kalo ngomong jangan sembarangan yaa, gue santet tahu rasa lu. Atau lu mau tempat ngaji lu disatronin murid-murid gue! Mau lu!”. Beruntung saat itu pak kepala kampung lewat, sehingga pertumpahan darah yang akan terjadi di depan pos ronda itupun tertunda. Begitulah ceritanya, sampai sang murid menemui jasad wak dukun yang mengenaskan jumat pagi. Kampung itupun langsung geger dan siap-siap masuk tivi.

Habis sembahyang jumat, suasana kampung makin panas. Di sebuah tempat ngaji, murid-murid ngaji lagi berdendang rebana. Syairnya berisi puji-pujian dan rasa syukur atas musnahnya kemusyrikan dari muka bumi. Beberapa hari lagi mereka juga berencana mengadakan kenduri. Seorang guru ngaji nomer wahid kabarnya akan diundang untuk membacakan doa tolak bala. Semua orang dilingkungan tempat ngaji larut dalam euforia kematian wak dukun. Ini benar-benar harus disyukuri. Kuasa Tuhan telah bertindak dengan bijaksana. Ia mati lebih cepat daripada yang kita doakan.

Sementara di padepokan mendiang wak dukun hampir seluruh murid-murid telah berkumpul merapatkan barisan. Beberapa tokoh perdukunan yang seperguruan dengan mendiang wak dukun pun tiba-tiba muncul. Entah siapa yang memanggil namanya tiga kali sehingga mereka-mereka hadir di kampung ini. Santer terdengar kabar, malam ini juga seluruh tempat ngaji akan diratakan dengan bumi. “Guru ngaji sialan itu harus kita usir, setuju!!!”. Seorang tokoh senior perdukunan membangkitkan semangat massa. “Setuju!!!”, gegap gempita massa perdukunan menyahuti seruannya. Beberapa saat kemudian segala macam persenjataan dikeluarkan dari tempat keramatnya. Dimandikan kembang, diasapi kemenyan dan disuguhi sajen darah ayam jantan. Riuh rendah komplek padepokan oleh murid-murid mendiang wak dukun yang berlatih beladiri sebagai persiapan final perang akbar malam nanti.

Beberapa reporter dari stasiun televisi dalam dan luar negeri sudah tampak pula disudut-sudut kampung. Mereka yang rata-rata adalah veteran peliput perang datang berbondong-bondong. “Aneh, kenapa tidak ada satupun polisi disini”, mereka saling bertanya sesamanya.”Mungkin polisi sudah bosan melihat warga kampung ini, dari dulu kasusnya itu-itu saja”, berkomentar salah satu reporter. “Lalu kenapa anda-anda masih meliput berita ini, polisi saja sudah bosan, apalagi pemirsa”, seorang wartawan luar negeri ganti melayangkan pertanyaan.”Ah, tahu apa mister tentang pemirsa tivi di negeri kami. Justru tayangan seperti ini yang ratingnya tinggi. Ini tayangan nomer wahid. Ada mistik, ada religi, ada konfrontasi. Dalam sepuluh tahun belum tentu akan muncul yang seperti ini”. Bertubi-tubi sang wartawan dalam negeri memberi penjelasan. “Hmm, do no wat tu sei laa”, mister wartawan mengakhiri komentarnya dengan menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala.

Dalam sekejap mata setelah briefing, gerombolan reporter segera menyebar mencari detail berita. Beberapa penduduk kampung yang bersiap mengungsi jadi sasaran mereka. Beberapa wartawan juga sudah hadir dipadepokan mendiang wak dukun. “Jadi target malam ini siapa ki?”, seorang wartawan barusaja mendapati seorang tokoh senior padepokan sebagai narasumber. “ Yang jelas, tiga tempat ngaji di pinggir kampung sebelah selatan itu target utama kami”. “Siapa saja mereka ki?”, wartawan yang beruntung ini lanjut bertanya. “Pokoknya si abunawas reseh sama semua antek-anteknya, terus si ustadz suka pawai dan terakhir pesantrennya kiai sepuh nyleneh itu”.

“Banyak betul ki? Apa mereka semua bertanggung jawab terhadap kematian wak dukun?”, wartawan terus bertanya.”Aah peduli apa, sama saja mereka itu. Luarnya saja yang warna-warni. Isinya sama, busuk, kejam, tidak toleran, teroris, suka mengkafirkan. Pokoknya lengkap deh. Kalau tidak kita usir sekarang, lain waktu pasti salah satu diantara mereka akan bikin ulah lagi. Kemarin wak dukun, besok siapa lagi?”

Wawancara masih berlanjut, dan sang tokoh senior perdukunan makin kalap menjawab pertanyaan wartawan. Sorak sorai meneriakkan “Betuul !!” berkali-kali menyahuti setiap wejangan sang tokoh. Beberapa koleganya mulai ikut berkumpul menambahi semangat. Sampai sejauh ini target pengusiran malam nanti telah berkembang menjadi lima tempat.

Sementara di sebuah tempat ngaji milik kyai mustopa, terjadi kehebohan luar biasa. “Assalamualaikum, kumpuuul, kumpuuul semua di mushola”, sebuah suara penuh kepanikan menggema dari pengeras suara mushola. Para santri pesantren mini itupun tergopoh-gopoh berlari menuju mushola. Beberapa sampai tersandung sarungnya sendiri. “Ada apa ini, ada simulasi gempa bumi?” Kyai mustopa yang baru tampak dua menit kemudian terheran-heran melihat santrinya yang lagi memegang mikropon. “Gawat kyai, murid-murid padepokan mendiang wak dukun, mau meratakan pesantren kita malam ini. Kita harus segera mengungsi”. Rojali sang santri menerangkan dengan nafas tersengal-sengal. “Lho lho lho, apa pasalnya mereka hendak merobohkan pesantren kita, emang kita salah apa sama mereka?”. “Wah nggak tahu lah kyai, dengar-dengar mendiang wak dukun itu mati dibacok ustadz abunawas. Tapi yang jelas kita harus cari aman dulu. Mereka berniat membersihkan kampung ini dari seluruh guru ngaji tanpa pandang bulu”.

Suasana makin heboh. Di tempat ngaji ustadz abunawas, anak-anak pengajian juga lagi dipompa semangatnya. “Pokoknya malam ini tidak ada yang boleh lari dari peperangan, siapa yang lari berarti menghindar dari Jihad akbar. Mengerti semuaa !!”, ustadz abunawas memberi wejangan terakhir pada anak-anak pengajiannya. “Ini adalah perjuangan suci menumbangkan kemusyrikan, kafir hukumnya bagi siapa yang tidak ikut membela agama”. Suara ustadz abunawas yang diperkuat megaphone menggema keseluruh kampung, bahkan terdengar sampai padepokan mendiang wak dukun.

Hampir seluruh sudut kampung dilanda suasana kisruh. Orang-orang berwajah kalap terlihat dimana-mana. Mereka mengenakan ikat kepala beraneka warna yang menunjukkan kelompoknya. Ada yang bersekutu bagi yang sealiran. Ada yang sibuk dengan konsolidasi akhir. Benar kata wartawan tadi, dalam sepuluh tahun belum tentu akan ada kejadian seperti ini lagi.