“Tiba-tiba langkahku terhenti”

“Sejuta tangan t’lah menahanku”

“Ingin kumaki mereka berkata”

“Tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti”

Pukul delapan lewat duapuluh menit. Jam dinding kusam disudut warung mulai memperdengarkan detaknya. Kabut tipis sudah mulai turun diluar sana. Aku meyeruput sisa kopi digelasku. Aneh sekali kampung ini pikirku dalam hati. Belum jam sembilan sudah sepi sekali. Aku masih tidak habis pikir, kenapa tidak satupun warga yang mampir ke warung ini mengenali ciri-ciri gadis yang kucari. Paling tidak mobil bak terbukanya itu. Dikampung sepi seperti ini berapa orang lah yang punya mobil. Paling hanya satu dua pikirku. Aku juga tidak tahu kenapa aku dengan ngototnya beranggapan demikian. Entah karena aku belum menemukan rumah batu satupun sejak jembatan tempat pertemuanku tadi dengan si gadis, atau karena keyakinanku yang sangat kuat bahwa gadis penyelamatku ini adalah warga kampung sini. Ahh, apapun itu yang penting aku harus bisa menemukan rumah gadis itu sebelum matahari terbit. Toh kalau ngebut bisa sampai Jakarta dalam tiga jam besok pagi.

“Mas, masih lama ya? Maaf, warungnya sudah mau tutup, sepertinya sudah sepi”. Ucapan ibu warung membuyarkan lamunanku. “Ah nggak kok bu, saya juga udah selesai. Semuanya jadi berapa bu?” Aku bergegas menyelesaikan urusanku dengan si ibu warung.

Sebenarnya aku juga bingung, kalau rumah si gadis nggak ketemu aku mau nginap dimana ya? Pikiranku terombang ambing sepanjang perjalanan. Aku terus berputar-putar dikampung ini dengan kecepatan rendah. Mushala kecil tempat aku maghriban tadi sudah duakali kulewati. Aku benar-benar mencari tanpa arah. Selama itu pula tidak ada seorangpun yang berpapasan denganku.

Dalam kekalutanku, kuputuskan balik ke Jakarta saja. Aku meralat semua ambisiku menemukan gadis misterius itu malam ini. Persetan dengan Bu Siska. Mau pecat juga silahkan. Aku masih bisa pinjam uang sama Satrio, paling tidak untuk sementara pikirku menguatkan alasan kepulanganku. Kali ini si beng aku pacu sekencang-kencangnya. Aku sudah cukup lelah dengan hari paling buruk ini. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari selasa, hari paling sial sepanjang sejarah hidupku. Ahh, yang penting nyampe di kost secepatnya. Tidur.

Seekor kucing hitam tiba-tiba meloncat entah darimana. Sekonyong-konyong dia telah berada dua meter dihadapanku. Aku tidak sempat mengerem lagi dan dengan sigap kuhindari dengan membanting stang kekiri.

Brakkk! Dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

* * * * * * *

Sensasi hangat menerpa pelipisku. Warna jingga tiba-tiba hadir menyeruak. Aku menyalangkan mata. Silau. Mentari pagi menyapa wajahku langsung dari jendela kaca. Dimana aku? Kucoba bangkit untuk duduk dari pembaringan, namun argh. Seluruh tubuhku serasa remuk redam. Tulang igaku serasa berserakan. Aku lemah sekali. Haus sekali rasanya.

Perlahan ingatanku mulai pulih. Soal hari sial kemarin. Soal gadis yang kucari-cari tadi malam. Soal kutukan hari selasa yang menyebalkan. Soal kucing hitam. Ya, kucing hitam itu. Ingatanku mulai kembali sepenuhnya. Gara-gara menghindari kucing hitam sialan itu motorku masuk lubang. Aku baru ingat bahwa sesaat sesudahnya, aku terpelanting dan berguling-guling jatuh ke lembah. Aku baru ingat bahwa kejadiannya ternyata dekat jembatan kemarin. Tapi dimana aku sekarang? Siapa yang menyelamatkanku?

Kuraih sebuah buku berdebu yang tergeletak di meja kecil samping dipanku. Hanya benda ini yang bisa kuraih dengan tanganku. Oh, ternyata buku harian. Sepertinya sudah lama tidak ditulisi. Camelia Diary, begitu tulisan pertama yang kutemui pada halaman ketujuh. Halaman sebelumnya rata-rata kosong atau berisi coretan-coretan abstrak. Kebanyakan seperti bentuk kembang-kembang.

Nyaris saja buku harian itu kuletakkan kembali dimeja karena aku sadar aku tidak berhak membacanya. Namun rasa keingintahuanku sebagai lelaki mencegahku melakukannya. Lagipula tidak ada siapa-siapa pikirku. Lembar demi lembar aku mulai menelusuri kisah rahasia Camelia. Sudah semester pertama. Berarti aku cuma setahun lebih tua. Aku makin bersemangat membalik-balik buku harian itu sambil membayangkan rupa gadis ini. Isinya sedikit membosankan, rata-rata cuma unek-unek harian, biasalah perempuan. Nah ini ada yang menarik. Baru saja aku akan meneruskan membaca sebuah halaman dipertengahan buku, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dilantai kayu. Aku segera menaruh kembali buku harian ini ditempatnya semula.

“Sudah siuman ya Mas?” Seorang wanita muncul dari balik pintu menanyakan keadaanku. Tapi “Masya Allah”, aku kaget bukan kepalang. Ternyata dia gadis yang berpapasan denganku kemarin. Gadis yang kucari-cari tadi malam. Ingin sekali aku mengucek-ucek mataku untuk lebih membuktikan pandanganku.

Dia melangkah mendekati tempat tidurku. Pada sebuah vas diatas meja ia memasukkan seikat kembang warna-warni. Aku masih melongo. “Buat apa dia membawakan kembang segala untukku”, pikirku dalam hati. Gadis yang aneh. Lalu dia berjalan kembali menuju pintu dan keluar dari kamar. Aku masih terpana. Stupid, sampai saat ini aku belum menjawab pertanyaannya atau menyapanya. Aku baru tersadar.

Beberapa saat kemudian dia kembali lagi membawakan secangkir teh melati. “Di minum ya Mas, sini saya tolong”. Dia membantuku duduk bersandar didinding. Aneh, rasa sakit ditubuhku terasa sedikit berkurang. “Makasih ya mbak”. Aku kemudian menyeduh teh melati yang masih agak panas itu. “Jangan panggil mbak, panggil saja Lia. Nama saya Camelia”. “Oo, ya baiklah”, ujarku. “Namaku Surya”, aku spontan menyodorkan tangan memperkenalkan diri. Dia menyambutnya dengan senyuman.

“Tadi malam Wak Somad mendengar bunyi tabrakan dekat jembatan. Kebetulan dia lagi ronda dekat situ. Dia juga yang minta tolong pada warga membawa Mas Surya kemari. Nanti siang akan ada tukang urut yang datang kemari”. Camelia mulai menjelaskan perihal yang jadi pertanyaanku tadi. “Wak Somad itu siapa?”, aku lanjut bertanya. “Masih keluarga jauh saya, rumahnya juga dekat sini”.

Obrolan terus berlanjut. Aku seakan-akan lupa akan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhku. Aku memperhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada bosan-bosannya aku menatap matanya lama-lama. Ahh, Camelia. Kenapa baru sekarang aku bertemu dengannya. Aku tersenyum sendiri ketika teringat caranya.