Tulisan latah saya kali ini akan saya awali dengan obrolan ngalor ngidul soal fenomena (saya tidak meyebut isyu) pemanasan global. Saking gegap gempitanya fenomena ini dia telah masuk menyelusup ke ranah politik internasional, bahkan oleh Al Gore, kata yang sejatinya dikenal sebagai global warming dipopulerkan ulang menjadi global warning. Soal ditemukannya hamparan perairan seluas negara Eslandia(Iceland) diatas lapisan es abadi Arctic mungkin sudah banyak yang tahu, bahkan National Geographic bulan ini juga mengupas secara khusus. Soal semakin dekatnya kepunahan beruang kutub (karena anjing laut yang biasa jadi makanan sehari hari tidak perlu lagi bernafas lewat lubang es dimana beruang kutub menunggunya) juga pasti sudah banyak yang mendengar. Apalagi soal planet tempat tinggal kita yang tiba-tiba jadi meriang panas dingin, dimana-mana terjadi kekacauan iklim dan perubahan cuaca mendadak, orang Indonesia niscaya paling tahu soal yang terakhir ini. Bahkan Pak Beye menemukan pembenaran baru, bahwa ternyata zaman goro-goro (zaman bencana) di Kepulauan Nusantara ini disebabkan oleh si GW ini.

Jum’at kemarin saya baca Kompas halaman utama. Judulnya yang bikin miris menarik perhatian saya.”G8 Gagal Capai Kesepakatan”. OK, saya tidak akan berpanjang lebar. Disini saya hanya akan menganalisa sedikit data dengan logika sederhana (mohon maaf saya tidak bisa menyertakan grafik). Soal si AS yang menolak usul Jerman agar ybs mengurangi emisi gas rumah kacanya hingga 50% sampai tahun 2050 pasti sudah banyak yang tahu. Saya hanya kaget ketika melihat grafik yang disajikan dalam berita itu. Ternyata dari 68.1% produksi CO2 dunia (setara 1 miliar ton CO2) yang dihasilkan negara-negara G8, AS menyumbangkan 39,4% atau 58% dari total dosa negara-negara G8. Di bawah Paman Sam ada Rusia dengan 5.9%, sedangkan Jerman yang getol teriak-teriak cuma punya timbangan dosa seberat hanya 3.2%.

Kalau keangkuhan si Paman Sam yang mau dibahas mungkin sudah basi. Kita mungkin sudah kehabisan kata-kata untuk mengutuk bangsa tebal muka lagi tidak tahu diri ini. Yang dia persoalkan kali ini ternyata cuma gara-gara China dan India tidak ikut diajak. Saya benar-benar berucap “semut diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tiada tampak”. Dari siaran National Geographic edisi Earth Report di Metro TV, saya mencatat konfirmasi India bahwa negaranya tiada lebih hanya menyumbang CO2 4% saja. Konfirmasi dari China belum saya tahu, saking tebalnya bambu yang dipakai sebagai tirai negara tersebut. Yang jelas Amerika begitu kesalnya menyimak fakta, bahwa ternyata dalam tiga hari saja polutan udara hasil pembakaran batubara di China telah menyebrangi Samudara Pasifik hingga mendarat di California. Eropa sendiri pun gerah terhadap AS, karena polusi bikinannya sampai di daratan Eropa hanya dalam 1,5 hari sahaja (berbanding lurus dengan lebar Samudra Atlantik terhadap Pasifik). Semua polutan yang disebar ke angkasa itu berkelana kemana angin membawanya. Asia Tengah kebagian polutan Eropa, Indonesia menerima jatah dari India.

Kalau kita memposisikan diri sebagai China dan India atau negara-negara berkembang yang barusaja dibaptis menjadi negara industri baru seperti Vietnam, Korea Selatan, Taiwan (dan mungkin saja Indonesia) tentu kita akan berteriak-teriak meyuarakan ketidakadilan menyikapi himbauan negara-negara G8 ini. Kita baru saja jadi orang kaya, baru saja merasakan enaknya jadi negara industri sudah diatur-atur ini itu. Disuruh mengurangi CO2 hingga 50% kan sama saja artinya dengan disuruh menutup separuh industri kita. Merumahkan separuh buruh kita. Dan menaikkan angka pengangguran menjadi dua kali lipat. Arogan betul mereka, padahal sudah puluhan tahun mereka merasakan kemapanan. Masa iya baru sekarang mereka tahu akan terjadi hal seperti ini. Bukankah sejak ngebulnya mesin uap James Watt mereka sudah punya banyak ilmuwan. Bukankah sejak kereta api ber asap hitam membelah pemukiman Indian di Amerika, mereka sudah melihat pencemaran. Ini sungguh tidak masuk akal. Ketika mereka sekarang sudah mapan, mereka baru membuka lebar-lebar isyu ini. Apa tujuannya?

Kita tinggalkan hiruk pikuk negara-negara G8 dan negara-negara industri baru. Kita kembali ke Indonesia khususnya Jakarta.

Hmm, dinegeri kita isunya menjelma jadi istilah lokal nan basi yaitu kepedulian lingkungan. Gara-gara bekennya si GW ini, isu lingkungan sekarang menjadi komoditas politik, bisnis dan marketing. Developer berlomba-lomba memasarkan perumahan mewah ramah lingkungan. Dari botanical garden, pengolahan sampah mandiri sampai danau buatan ditawarkan. LSM Lingkungan naik pamor dan kian sering unjuk gigi. Namun kepedulian bersama masih kurang.

Ada contoh bagus di Lebak Bulus. Siapa yang tak kenal dengan kelompok Sangga Buana Bang Udin. Diluar sugesti mistik yang menggerakkan warga pada awalnya, hasil yang telah dicapai mereka pantas kita acungi jempol. Berkat kengototan Bang Udin memperjuangkan DAS selebar 32m, sekarang area sepanjang 8km dibantaran kali pesanggrahan telah dia hijaukan. Silahkan bertandang kesana, dan Anda akan lupa bahwa Anda ternyata masih di Jakarta.

Untuk menggerakkan warga Jakarta ala komunitas Sangga Buana yang anggotanya cuma 80 orang tentu sebuah hil yang mustahal. Mungkin sudah ratusan orang menyuarakan kepedulian bersama diatas kepentingan pribadi. Mungkin juga yang meneriakkan hal itu juga sudah bosan. Saya pikir kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau kita masih memakai cara-cara lama (eg. kampanye, penyuluhan, dsb) sama saja kita menunggu kuda bertanduk. Kalau warga Jakarta lebih mementingkan diri sendiri so what? Apa kita tidak bisa menumbuhkan kepedulian lingkungan?

Jawaban saya, kenapa tidak kita modifikasi saja? Isu lingkungan yang sejatinya masalah kepedulian bersama kita sulap menjadi kepentingan pribadi. Pertama kita fokuskan salah satu solusi yaitu menanam pohon. Urusan persampahan sementara biar ditangani Pemda DKI. Menanam pohon ini bisa kita sulap jadi kegiatan bernilai bisnis, menumbuhkan prestise dan mencerminkan gaya hidup.

Caranya? Developer yang biasa mengembangkan lahan sebagai perumahan mewah sekarang kita minta mengembangkan lahan sebagai hutan kota. Lengkap dengan kavling dan sertifikatnya. Tiap kavling cukup 4 meter kali 4 meter saja. Calon pembeli nanti ditawari ingin menanam apa (sebaiknya tumbuhan keras atau tumbuhan langka).Tiap-tiap pohon memiliki keterangan pemilik dibawahnya. Pemilik berhak menamainya, merawatnya seperti keluarga, mengukir simbol cintanya, menuliskan nama-nama pacarnya atau menuliskan gelar akademis dan kebangsawanannya. Ditambah lagi ia akan dicantumkan sebagai pahlawan lingkungan tergantung gradenya, yang diukur dari berapa pohon yang ia tanam (berapa kavling yang ia beli).

Kavling-kavling seperti ini tidak harus jauh tempatnya dari pemukiman, juga tidak harus luas areanya. Ia bisa disisipkan dikawasan bisnis atau dimana saja, sehingga berdampak pada nilai jual dan prestisenya. Nanti suatu ketika si pemilik melewati pohonnya (yang kebetulan dipinggir jalan), diharapkan dia akan bangga menyatakan “itu pohon gue lho, bukti kepedulian gue terhadap lingkungan, 50juta lho satu kavlingnya, tanaman langka lho

Yaah, itulah salah satu angan-angan saya. Mudah-mudahan ada yang terinspirasi dan mewujudkannya suatu hari nanti. Masa untuk membeli lahan pekuburan di Karawang seharga 2M saja sanggup, sedangkan membeli lahan seluas 4mx4m tidak sanggup.