Bahasa Jepang.

Agak susah dipelajari. Tiap kata asing yang lewat, ditulis menjadi kanji. Christmas menjadi karimasu itu yang terjadi. Terbukti mereka sangat menjaga tradisi, lagi terbiasa ber-inovasi.

Bahasa Inggris.

Ribet dengan urusan Tenses. Sekarang dan sedetik dibelakang mesti ada kejelasan. Banyak pilihan kata untuk menggambarkan suatu keadaan. Terbukti mereka disiplin, lagi menjunjung tatakrama.

Bahasa Perancis.

Lain rupa lain bicara. Berkerut kening yang mempelajarinya. Bagai sebuah mahakarya. Terbukti mereka penggila seni budaya, lagi bangga dengan jatidirinya.

Bahasa Inggris Amerika. Penuh F* words dimana-mana. Terbukti apa coba?

Bahasa Mandarin.

Sungguh banyak ragam hurufnya. Tiap bentuk adalah kata. Alangkah susah menulisnya. Kalau tak tekun tak akan bisa. Terbukti mereka ulet rajin bekerja.

Bahasa Indonesia Zaman Orba.

Manis bunyinya, pahit rasanya. Orang bakuhantam, itu salahpaham. Orang kelaparan, itu rawan pangan. Terbukti hanya kemunafikan yang ditawarkan.

Bahasa Indonesia Pasca Orba.

Bahasa asing dimana-mana. Seakan-akan tiada padanannya. Bangga hati yang mengucapnya. Bagai naik status derajatnya. Terbukti mereka lupa siapa dirinya, lagi bingung arah tujuannya.

*) Diinspirasi iklan millennium development di Metro TV, dimana Dian Sastro diminta untuk menjelaskannya. Terdapat kata-kata goal, poverty, citizen dan awareness dalam kata-katanya yang menurut saya bukan suatu istilah. Sementara padanannya yaitu “tujuan, kemiskinan, warga negara dan kepedulian” masih sangat akrab ditelinga.