“Sekarang setelah kau pergi, kurasakan makna tulisanmu”

“Meski samar, tapi jelas tegas”

“Engkau hendak tinggalkan kenangan”

Seminggu telah berlalu sejak aku menginap dirumah Camelia. Gadis ini sungguh baik hati. Dia membuang segala kecurigaan terhadap pemuda kota sepertiku yang belum beberapa lama dikenalnya. Satu hal yang masih belum bisa kupahami adalah kebiasaannya menaruh kembang segar di vas bunga diatas meja kecil samping tempat tidurku setiap pagi. Jujur saja aku merasa risih dengan kembang itu, bahkan pernah kusembunyikan vas itu pada malam hari sebelum aku tidur. Namun entah bagaimana caranya ia menemukan, pagi hari ketika aku terjaga vas itu telah kembali ketempatnya dengan seikat kembang segar didalamnya. Ketika kutanyakan kepadanya, Camelia hanya senyum-senyum saja.

Camelia gadis sederhana yang bersahaja. Ia tidak terlalu banyak bicara. Diwajahnya masih terpancar sisa-sisa keluguan seorang gadis desa. Ia penyuka warna putih. Setidaknya dari yang aku ingat belum sekalipun ia mengenakan pakaian yang bukan putih sejak aku menginap dirumahnya. Namun ia tampak sungguh anggun dibalut pakaian itu. Kadangkala ia mengenakan topi lebar warna putih juga, kalau ia keluar rumah.

Tiga hari terakhir ini badanku sudah mulai pulih. Camelia membawaku keladangnya tiap pagi selama tiga hari ini. Ladang bunga ini tidak berapa luasnya, karena itu Camelia tidak punya kios sendiri. Ia menitipkan bunga-bunganya dibeberapa kios dipinggir jalan utama. Ladang ini satu-satunya peninggalan orangtuanya selain rumah yang ditempatinya. Menurut Camelia kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan sewaktu ia berumur 10 tahun. Setelah itu ia tinggal bersama keluarga Wak Somad. Namun ia masih merawat rumahnya yang juga tidak terlalu jauh dari rumah Wak Somad.

“Lia, hari ini aku berencana kembali ke Jakarta. Sepertinya keadaanku sudah mendingan. Aku tidak mau ketinggalan ujian untuk kedua kalinya”, Aku membuka percakapan pagi ini ketika Camelia meletakkan kembang di vas bunga. Dia berbalik dan kemudian menatapku lama. “Mas Surya yakin sudah sehat benar?”, raut muka khawatir mengiringi pertanyaannya. “Insya Allah, aku sudah kuat”, jawabku. “Terserah Mas Surya saja”, jawabnya.

“Dalam dua minggu ini aku akan kembali kesini menemuimu”, aku kembali memecah kesunyian setelah beberapa saat kami terdiam. “Tidak usah berjanji Mas, janji hanya akan menjadi beban”. Aku terkejut mendengar jawabannya. “Lho, memangnya kenapa, apa aku tidak boleh main kesini lagi. Kamu sangat baik, mana mungkin aku melupakan kamu. Lagipula aku akan berusaha memohon pada Bu Siska supaya ia sudi menerimaku sebagai pegawainya lagi, dengan begitu aku bisa sering-sering kesini menjemput bunga”.

“Bukan begitu Mas, aku hanya tidak ingin Mas terbebani oleh janji-janji itu. Saya sudah cukup senang bisa berkenalan dengan Mas Surya, walau tidak berapa lama. Firasat saya, kecil kemungkinan kita berjumpa lagi”. Camelia berbicara sambil menundukkan kepala. “Ahh, kamu ini ada-ada saja, pokoknya tunggu dua minggu lagi. Aku pasti kembali kesini”. Aku menutup sesi pembicaraan itu dengan ketus. Benar-benar gadis aneh pikirku dalam hati.

Satu jam kemudian aku telah siap berangkat. Ternyata kondisi si beng juga tidak parah-parah amat. Masih bisa dibawa berlari pikirku. “Mas, kembang yang dipesan kemarin nggak dibawa sekalian?”, Camelia tiba-tiba memanggilku dari belakang. “Buat apa?”, jawabku. “Sudah telat tujuh hari juga, lagipula Bu Siska pasti sudah memecatku sesuai janjinya”, aku menegaskan alasanku. “Bawa saja Mas, anggap saja kenang-kenangan dari saya, siapa tahu nanti berguna”, Camelia bersikeras. “Baiklah”, jawabku. Aku juga tidak mau mengecewakan gadis baik hati ini. Dan beberapa saat kemudian aku berpamitan padanya untuk kembali ke Jakarta.

* * * * * * *

Jam sepuluh pagi aku sampai di kost. Lelah sekali rasanya. Satrio yang kebetulan berpapasan menyapaku. “Kemana aja loe semalaman, baru muncul jam segini, Loe nggak ingat kita ada ujian kewiraan hari ini?”. “Haah, ujian kewiraan? Emangnya diundur yaa, wah beruntung banget nih gue. Kapan diumuminnya?”, hatiku bersorak gembira mendengar kabar dari Satrio. “Ah, ngaco loe. Apanya yang diundur, dari kemarin emang dijadwalin hari ini. Udah sana mandi, resiko lho klo telat. Bisa nggak dibukain pintu loe sama si Kolonel. Gue tungguin nih”. Aku masih manggut-manggut mendengar ocehan Satrio, seingatku ujian kewiraan kan hari rabu minggu kemarin. Ahh, tapi peduli setan. Mungkin otakku lagi error gara-gara banyak pikiran. Huh, urusan keuangan ini benar-benar membuatku linglung.

Sore jam tiga siang. Ujian baru saja berlalu. Aku duduk dikantin. Sebuah SMS sampai di HP ku. Dari Bu Siska. “Surya, mana bunga pesanannya. Kamu dapat kan? Aku tunggu sampai jam lima sore ini”. Begitu isi SMS tertanggal seminggu yang lalu. Hmm, kenapa SMS ini baru nyampe sekarang yaa, pikirku. Ooh, mungkin didesa Camelia tidak ada jangkauan sinyal. Aku menarik kesimpulan sendiri.

Beberapa saat kemudian, HP ku kembali berbunyi. Kali ini ternyata panggilan. Loh dari Bu Siska lagi? Setengah tak percaya kucoba mengangkat teleponnya. Mau apa lagi tante galak ini, aku bertanya-tanya dalam hati. “Surya! Kamu gimana sih, di SMS nggak mau balas, pingin dipecat ya? Bunganya dapat kan? Cepat bawa kesini sebelum jam lima sore. Aku sudah tidak punya waktu lagi. Tuts.”. Telepon diputus setelah omelan panjangnya berhenti tanpa sempat aku interupsi.

Wah benar-benar hari yang aneh pikirku. Aku segera teringat bunga yang diberikan Camelia pagi tadi. Oh, beruntung sekali aku. Gadis itu punya insting yang kuat. Dengan melupakan segala keanehan hari ini, aku segera pulang ke kost dan mengantar bunga yang kubawa tadi kerumah Bu Siska. “Nah, gitu dong”, komentar Bu Siska sambil senyum-senyum. Selembar uang seratus ribu berpindah ketanganku. Aku juga tersenyum dalam hati. Hari yang aneh namun indah pikirku.

* * * * * * *

Aku merebahkan tubuhku dikasur tipis kamar kost. Hari yang melelahkan gumamku dalam hati. Namun mataku ternyata tidak gampang terpejam. Entah kenapa wajah Camelia bagaikan hadir dilangit-langit dan dinding kamar. Aku teringat janjiku padanya tadi pagi. Dan entah kenapa pula, kini dalam hatiku aku sedikit membenarkan ucapannya tadi. Aku meraba ransel kuliahku yang tergeletak tidak jauh. Aku baru ingat tadi sore aku sempat membeli majalah sepulang dari rumah Bu Siska. Kumasukkan tanganku keransel meraihnya. Paling tidak membaca bisa membuatku mengantuk pikirku.

Namun alangkah terkejutnya aku, ketika yang kutarik keluar ternyata adalah sebuah buku yang sangat kukenal. “Buku harian Camelia”, desisku dalam hati. Lancangnya aku mengambilnya pikirku. Namun setelah aku ingat-ingat rasanya aku tidak pernah memasukkan buku harian itu keranselku. Apa dia yang memasukkannya? Hatiku bertanya-tanya. Ahh, tapi untuk apa? Hatiku kembali ragu.

Aku menaruhnya kembali kedalam ransel. Besok pagi aku akan pulangkan kepadanya. Mungkin aku yang khilaf dan tidak ingat telah mengambilnya. Lagi pula besok sepertinya tidak ada kegiatan apa-apa dikampus. Aku menggumam terus sampai akhirnya tertidur.

* * * * * * *

“Lia…, Lia…, kamu dimana?” Aku setengah berteriak memanggil nama itu, namun tidak ada jawaban. Pintu depan terbuka, aku masuk saja. Aku menoleh kedalam kamar tempat aku istirahat seminggu kemarin. Kubuka jendela kacanya, membiarkan semilir angin masuk. Aneh, tidak biasanya dia tidak membuka jendela kamar ini pikirku. Apa karena aku sudah tidak menghuninya lagi? Vas bunga yang biasa diisinya tiap pagi untukku tampak terisi segenggam ranting kering. Bekas tangkai bunga mawar. “Lia …, Lia…, kamu dimana? Ini aku, Surya”. Aku mengulangi teriakanku sampai beberapa kali, namun masih tidak ada jawaban dari sekitar rumah. Ahh, mungkin dia diladang, pikirku. Tapi kenapa sesiang ini, biasanya kan dia dirumah kalau siang. Aku segera menepis keraguan itu, aku putuskan menyusul keladang.

Di halaman depan dekat jalan, aku berpapasan dengan dua anak gadis belasan tahun. Mereka menatapku dengan sorot mata aneh. Aku putuskan untuk menyapa sekaligus bertanya. “Maaf dik, kalian tinggal disekitar sini kan?” “Nuhun, kang. Emangnya kenapa?”, salah satunya menjawab. “Tahu nggak teh Lia nya kemana? Saya sudah seperempat jam menunggu diberanda, tapi orangnya belum kelihatan”. “Punten kang, teh Lia yang mana yaa?”, gadis itu kembali bertanya. “Itu, teh Lia yang tinggal dirumah itu. Yang depannya ada pohon rambutan. Saya kemarin menginap seminggu disana”, aku mencoba menjelaskan. Spontan mereka saling berpandangan dengan wajah ketakutan. “Punten kang, ulah ngomong kitu atuh. Abdi jadi merinding”, gadis yang satunya berbicara terbata-bata. “Lho, memangnya kenapa?”, aku tambah bingung dengan sikap mereka.

“Akang benar ketemu teh Lia yang tinggal dirumah itu?” Gadis yang pertama bertanya penasaran. “Yaa iyalah, ngapain saya bohong. Buat apa saya jauh-jauh datang kesini dari Jakarta”. Aku mulai kesal dengan celotehan dua orang ini.

“Kang, teh Lia itu sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Dia kecelakaan di jembatan perbatasan desa ini. Mobilnya jatuh kesungai. Kalau akang tidak percaya, lihat sendiri kuburannya diladang bunga belakang rumah itu. Cuma ada satu kuburan disana yang nisannya bertuliskan nama Camelia. Sudah ah kang, abdi takut”. Kedua gadis itu segera berlalu meninggalkan aku yang terpana tanpa tahu harus mengucap apa.