“Kematian hanyalah tidur panjang”

“Maka mimpi indahlah engkau… Camelia”

Tidak. Ternyata Satrio tidak salah. Bu Siska juga tidak salah. Dan jam di HP ku juga tidak mungkin salah. Hari ini adalah hari Kamis. Dua hari setelah hari Selasa saat aku pergi mencari tambahan bunga yang dipesan Bu Siska. Hari ini bukan hari kesembilan setelah aku bertemu Camelia untuk pertama kalinya. Hari ini adalah dua hari sejak peristiwa itu. Setidaknya dalam hitungan manusia normal.

Ohh, apakah aku telah sedemikian gila karena jatuh dari motor. Kemana saja aku seminggu kemarin. Kenapa waktu tidak berjalan semestinya. Benarkah apa yang dikatakan dua gadis tadi. Kenapa aku langsung percaya pada mereka, padahal selama ini aku tak pernah percaya pada cerita mistik. Kenapa aku sedemikian pengecutnya sehingga memilih untuk kabur dari desa itu begitu mendengar cerita dua gadis tadi. Kenapa? Ohh, apakah yang telah terjadi pada diriku? Kenapa sama sekali tidak ada bekas luka pada diriku. Ilusi apakah ini? Kenapa harus aku?

Kembang, jembatan, Camelia, kucing hitam. Semua berputar-putar dipikiranku membentuk rantai pertanyaan yang tak kunjung putus. Mataku nanar menatap lampu kamar kostku yang seakan-akan berputar-putar dan berubah warna. Kepalaku terasa berat. Berat sekali.

* * * * * * *

Akhirnya aku memutuskan untuk menepati janjiku pada Camelia. Hari ini dua minggu setelah aku berpamitan padanya pagi itu. Kukuatkan imanku untuk menghadapi apapun yang akan terjadi nanti. Meski berat kucoba untuk melangkahkan kaki kesana. Si beng kupacu dengan kecepatan sedang menuju desa itu.

Empat jam kemudian aku sampai di depan rumah Camelia. Sore sudah akan beranjak senja ketika aku menapakkan kaki disana. Kupetik beberapa tangkai bunga alakadarnya. Ternyata tidak susah menemukan makam Camelia yang memang cuma satu-satunya disana. Aku lalu duduk berdoa. Kutaburkan bunga-bunga yang kupetik tadi diatasnya. Dari dalam ranselku kukeluarkan buku hariannya, kemudian kuletakkan disamping nisannya.

Camelia, semoga engkau tenang di alam sana. Aku berdoa setengah berbisik. Tiba-tiba sebuah suara menyapaku dari belakang. Seorang bapak tua berdiri sekitar tiga meter dibelakangku. ”Maaf, anak ini siapa yaa?”, dia bertanya padaku. ”Saya teman kuliah Camelia dulu Pak”, aku menjawab sekadarnya. ”Oo, temannya. Seingat saya jarang sekali orang menziarahi makam itu. Kasihan Camelia, dia tidak punya keluarga. Mungkin selama ini cuma saya yang rutin merawat makamnya”. ”Maaf, bapak ini siapanya Camelia?”, aku penasaran bertanya. ”Oo, kenalkan saya Wak Somad, masih keluarga jauhnya Lia. Mungkin dia pernah bercerita tentang saya”, pak tua yang ternyata Wak Somad itu menerangkan siapa dirinya. ”Sudah ya nak, bapak mau pulang dulu. Terimakasih sudah menyempatkan diri menziarahi makam Lia”, pak tua itu berpamitan. ”Oo ya ya ya, silahkan pak”, aku mempersilahkan. Aku melanjutkan berdoa sampai beberapa menit kemudian.

”Selamat tinggal Lia”, bisikku ketika melangkah meninggalkan makam itu. Sekarang hatiku sudah sedikit tenang. Aku berusaha mengambil hikmah dari seluruh rangkaian peristiwa ini. Sambil melangkah aku tak sengaja mengamati sebuah makam yang kebetulan terletak disamping jalan setapak menuju ladang bunga. Samar-samar terbaca tulisan Wak Somad pada nisannya yang berdebu.

”Astaghfirullah al azim. Ya Allah, lindungilah hambamu yang lemah ini”, aku berbisik dalam hati. Selamat tinggal Lia. Selamat tinggal Wak Somad. Semoga kalian tenang disana. Aku mempercepat langkahku. Kutinggalkan desa itu dalam belaian angin senja, dan sayup-sayup azan maghrib.