Kalau ada hal yang paling saya benci dari negara-negara Arab selain adat suka gontok-gontokan mereka yang sangat terkenal itu, adalah sikap biadab sebagian warga negara mereka terhadap pembantu-pembantu (asal Indonesia). Jika mengingat hal ini saya kadang jadi lancang berpikir, rasanya sia-sia saja Islam menjamahi mereka selama 1400 tahun lebih. Sia-sia saja mereka dipilih Tuhan sebagai penyebar syiar pertama. Padahal salah satu ajaranNya yang paling fundamental adalah penghapusan perbudakan.

Kebiadaban yang justru mayoritas pelakunya adalah ummu-ummu (ibu-ibu) ini saya pandang tidak lebih adalah bentuk perbudakan yang telah termodernisasi. Sudah sangat banyak korbannya terbetik dalam berita. Dari mulai meninggal dunia karena disiksa, sampai ada yang gila karena trauma.

Namun kalau kita bicara tentang perbudakan, tentu bukan Bangsa Arab saja yang mengenalnya. Bangsa Amerika pun pernah terbiasa dengan praktek nista ini. Bahkan sindrom zaman perbudakan ini kerap masih tercium aromanya hingga kini. Baru-baru ini sebuah keluarga terpandang asal India yang kaya raya juga melakukan praktek penyiksaan terhadap seorang pembantu asal Indonesia. Mereka dikenal sebagai pengusaha parfum ternama di Amerika Serikat. Namun status itu ternyata tidak berkorelasi dengan tabiat mereka yang sangat jauh dari terminologi manusiawi.

Kita tidak tahu sampai kapan sistem perbudakan ini akan benar-benar hapus dari dunia. Di negara kita yang berbudaya feodal ini, terkadang kita masih dapat menjumpainya dalam berbagai bentuk. Istilahnya mungkin sudah berganti jadi woman trafficking atau semacamnya, namun pada hakikatnya sama saja. Saya berharap, semoga masih ada banyak orang yang memperhatikan hal ini dan berusaha mengambil tindakan untuk segera mengakhiri. Paling tidak dari lingkungan keluarga sendiri.