Seingat saya, dulu yang namanya trotoar ini adalah penanda peradaban kota. Kalau saya berkendara dari suatu daerah dan sekonyong-konyong menemukan trotoar dipinggiran jalan, maka dapat dipastikan bahwa saya barusaja meninggalkan sebuah kabupaten dan memasuki sebuah kotamadya atau ibu kabupaten. Saya tidak tahu apakah patron ini masih berlaku sampai saat ini.

Namun yang saya jumpai di Jakarta dan jamak kota-kota besar lainnya, trotoar ini sekarang tak lebih hanyalah sebuah zona tak bertuan. Pernah saya hampir diserempet taksi gara-gara ditrotoar ada pedagang makanan yang memajang gerobaknya secara melintang, dan tepat didepannya ada taksi yang sedang parkir. Terpaksalah saya berjalan di badan jalan, satu meter lebih dari bibir trotoar. Pernah juga saya hampir diserempet motor, cuma kali ini saya sedang berada diatas trotoar. Saya bingung sebenarnya trotoar dibuat untuk apa sih? Lebih konyolnya lagi, saya pernah hampir diserempet motor diatas jembatan penyebrangan. Masya Allah.

Di Jakarta ini dari mulai pedagang kaki lima sampai pot bunga serta tapal batas kelurahan berebutan menancapkan kekuasaan diatas trotoar. Tidak jarang juga sebuah pohon pelindung berdiameter besar ikut-ikutan mejeng diatas trotoar. Padahal disamping trotoar tersebut ada saluran air sedalam satu meter lebih tanpa batas pengaman. Malah kadang-kadang saya menjumpai telepon umum box ikut-ikutan nangkring di space utama trotoar. Sementara sang trotoar sendiri menyediakan sensasi bagaikan permainan russian roulette ketika kita melangkah diatasnya. Banyak lubang-lubang yang lebih besar dari ukuran sepatu ditemui. Atau bahkan lempengan beton yang berpindah tempat ketika diinjak.

Entahlah, saya tidak tahu kepada siapa harus mengadu. Mungkin mimpi untuk menikmati sehatnya berjalan kaki diatas trotoar yang beradab dan manusiawi harus saya pendam dulu. Tidak mungkin rasanya Jakarta menyamai Singapura.  Kalaupun bisa, mungkin hanya sebatas Kelapa Gading dan Karawaci saja. Tempat manusia beradab berada.