Akhirnya saya berkesempatan lagi menulis, setelah hampir sepuluh hari berkutat dengan pekerjaan. Dalam sepuluh hari itu, lama saya merenung memikirkan topik apa yang akan saya angkat. Berulang kali saya menulis sampai dua atau tiga paragraph, namun selalu berakhir dengan CTRL+A, DEL. Atau malah tidak jarang ketika saya nekat melakukan SAVE, satu menit kemudian saya melakukan klik, SHIFT+DEL. Ternyata saya juga munafik, tidak bisa memegang janji sendiri untuk tidak menulis jika tidak ada bahan. Sampai akhirnya saya teringat dengan petuah guru bahasa indonesia saya.

Saya berpikir, mungkin karena sibuknya pekerjaan, saya tak sempat lagi memperhatikan hal-hal kecil yang berharga, yang kadang saya temui diperjalanan, dan tidak jarang berbuah inspirasi tulisan saya. Hari ini, saya sempatkan berjalan-jalan di negeri blogger. Sering terpikir membuat satu postingan karena terinspirasi postingan teman, namun saya segera sadar, kalau saya melakukannya, berarti saya telah menyerah pada prinsip saya sendiri, untuk membuat tulisan yang se-original mungkin, paling tidak dari sisi sudut pandang. Sering pula saya terkadang kecewa (walaupun saya tahu saya tidak ada hak untuk kecewa dalam konteks ini) ketika menemukan, ide yang telah saya pendam-pendam, ternyata telah pernah dibahas orang. Salah satunya soal iklan paradox yang dilakukan perusahaan rokok Djarum dengan jargon “bhakti lingkungannya”.

Perjalanan ke-negeri blogger saya akhiri pada sebuah blog seleb yang dulu hampir tiap hari saya kunjungi. Penulisnya sangat terkenal (kebetulan salah seorang kakak kelas saya waktu kuliah). Sepintas saya lihat tidak ada yang berubah (mungkin bagi pengunjung lain ada yang melihat perubahan). Dalam pengamatan saya, ide dasarnya sangat bersahaja. Blog sang seleb itu sejatinya hanya berupa diary tentang mimpi dan cita-cita. Kalau sedikit di fokuskan mungkin saya menyimpulkan mimpi dan cita-cita seorang laki-laki. Itu sudah cukup fokus menurut saya, karena parameter ruang dan waktu sifatnya konstan. Namun karena mimpi dan cita-cita (laki-laki) itu seringnya bersifat universal, maka dengan sendirinya ia menjadi dekat dengan mimpi dan cita-cita semua orang (laki-laki).

Apa itu? Tidak lain adalah pameo purba yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Yaitu Harta, Wanita dan Tahta. Berani sekali saya mengambil kesimpulan seperti itu? Apakah saya terlalu sok akrab dengan sang seleb sehingga lancang memberi label. Oh, tidak kebetulan sang seleb cuma satu dari sekian fakta empirik yang telah saya kumpulkan, sehingga membuat saya berani untuk menarik generalisasi.

Harta, Wanita dan Tahta. Dalam kamus modern, wa bil khusus dalam kasus anak muda kuliahan yang berjuang mengadu nasib di Jakarta akan menjelma jadi berbagai aktivitas seru. Pada tahun-tahun pertama, ia akan malih rupa menjadi perjuangan mencari pekerjaan yang bonafid, paling tidak gaji (materi) menjadi parameter utama. Anak muda akan berusaha untuk lebih dan lebih dari kompetitornya (katakanlah orang-orang yang dia daulat secara sepihak sebagai kompetitornya, misalnya rekan kerja atau teman kuliah). Selanjutnya ia mulai terpikir berumah tangga, mulai memfokuskan diri untuk mencari wanita baik-baik, dengan standar yang berbeda dari masa pacaran dulu. OK, yang barusan terkabul. Maka selanjutnya ia mulai memikirkan rumah, mobil, asuransi, reksadana, investasi dan segala macam rombongannya. Sudah cukup? Tentu saja belum, ia mulai berpikir untuk berkuasa (katakanlah untuk scope tertentu). Ini bisa dimulai dengan membangun networking, mencari backingan dan lain-lain cara yang terbukti ampuh.

Lalu akan kemana semua bermuara? Kalau dilihat trend sekarang yang paling banyak adalah menjadi pengusaha sekaligus penguasa (dalam spektrum yang cukup luas). Barangkali itu yang didamba. Namun apa setelah yang tiga itu? Saya khawatir jangan-jangan hal yang keempat adalah Lupa. Fitrah manusia yang paling purba. Terlena dengan semuanya.

Siapa yang sedang saya bicarakan. Saya sedang membicarakan Anda, mereka dan orang yang senantiasa saya lihat didalam cermin ketika saya akan berangkat bekerja.