vcd-giant_2.jpg

Pagi ini akhirnya saya bisa merasakan bagaimana menderitanya Nobita, Suneo dan Shizuka ketika dipaksa menonton konser Giant. Suara emas Giant pagi ini hadir dalam penampakan nyata lewat seorang “seniman bus kota” yang naik di perempatan Pancoran. Saya sebagai pengamat dan objek penderita berada diatas bus P46 (Kampung Rambutan – Grogol). Giant berdiri menghadap saya dalam jarak sekitar 80 cm.

Pria tambun berkulit gelap yang tampak sehat wal afiat ini, total menyita perhatian saya sekurangnya selama 15 menit. Tiga lagu yang sangat menyiksa ia lantunkan dalam bus kota yang merayap dalam kemacetan yang padat di ruas Gatot Subroto antara Pancoran dan Kuningan. Dengan suara kualitas TOA-nya, ia begitu digdaya menyiksa penumpang bus kota. Saya sendiri beberapa kali memicingkan mata ketika ia memaksakan diri mencapai nada tinggi dalam sebuah lagu. “Mengapa… oh mengapa, aku tak berdaya”, begitulah salah satu cuplikan lagu Broery yang dibawakannya. Dalam hati saya meneruskan, “mengapa engkau harus hadir di dunia?”. Pada lagu ketiga (Kasih Tak Sampai – Padi) ia mulai tumbang pada potongan “tetaplah menjadi bintang dilangit …”. Pria tambun itu tersedak dan batuk-batuk tersengal. Penonton tertawa. Saya mengucap syukur:mrgreen:

Dalam hati saya benar-benar mempertanyakan motivasinya mengamen, apakah dia sengaja menciptakan situasi yang tidak nyaman. Sebab dalam pengamatan saya, sejauh ini memang ada dua tipe seniman bus kota. Jenis satu benar-benar jual suara, jenis kedua adalah sebaliknya. Penumpang ingin segera memberi recehan untuk mengakhiri penderitaan.

Di perempatan Kuningan Giant turun. Semua penumpang menarik napas lega.