You are currently browsing the monthly archive for July 2007.

Berlatarbelakang akan keprihatinan saya akan semakin pudarnya dan semakin tidak populernya lagu-lagu Minang pada masa keemasan periode 1950-1995 pada saat ini, maka saya mencoba untuk mengambil inisiatif menjadikan blog sebagai salah satu saranan pengarsipan lagu-lagu ini, terutama liriknya.

Kenapa hanya lirik dan kenapa harus pada rentang 1950-1995. Karena dalam pemahaman saya pilar utama kekuatan lagu Minang itu adalah pada liriknya bukan melodinya. Lirik-lah yang menegaskan identitas ke-Minang-an pada lagu itu. Andaikata lirik tersebut memakai bahasa Melayu atau bahasa Indonesia sekalipun, jika lirik nya masih memegang kaidah lagu Minang itu, maka ia tetap digolongkan lagu Minang. Kenapa bukan melodi atau aransemen musiknya?

Melodi dan aransemen musik memang memiliki andil penting dalam sebuah lagu Minang, namun karakter seni suara dari Ranah Minang ini (khususnya kontemporer/non klasik) amatlah terbuka. Aransemen musik dalam lagu Minang kontemporer, tidaklah harus seragam patronnya. Ini bisa dilacak dari karya-karya Gumarang Group pada era 1950-an sampai karya-karya kontemporer di era 1990-an. Pada rentang selama itu, aransemen musik lagu Minang telah menembus batas-batas yang tidak terbayangkan sebelumnya. Irama Latin, Cha-cha, Reggae, Gambus, Melayu, Orchestra, Dangdut, Batak Trio, Karo bahkan Jawa dan Sunda pernah dipergunakan. Bahkan jenis-jenis aransemen hasil kawin silang dan penemuan baru pun tak kalah sering dimunculkan. Karakter masyarakat Minang yang sangat terbuka sangat mendukung inovasi-inovasi ini.

Kita kembali ke permasalahan lirik. Jamak diketahui khalayak Minang, bahwa sejak 1995 sampai sekarang terjadi dekadensi seni pada lagu Minang. Apa pasal? Tidak lain tidak bukan adalah karena lirik yang tidak berkualitas lagi. Salah satu penyebabnya adalah infiltrasi lagu-lagu pop Indonesia pada era cengeng (akhir 1980-an). Read the rest of this entry »

Advertisements

Ueenak Tenaaan! Begitulah komentar saya ketika akhirnya membaca berita ini di Gatra. Sebenarnya sih saya berusaha untuk menjauhi topik-topik ini untuk ditulis. Alasannya karena udah banyak juga yang nulis seperti disini dan biasanya juga bakalan dibahas disini. Namun suatu kejadian luarbiasa kemarin, membikin tangan saya gatal sehingga hati saya tak kuasa menahannya untuk menulis ini juga.

Jadi gini ceritanya. Departemen Keuangan yang mengklaim dirinya sebagai pioneer reformasi birokrasi, menjadikan metode remunerasi ini sebagai pilar utama agenda mulianya ini. Nah terkait remunerasi ini, konon kabarnya (loh ini udah pasti sih) para pegawai istana duit itu akan memperoleh kenaikan tunjangan yang jumlahnya sangat wah, menurut ukuran saya sebagai buruh IT. Tunjangan yang dalam istilah mereka dikenal sebagai tunjangan khusus pembinaan keuangan negara (TKPKN), ini akan diberikan pada seluruh pegawai dengan rentang 27 grade.

Nah, grade terendahnya saja, yaitu grade 1 bakalan menerima 1,33jt,bisa dibayangkan donk segimana gedenya grade 27. Nambah lagi, khusus untuk pegawai Ditjen Pajak bakalan mendapat extra yang dinamakan tunjangan kerja tambahan (TKT). Makin makmur saja.

Lalu kenapa saya usil mengangkat topik ini. Selain alasan ngiri sih karena alasan sirik aja. Masalahnya alasan kenaikan itu secara bahasa indahnya adalah untuk mengantisipasi beban kerjaan yang berat dan beresiko (baca:rawan penyuapan dan kongkalikong). Jadi ceritanya remunerasi ini diharapkan menjadi pagar moral bagi mereka. Komentar skeptis dan tsuudzon saya : ahh, yang bener aja. Itu kan tergantung orangnya. Kalau tuh orang mengidolakan Paman Gober ya ga ngefek metode ini. Malah tambah senang dia.

OK, sekian pembahasannya. Latar belakang saya menulis ini sih cuma gara-gara kemarin saya barusaja menolak tawaran kerja di BNI, karena saya lebih memilih untuk jadi teknokrat miskin ketimbang birokrat kaya. Selain itu sampai sekarang saya masih dengan teguhnya memegang ideologi Say No to PNS. Bukan apa-apa sih, cuma saya merasa lebih mulia aja membayar pajak untuk gaji mereka, ketimbang makan gaji dari pajak orang-orang swasta yang benar benar banting tulang untuk survive. Latar belakangnya gak nyambung ya? Ya udah, disambung sambungin aja 😆

Pada akhirnya saya bisa memahami kenapa teman-teman kecil saya (teman saya waktu kecil) berbondong-bondong bercita-cita sebagai tentara atau pulisi. Dulu sih saya berpikir, aneh betul mereka itu, memangnya dapat apa sih jadi tentara/pulisi. Tapi mangkin hari saya mangkin sadar bahwa kanca-kanca saya itu sebenarnya bijaksana sekali meskipun masih cilik. OK, inilah beberapa keuntungan atau fasilitas yang ditawarkan oleh profesi yang langsung mengubah status pemilik profesi itu menjadi warga negara kelas satu (premium class citizen).

  1. Gratis naik angkutan umum jenis angkot, angdes, AKDP maupun AKAP. Mungkin dalam beberapa tahun kedepan bisa diperluas untuk angkutan umum jenis busway maupun bajaj.
  2. Discount antara 15%-20% untuk angkutan umum jenis pesawat udara, kereta api, dan pelni.
  3. Bebas kebut-kebutan dijalan raya karena peraturan tilang hanya diperuntukkan bagi warga negara kelas dua dan segala macam pelanggaran hanya mungkin dilakukan oleh warga negara kelas dua.
  4. Halal mendapatkan penghasilan tambahan diluar profesi resmi, serta diperbolehkan untuk memiliki tempat-tempat khusus mendulang uang, seperti perempatan-perempatan dan tikungan-tikungan.
  5. Halal membackingi usaha-usaha maksiat jika dalam keadaan ”darurat”, misalnya tempat prostitusi atau perjudian.
  6. Dikagumi masyarakat sebagai pencinta perdamaian. Berhak menerima kompensasi materi setiap kali masyarakat mengucapkan kata ”damai”. Damai itu Sejahtera.
  7. Boleh bermain-main dengan senjata api tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain tertembak.
  8. Kebal hukum pada kasus-kasus tertentu yang disepakati.
  9. Boleh mengeroyok dan menyerang rame-rame objek-objek tertentu atas nama solidaritas tanpa perlu mempertimbangkan aspek hukum. Ingat, hukum itu hanya makanan warga negara kelas dua.
  10. Hukuman (jika lagi apes) terberat adalah dipindahkan menjadi staff ahli di markas besar masing-masing.

Bagaimana? Anda tertarik untuk menjadi premium class citizen? OK, penawaran termurah saat ini berkisar sekitar 30-35 jt untuk kelas bintara. Untuk tipe-tipe lainnya, silahkan hubungi markas besar terdekat untuk informasi selengkapnya.

Hipotesa 1 : Remaja Indonesia tahun 80’an senang mencari perhatian

Frasa Preparat : aksi

Dipopulerkan oleh : remaja tahun 80’an, yang doyan pake pakaian olahraga plus ikat kepala warna-warni sama gelang kain warna-warni (saya kurang tahu istilahnya apa). Contoh orang bisa dilihat di salahsatu videoklip club eighties atau film Back to the Future

Hipotesa 2 : Remaja Indonesia paruh awal 90’an senang memamerkan gigi dan jari tangannya

Frasa Preparat: metal

Dipopulerkan oleh : grup band rock aliran metal

Hipotesa 3 : Remaja Indonesia paruh akhir 90’an memuja ideologi narsisme

Frasa Preparat: keren, funky

Dipopulerkan oleh : Lupus

Hipotesa 4 : Remaja Indonesia tahun 2000-an membenci sikap antisosial

Frasa Preparat: gaul

Dipopulerkan oleh : kurang tahu juga siapa, yang jelas tiba-tiba jadi populer

Hipotesa 5: Remaja Indonesia senang melihat penderitaan orang lain

Frasa Preparat: kaciaaan dech loe

Dipopulerkan oleh : seorang banci pada sebuah sinetron yang saya lupa judulnya

Hipotesa 6: Remaja Indonesia malas berpikir

Frasa Preparat: e ge pe, emang gue pikirin

Dipopulerkan oleh : idem dengan hipotesa 4 (mungkin penonton ada yang tahu)

Hipotesa 7: Remaja Indonesia sering tulalit dalam memahami maksud ucapan orang lain

Frasa Preparat: maksud loh???

Dipopulerkan oleh : masih idem dengan hipotesa 4

Hipotesa 8: Remaja Indonesia merasa selalu benar dan tidak pernah salah

Frasa Preparat: so what gitu loh???

Dipopulerkan oleh : juga masih idem dengan hipotesa 4

Hipotesa 9: Remaja Indonesia tidak peduli pada situasi sekitar dan penderitaan orang lain

Frasa Preparat: I don’t care!

Dipopulerkan oleh : Yang Mulia Presiden Republik Indonesia DR.H.Susilo Bambang Yudhoyono

Hipotesa 10: Remaja Indonesia berwawasan intelektual rendah

Frasa Preparat: mene eke tehe

Dipopulerkan oleh : Project Pop (bener ga sih?)

Hipotesa 11: Remaja Indonesia pemalas dan tidak cocok untuk memasuki era globalisasi

Frasa Preparat: cappe deech …

Dipopulerkan oleh : entah siapa

Hipotesa 12: Remaja Indonesia membenci peribahasa berakit-rakit kehulu berenang-renang kemudian

Frasa Preparat: gitu aja koq repot!

Dipopulerkan oleh : Gus Dur

Saya terpaksa menyebarluaskan (mengkupipes) berita ini, karena sangat memalukan

Kru Trans 7 Diperas Warga Jembatan Akar
Padang, 20 Juli 2007 08:58

Dua orang kru program siaran “Laptop Si Unyil” Trans 7 diperas sejumlah warga di Jembatan Akar (jembatan yang terbuat dari akar pohon), Kab Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat. “Kami dimintai uang secara paksa, karena memakai lokasi untuk syuting, dan bayaran bagi anak-anak sebagai figuran pada segmen pengambilan gambar program `Laptop Si Unyil` di objek wisata itu,” kata kamerawan Trans 7 Ferry Rizky, didampingi reporter Dian, di Padang, Rabu (18/7).

Perlakuan tidak mengenakan itu terjadi, saat pengambilan gambar di objek wisata alam Jembatan Akar, Selasa (17/7), untuk disiarkan di Trans 7 sebagai segmen tayangan anak-anak. Padahal dari tayangan tersebut, objek wisata Jembatan Akar mendapat promosi ke tingkat nasional, dan semakin dikenal wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

“Sejak awal kami memang menyiapkan ‘dana terima kasih’ bagi anak-anak yang dipakai sebagai figuran, namun cara memaksa ditunjukan oknum masyarakat setempat terasa tidak menyenangkan,” katanya menyesalkan. Ia menjelaskan, kronologis tindakan itu berawal dari pengambilan gambar di Jembatan Akar butuh maksimal lima orang anak untuk figuran. Namun saat syuting dilakukan, semakin banyak anak-anak datang dan minta ikut syuting.

Setelah itu datang warga (dewasa) yang memaksa agar jumlah anak ditambah, dan akhirnya ditambah menjadi tujuh. Tapi yang datang lebih dari sepuluh orang. Usai pengambilan gambar, warga itu meminta bayaran Rp 50 ribu/anak untuk lebih dari tujuh anak. “Saya terpaksa negosiasi karena jika semua anak dibayar Rp50 ribu per orang, jelas dana kami tidak cukup, tapi mereka tetap memaksa Read the rest of this entry »

  1. Dianggap sombong dan sok pintar. Alasannya karena terkadang saya secara frekuentif dan akumulatif tidak sadar telah terlalu sering mengadopsi terminologi akademis atau populer untuk membumbui tulisan-tulisan saya. Rasanya kurang edukatif kalau tidak pakai istilah-istilah itu.
  2. Dianggap blagu. Because saya suka pamer kata-kata bahasa Inggris yang baru saya pelajari. Dan sebenarnya it’s not so important to replace sebagian frasa normal itu dengan bahasa Inggris. But I think, that’s not the real me if saya not use kata-kata itu.
  3. Dituduh musyrik. Berhubung saya telah serampangan memuja muja bendera yang keramat itu dengan darah dan air mata diatas segalanya. Memangnya salah apa jika saya bilang darah saya pun warnanya merah putih.
  4. Dianggap abuustadz. Padahal saya itu sebenarnya cuma sedang muhasabah. Antum saja yang tsuudzon menganggap saya memakimaki antum. Saya cuma sesekali menasihati antum. Masya Allah, tuduhan antum itu benar-benar tercela. Allahu yahdikum.
  5. Dianggap kampungan. Lha sakjanipun saya ini memang seneng je pake dialek ini. Lha wong ndak ada sing nglarang. Lho kok malah sampeyan sing teriak-teriak katro sama saya. Jelek-jelek gini saya pernah ngampus lho nang sekolah gadjah. Tenan lho iki.
  6. Dianggap sastrawan. Lantaran dalam berbahasa saya suka merangkai rangkai kata nan indah menjunjung makna. Tidak terbersit dalam fikiran saya bahwa bahagian-bahagian nya akan menjelma menjadi gurindam pelerai lara. Saya hanya berpantun sahaja. Jikalau awda takzim merasa, berbunga pula hati hamba.
  7. Dituduh provokator. Lho itu hak saya kalau saya bilang masakan padang pakai ganja. Ingat lho saya hanya bilang. Bukan pendapat saya itu. Kalau masakan padang pakai jin saya juga pernah dengar. Mungkin suatu ketika akan saya tulis juga.
  8. Dituduh fanatik dan apatis. Padahal saya nggak bermaksud begitu lho. Salah sendiri jamaah sholat jum’atnya teriak-teriak didepan kuping saya. Saya kan punya hak juga untuk berdoa secara khusyuk. Ini khutbah jum’at apa konser band rock sih. Aya aya wae.
  9. Dituduh tidak nasionalis. Ah masa sih, saya kan gak pernah mengkampanyekan pemberontakan. Cuma menurut saya pemecatan kapolri gara-gara insiden tari-tarian RMS itu terlalu berlebihan deh. Memangnya itu ngefek apa sama orang Jakarta. Norak banget sih itu anggota DPR.
  10. Dituduh anti keberagaman. Ini pendapat siapa lagi sih. Normal kan kalau saya terganggu sama khotbah-khotbah nggak jelas diatas bus kota itu. Orang saya sukanya dengerin lagu qasidah yang sejak kecil sering diputer di mushola kampung saya. Reseh banget tuh pengamen. Bikin saya emosi aja. Coba kalau saya yang jadi sopir. Pasti sudah saya usir. Emosi saya.

 

Setelah meraih sukses pada sinetron berjudul Kalap!, penulis kembali dengan sajian terbaru berjudul Kebakaran Jenggot. Sinetron ini bertipe sinetron lepas yang akan terbagi atas beberapa episode pendek yang saling tidak berkaitan. Meskipun begitu, setiap episode hanya memiliki dua tokoh utama yaitu Pak Djenggot dan Si Mulut Usil. Kenapa Pak Djenggot? Ahh jangan tsuudzon dulu, lha wong judul sinetronnya aja Kebakaran Jenggot kenapa saya harus pusing-pusing memikirkan sebuah nama keren untuk lakon saya ini.

Pak Djenggot ini merupakan personifikasi dari manusia dengan karakter paranoid, reaktif, gegabah, latah dan karib-karibnya. Sedangkan Si Mulut Usil sebenarnya cuma figuran saja. Namanya cukup mewakili karakternya. Ada yang kurang? Atau Anda masih penasaran dengan wajah Pak Djenggot ini. Yahh itu sih terserah Anda. Kalau Anda ingin membayangkan sosok pria dengan jenggot ketakwaan, bayangkanlah ustadz Anda. Kalau Anda ingin mengkhayalkan pria dengan jenggot aksesoris nan modis, bayangkanlah Andi Malarangeng misalnya. Atau Anda lebih suka jenggot idealis? Anda bisa membayangkan Karl Marx atau Fidel Castro untuk tujuan itu. Semua terserah Anda. OK, kita mulai saja ceritanya. Eng ing eng …

Episode Satu : Insiden Pengibaran Bendera Benang Radja di Amboina

Si Mulut Usil : Pak Djenggot, tadi saya nonton tipi. Katanya di Ambon sana ada insiden tarian cakalele. Kelompok RMS mengibarkan bendera separatis 15 meter didepan Presiden.

Pak Djenggot: Apa? 15 meter? Untung yang dibawa itu bendera. Kalau bom bagaimana? Kalau AK47 bagaimana? Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 313,297 hits
%d bloggers like this: