Kasus Pertama

Ini sebuah kisah fiktif yang saya yakin tidak terlalu mengada-ngada. Kisah ini saya saksikan pada paruh terakhir sebuah DVD berjudul Kabul Express. Pada fragmen tersebut ada adegan seorang tentara (intel) Pakistan yang barusaja tiba di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Tentara ini bepergian ke Afghanistan untuk menemui anaknya yang kawin lari dengan seorang pemuda Afghanistan yang tinggal disebuah desa di perbatasan kedua negara. Untuk tujuan itu sang bapak menyamar sebagai Taliban.

Sekembali kenegaranya ia berhadapan dengan tentara penjaga perbatasan. Saat itu ia tentu saja tidak sedang mengenakan seragam resmi militer Pakistan. Ia berdiri dari seberang sungai yang berjarak sekitar 30 meter dari menara perbatasan, sambil melambai-lambaikan passport dan kartu identitas tentaranya. Tentu maksudnya agar penjaga perbatasan dapat mengenalinya dan membiarkan ia melintas dengan terlebih dahulu memeriksa identitasnya.

Namun apa yang terjadi, begitu ia meyebrangi sungai ia ditembak mati oleh tentara penjaga perbatasan. Apa pasal? Sederhana saja, si penjaga perbatasan sudah diwanti-wanti oleh komandannya bahwa, tidak ada seorangpun warga Pakistan saat itu yang berada di Afghanistan. Si penjaga perbatasan sedemikian patuhnya bahkan ia mengabaikan permintaan temannya untuk memeriksa dulu sang calon pelintas batas. Toh ia tidak memiliki senjata, dan secara logika tentu tidak berbahaya. Tapi indoktrinasi selalu bisa mengalahkan logika. Kalau logika saja kalah, apalagi nurani.

Maka mati sia-sialah si pelintas batas yang tidak lain adalah tentara Pakistan sendiri dan sekaligus warga negara Pakistan. 

Kasus Kedua

Ini sebuah kisah nyata yang saya saksikan di televisi beberapa hari setelah tertangkapnya Abu Dujana. Dalam sebuah wawancara, seorang wartawan menanyai Abu Dujana, “Ustad (entah kenapa pula dia memanggil dengan sebutan ini), kenapa ustad tidak memberitahukan saja kepada Polisi rencana aksi Noordin M .Top, kalau memang ustad tidak sejalan pemikiran dengan ybs. Bukankah dengan mendiamkan hal itu, ustad telah membiarkan aksi yang menghilangkan nyawa manusia tak berdosa, dan diantara mereka juga ada yang muslim?”. Jawab sang Abu, “kami tidak ada kepatuhan terhadap pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam, dan haram hukumnya kami menyerahkan saudara sesama muslim”.

Anda lihat ketidakkonsistenannya? Abu Dujana menolak melaporkan (menyerahkan dalam bahasa dia) saudara sesama muslim nya (Noordin), kepada pemerintah (yang juga muslim) dan lebih memilih untuk membiarkan terjadinya penumpahan darah manusia tak berdosa (yang sebagiannya tentu juga muslim).

Indoktrinasi tentang “tidak ada kepatuhan terhadap pemerintah yang tidak menjalankan syariat”, telah menutupi nuraninya tentang kemungkinan timbulnya korban dari kalangan tak berdosa yang juga seagama dengannya. 

Kasus Ketiga

Masih banyak diluar sana. Pelakunya bisa siapa saja. Militan, Praja IPDN, Teroris, Polisi, Tentara, oknum Ormas dan lain sebagainya. Intinya, karena indoktrinasi, ideologi, perintah dan semacamnya, mereka dapat melakukan hal-hal yang berada diluar akal sehat kita. Nurani dan Logika sebagai benteng pertahanan akal sehat mereka sudah tidak memegang peranan lagi. Bagaimana menurut Anda?