Sakali aia gadang, sakali tapian barubah (setiap kali air bah datang, maka lembah sungai akan berubah)

Sebagaimana Jawa Timur dikenal sebagai basis massa Islam Tradisionalis (katakanlah NU) di republik ini, Sumatera Barat juga dikenal sebagai basis massa Islam Modernis sejak awal abad ke-20. Jawa dengan sejarah Islam-nya yang dirintis oleh Wali Songo telah cukup kita kenal dalam buku-buku sejarah. Strategi pendekatan kultural yang dijalani oleh kelompok ulama ini, ternyata lebih mengena di sanubari masyarakat Jawa (dan juga sebagian Sunda pesisiran seperti Cirebon). Dan hasilnya masih bisa kita lihat saat ini, yaitu sebuah warna Islam yang unik dan sangat khas Indonesia.

Lalu bagaimana dengan Minangkabau (Sumatera Barat dan Daerah-daerah sekitarnya)? Seperti apa pola penyebaran Islam yang terjadi disana, sehingga daerah ini kemudian dikenal sebagai basis massa Islam modernis (katakanlah Muhammadiyah sebagai kelompok yang terbesar). Saya akan menyajikan dalam uraian ringkas dibawah.

Sejarah panjang penyebaran Islam di Minangkabau menurut HAMKA telah dimulai pada abad ke 7 (sezaman dengan Khulafaur Rasyidin), ini dibuktikan dengan catatan sebuah misi dagang Tiongkok, yang bersaksi bahwa telah ada kelompok-kelompok masyarakat asal Timur Tengah (Arab dan Persia) di kota metropolitan pantai barat Sumatera saat itu, yaitu Barus. Di Barus saat itu juga telah bermukim masyarakat yang berasal dari Minangkabau. Dengan demikian dimungkinkan terjadi persinggungan budaya.

Setelah itu tidak ada catatan sejarah lagi. Sejarah Minangkabau baru muncul lagi dalam tulisan pada masa Kerajaan Pagaruyung Hindu (1347-1375) yang masih ada kaitan politik dengan Majapahit di Jawa Timur. Sebagian peneliti sejarah meyakini, pada periode ini telah hidup dengan rukun tiga agama di Minangkabau, yaitu Hindu sebagai agama resmi kerajaan, Buddha sebagai agama masyarakat kebanyakan, dan Islam sebagai agama masyarakat pesisiran dan pendatang. Saat itu di Minangkabau juga berdiam komunitas asal India Selatan dalam jumlah yang signifikan, dimana dibuktikan dengan temuan prasasti yang ditulis dalam dua jenis aksara(bahasa), yaitu aksara pallawa (dalam bahasa sansekerta) dan aksara India selatan.

Dari era 1400-an sampai era 1600-an Minangkabau kembali lenyap dalam berita. Huru-hara politik yang berdarah-darah antara pendukung sistem pemerintahan nagari yang federal dengan keluarga kerajaan Pagaruyung Hindu menjadikan banyak bukti sejarah hilang. Periode ini dipercaya sebagai periode dekonstruksi sejarah Minangkabau yang baru, dengan ciri yang paling khas adalah penghapusan kerajaan Pagaruyung Hindu dari sejarah resmi.

Hipotesa yang berkembang, pada saat itu dimungkinkan para pengampu sistem pemerintahan nagari bersepakat untuk memutus sejarah dengan cara menghilangkan bukti-bukti tertulis yang berkaitan dengan Pagaruyung Hindu. Sejarah selanjutnya akan ditetapkan standar baku yaitu mitos bahwa penduduk Minangkabau bernenek moyangkan Iskandar Zulkarnain, dimana salah satu dari anaknya berlayar ke selatan dan mendarat di gunung marapi yang waktu itu sekelilingnya masih lautan. Putra Iskandar Zulkarnain yang dinamakan Datuk Maharaja Diraja ini dipercaya sebagai nenek moyang orang Minangkabau beserta rombongan yang dibawanya. Sejarah baru ini akan diturun temurunkan secara lisan.

Hipotesa sederhana saya, mitos (sejarah resmi negara) ini dibuat bukan tanpa alasan. Peranan penduduk yang terkait secara budaya dengan India selatan bisa ditelusuri dari gelar Maharaja Diraja ini. Sampai saat ini di India selatan masih ada komunitas yang sama-sama mengaku keturunan Iskandar Zulkarnain dan juga penganut matrilineal. Mereka-mereka ini berkemungkinan adalah keturunan sisa-sisa tentara penakluk dari kerajaan Macedonia (327 SM). Penaklukan oleh Iskandar Zulkarnain sendiri, secara resmi berhenti ditepian sungai Indus (Pakistan sekarang). Tentu masih ada tentara-tentara yang meneruskan perjalanan ke timur dan selatan menyusuri pesisir India, mengingat jarak yang sudah teramat jauh dengan pusat kerajaan di Macedonia.

Tahun 1600-an, wilayah pesisir Minangkabau jatuh kedalam kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam. Wilayah pesisir barat berubah menjadi pelabuhan-pelabuhan internasional, sehingga era baru tradisi tulisan kembali dimulai. Mazhab resmi Kerajaan Aceh Darussalam saat itu adalah Syiah. Saat itu banyak pelajar-pelajar agama asal Minangkabau yang belajar ke Aceh. Pelajar-pelajar asal Minangkabau pesisir ini pun membawa pulang ajaran Syiah. Bahkan Syekh Burhanuddin dari Ulakan-Pariaman, yang dikenal sebagai pendakwah besar pada zamannya juga mensyiarkan ajaran Syiah ke pedalaman Minangkabau.

Tahun 1600-an sampai akhir 1700-an (200 tahun) juga diketahui sebagai periode berkembangnya aneka macam Tareqat seperti Naqsyabandi dan Syattari. Tarekat Syattari ini masih punya basis massa di Ulakan sampai saat ini. Pada era inilah Islam menyebar ke pedalaman Minangkabau, menggantikan posisi Buddha, Hindu dan Animisme.

Lalu pada awal 1800-an datanglah air bah yang pertama yaitu gerakan Wahabi (atau yang dikenal dengan Salafy saat ini). Era ini dimulai dengan kepulangan tiga orang haji ke Minangkabau yang membawa faham Wahabi. Saat itu di Tanah Suci sana tengah berlangsung revolusi Wahabi. Dan selanjutnya dimulailah peristiwa berdarah-darah di Minangkabau. Dimulai dengan penaklukan satu persatu nagari-nagari (dengan cara dibakar) yang kemudian digabungkan dalam satu pemerintahan mirip kerajaan yang berpusat di Bonjol. Luhak Agam dan Lima Puluh Kota (2 dari 3 wilayah pusat Minangkabau) jatuh ketangan kelompok ini. Puncaknya adalah penaklukan Luhak Tanah Datar yang berakhir tragis yaitu pembunuhan massal terhadap keluarga Kerajaan Pagaruyung Islam dalam sebuah perundingan. Akhir dari kisah ini adalah Perang Paderi yang sangat terkenal itu. Dimana kaum adat dari Luhak Tanah Datar meminta bantuan Belanda ke Batavia.

Efek kejut oleh faham Wahabi ini sangat berdampak di Minangkabau dan merombak tatanan-tatanan yang telah stabil sebelumnya. Inilah awal Minangkabau mengenal faham yang jauh dari akar budayanya. Bahkan etnik Mandailing sempat mencatat peristiwa berdarah-darah ini sebagai Teror Mazhab Hambali.

Suasana panas berangsur menurun di paruh kedua abad 19 (1850-1900). Rekonsiliasi dalam masyarakat Minangkabau terjadi pada periode ini. Wilayah-wilayah taklukan Paderi seperti Luhak Agam dan Pasaman menjelma menjadi basis Islam puritan. Sementara wilayah-wilayah lain mulai berkenalan dengan mazhab Syafii.

Awal 1900-an, datanglah air bah yang kedua, yaitu kepulangan murid-murid Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi dari Mekkah. Syaikh Ahmad Khatib sendiri adalah pengajar asal Minangkabau yang memilih untuk menetap di Mekkah dan tidak mau pulang ke kampung halamannya karena tidak setuju dengan hukum waris yang berlaku. Salah satu dari murid Syaikh ini adalah Haji Rasul (Ayahanda dari Buya HAMKA).

Faham yang dibawa masih bertajuk puritanisme atau pemurnian agama Islam, namun metode yang dipakai sudah lebih lunak. Ini juga terkait dengan situasi yang berkembang di Tanah Suci saat itu, dimana revolusi Wahabi tidak populer lagi. Mazhab Hanafi dan Syafii saat itu populer di masyarakat. Organisasi-organisasi dan sekolah-sekolah Islam dengan gaya modern mulai didirikan. Embrio-embrio ini kemudian ada yang menjadi Muhammadiyah sekarang. Era ini adalah era kebebasan berpendapat. Segala macam faham diluar Hanafi dan Syafii juga masih ada. Tareqat-tareqat, kelompok tradisionalis, kelompok sosialis bahkan komunis mewarnai kehidupan masyarakat.

Masyarakat Minangkabau kenyang dengan aneka ragam mazhab yang berkembang saat itu. Dan ini berlangsung sampai awal kemerdekaan. Pada masa republik masih muda, Masjumi pun memperkenalkan Islam politik yang masih berkerabat dengan gerakan Ikhwanul Muslimun di Mesir sana. Dan pada akhirnya sampailah pada saat sekarang ini, dimana harakah-harakah dalam bentuk baru mulai muncul. Namun karena telah kenyang pengalaman, di Sumatera Barat saat ini tidak ada yang disebut baru lagi. Berbagai macam kelompok itu pun hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat tanpa gesekan. Kalaupun ada letupan-letupan kecil, biasanya disebabkan oleh sekelompok aliran yang di cap sesat oleh mayoritas.