Selama saya berpindah-pindah kota sejak kecil sampai saat ini, khutbah jum’at merupakan salah satu hal yang mendapatkan perhatian khusus dari saya. Pertama mengenal khutbah jum’at saat saya berumur 5 tahun. Walaupun belum terlalu rutin ikut ayah sholat jum’at, saya sudah dapat mencatat perbedaan antara khutbah jum’at dengan ceramah mingguan, yaitu pendengar tidak diperbolehkan menanggapi ucapan khatib. Ada yang aneh? Oo barangkali banyak yang menganggap begitu. Ditempat saya kecil, para pendengar ceramah agama, baik itu bapak-bapak ataupun ibu-ibu, lazim memberi tanggapan saat ustadz berceramah, layaknya sebuah acara talkshow di televisi. Penceramah dan yang diceramahi tak jarang terlibat perdebatan seru nan ditingkahi canda tawa. Begitulah, saking demokratisnya negeri saya, ceramah agama pun tak luput dari aktifitas dialog.

Oya, satu lagi yang saya ingat, ditempat saya kalau khatib sudah naik mimbar dilarang melakukan aktifitas diluar mendengarkan khutbah sang khatib. Baik itu berbicara, bertegur sapa, bersalaman maupun shalat sunat. Hal ini menjadi kebiasaan saya sampai sekarang, sehingga saya begitu dongkolnya jika ada jamaah yang terlambat lalu malah memaksa menyalami saya pada saat khatib sudah berkhutbah. Saya beranggapan bahwa ybs telah dengan sengaja memaksa saya membatalkan shalat jum’at saya. Sebab menurut ustadz-ustadz saya dikampung dahulu, khutbah dan shalat jum’at itu sendiri adalah satu kesatuan.

Dari satu khutbah jum’at ke khutbah jum’at yang menempuh jarak ruang dan waktu itu saya senantiasa mencatat berbagai hal. Dari mulai tatacara yang aneh-aneh (karena saya belum pernah menemui) sampai kebiasaan jamaahnya. Keragaman saya lihat paling menonjol di Jakarta. Sewaktu saya tinggal di Yogyakarta, saya tidak merasakan perbedaan yang berarti dengan kampung saya kecuali perbedaan bahasa. Maklum sama-sama wilayah Muhammadiyah. Di Jakarta saya banyak menemukan variasi-variasi baru yang kadang cukup mengganggu secara saya belum biasa menemuinya, seperti adzan dua kali, khatib pakai tongkat, shalawat keras diantara dua khutbah, teriakan amin saat khatib berdoa, sampai berdiri membentuk lingkaran setelah shalat jum’at lalu bershalawat. Dari segi saya sebagai perantau, saya cukup memakluminya. Lain lubuk lain ikannya.

Diluar tatacara dan hal-hal eksternal lain tentu saja ada sebuah hal penting yang sangat saya perhatikan yaitu content dari khutbah jum’at nya. Di kampung saya, hal yang paling sering dijadikan topik adalah ketauhidan dan tasawwuf serta berbagai cara mendekatkan diri kepada Allah. Khutbah berlangsung dalam nuansa syahdu dengan suara khatib yang hilang-hilang timbul. Jamaah terkantuk-kantuk dalam sunyi. Bahkan saat berdoa pun jarang terdengar amin-amin keras keras seperti di Jakarta.

Di Yogyakarta berhubung saya menghabiskan sebagian besar waktu shalat jum’at saya di Masjid Kampus UGM, topiknya lebih bervariasi. Hal yang menjadi ciri adalah kosakata akademis yang sangat mendominasi, berhubung yang mendengarkan memang mayoritas kaum “intelek”. Topik yang dibahas macam-macam dari mulai politik, mengkritik kebijakan pemerintah, isu internasional, harakah, tauhid, tasawwuf, ekonomi, pendidikan bahkan seks (walaupun cuma sebagai bumbu). Selama mengikuti khutbah jum’at di masjid ini ada seorang khatib yang khutbahnya sangat membekas dalam ingatan saya yaitu Yunahar Ilyas (petinggi PP Muhammadiyah). Bapak yang satu ini lumayan pelit dalam memberikan khutbah, bahkan durasi mukaddimahnya cukup beberapa patah kata saja. Namun content yang dibawakan sangat berbobot dan tanpa basa-basi langsung menusuk ke persoalan dan memberikan solusi. Cukup 15 menit saja bagi beliau untuk membahas secara tuntas. Waktu itu ceramahnya soal istidhrat yaitu kondisi dimana Allah mempertinggi tempat jatuh manusia yang kufur. Yaitu dengan cara membiarkan mereka terlena. Khutbah ini berlatar belakang sebuah pertanyaan, kenapa Jakarta yang paling banyak kemaksiatannya tidak kena musibah, sedangkan Aceh yang banyak orang alimnya malah kena tsunami.

Di Jakarta saya sedikit shock begitu mendengar khutbah jum’at. Isinya rata-rata berkisar pada topik permusuhan, ketertindasan, politik dan hal-hal panas lainnya. Sayangnya kerap diungkapkan dengan cara sembrono, sama sekali tidak mencerminkan kesan cerdas plus teriak-teriak sambil gebrak-gebrak meja (maaf untuk orang Jakarta). Sepengetahuan saya sebelumnya, hanya pendeta yang biasa teriak-teriak dalam ceramahnya agar jemaat tidak ngantuk (maaf juga untuk umat kristiani). Pada saat berdoa saya lebih shock lagi karena jamaah berebutan untuk meneriakkan amin dengan lengkingan yang luar biasa. Saya bertanya dalam hati, apa arti kekhusyukan dalam ibadah seperti ini. Saya benar-benar merasa kering.

Hari-hari berikutnya saya berkantor dibilangan Gunung Sahari disamping markas marinir. Setahun lebih saya mengikuti shalat jum’at di masjid komplek marinir. Bagi saya ini adalah tahun paling kering bagi batin saya. Khutbah-khutbah disana seolah olah telah disensor sehingga tidak ada memuat topik lain kecuali hubungan bermasyarakat (muamalah) dan hal-hal ringan (kalau boleh dibilang tidak penting) lainnya. Bapak-bapak marinir itupun terkantuk-kantuk mendengarkan. Hal yang paling mencolok adalah pemberian porsi yang mencolok untuk doa bersama dipimpin imam setelah shalat jum’at. Saya sendiri jarang mengikuti doa ini karena tidak biasa. Dikampung saya dulu jamaah berdoa sendiri-sendiri saja setelah shalat Jum’at.

Saking keringnya content yang dikhutbahkan di masjid marinir, saya beberapa kali nekat shalat jum’at ke daerah Gadjah Mada dekat Glodok, yaitu pada sebuah masjid yang sangat kental nuansa Arab-nya, yaitu Masjid Al Mubarak dibelakang toko buku Gramedia. Disini saya lebih kaget lagi, karena khatibnya yang kebetulan keturunan Arab juga doyan teriak-teriak. Masya Allah.

Awal Februari 2007, saat banjir besar melanda Jakarta saya tidak masuk kantor dan shalat Jum’at di sebuah masjid di jalan Percetakan Negara Raya, yang dari segi arsitekturnya saya kenali sebagai masjid Soeharto (Masjid Amal Bhakti Muslim Pancasila). Masjid seperti ini kerap saya temui di sepanjang Lintas Sumatra, terutama di basis-basis Golkar. Yang menarik ternyata khatib yang khutbah saat itu adalah seorang selebritis yang biasanya cuma saya lihat di tv. Dia adalah Ja’far Umar Thalib. Isi khutbahnya masih seputar banjir, namun lebih ditekankan kepada peringatan Allah tentang cobaan yang akan menimpa umat Islam.

Ada lagi satu hal unik yang suka saya catat dari beberapa khatib yang sepertinya lulusan pesantren, yaitu isi khutbah yang berisi pelajaran Bahasa Arab. Biasanya sang khatib memperkenalkan suatu kata dalam bahasa arab, dimana untuk membedah nenek moyang kata tersebut beserta segala macam bentuk tensesnya perlu waktu 10 menit. Entah apa gunanya. Contoh kata Islam, Yaslamu, Salimu, Musliman dkk.

Begitulah hal-hal unik yang saya ingat selama mendengarkan khutbah Jum’at. Biasanya kalau contentnya mulai basi, tidak jarang saya tertidur. Kecuali kalau sang khatib adalah tipe orator yang suka teriak-teriak dan gebrak-gebrak mimbar. Anda yang membaca tulisan saya tentu punya pengalaman unik juga bukan? Silahkan disharing disini. Semoga menjadi khazanah yang berharga.