1. Dianggap sombong dan sok pintar. Alasannya karena terkadang saya secara frekuentif dan akumulatif tidak sadar telah terlalu sering mengadopsi terminologi akademis atau populer untuk membumbui tulisan-tulisan saya. Rasanya kurang edukatif kalau tidak pakai istilah-istilah itu.
  2. Dianggap blagu. Because saya suka pamer kata-kata bahasa Inggris yang baru saya pelajari. Dan sebenarnya it’s not so important to replace sebagian frasa normal itu dengan bahasa Inggris. But I think, that’s not the real me if saya not use kata-kata itu.
  3. Dituduh musyrik. Berhubung saya telah serampangan memuja muja bendera yang keramat itu dengan darah dan air mata diatas segalanya. Memangnya salah apa jika saya bilang darah saya pun warnanya merah putih.
  4. Dianggap abuustadz. Padahal saya itu sebenarnya cuma sedang muhasabah. Antum saja yang tsuudzon menganggap saya memakimaki antum. Saya cuma sesekali menasihati antum. Masya Allah, tuduhan antum itu benar-benar tercela. Allahu yahdikum.
  5. Dianggap kampungan. Lha sakjanipun saya ini memang seneng je pake dialek ini. Lha wong ndak ada sing nglarang. Lho kok malah sampeyan sing teriak-teriak katro sama saya. Jelek-jelek gini saya pernah ngampus lho nang sekolah gadjah. Tenan lho iki.
  6. Dianggap sastrawan. Lantaran dalam berbahasa saya suka merangkai rangkai kata nan indah menjunjung makna. Tidak terbersit dalam fikiran saya bahwa bahagian-bahagian nya akan menjelma menjadi gurindam pelerai lara. Saya hanya berpantun sahaja. Jikalau awda takzim merasa, berbunga pula hati hamba.
  7. Dituduh provokator. Lho itu hak saya kalau saya bilang masakan padang pakai ganja. Ingat lho saya hanya bilang. Bukan pendapat saya itu. Kalau masakan padang pakai jin saya juga pernah dengar. Mungkin suatu ketika akan saya tulis juga.
  8. Dituduh fanatik dan apatis. Padahal saya nggak bermaksud begitu lho. Salah sendiri jamaah sholat jum’atnya teriak-teriak didepan kuping saya. Saya kan punya hak juga untuk berdoa secara khusyuk. Ini khutbah jum’at apa konser band rock sih. Aya aya wae.
  9. Dituduh tidak nasionalis. Ah masa sih, saya kan gak pernah mengkampanyekan pemberontakan. Cuma menurut saya pemecatan kapolri gara-gara insiden tari-tarian RMS itu terlalu berlebihan deh. Memangnya itu ngefek apa sama orang Jakarta. Norak banget sih itu anggota DPR.
  10. Dituduh anti keberagaman. Ini pendapat siapa lagi sih. Normal kan kalau saya terganggu sama khotbah-khotbah nggak jelas diatas bus kota itu. Orang saya sukanya dengerin lagu qasidah yang sejak kecil sering diputer di mushola kampung saya. Reseh banget tuh pengamen. Bikin saya emosi aja. Coba kalau saya yang jadi sopir. Pasti sudah saya usir. Emosi saya.