You are currently browsing the monthly archive for July 2007.

Sabtu akhir pekan kemarin saya menyempatkan diri berbelanja di Carrefour MT Haryono. Carrefour ini seperti dilokasi-lokasi lain juga mengusung konsep pasar serba ada dimana jika orang mengajukan pertanyaan “Ada Apa Aja?” pastilah jawabannya “Apa Aja Ada”. Begitulah sampai langkah kaki saya menyeret saya ke sayap timur pasar serba ada ini.

Sayap timur didominasi aneka makanan dan masakan siap saji dan siap bawa. Berbagai jenis penganan, kue basah tradisional, kue basah modern, bahan baku masakan, bahan mentah seperti ikan segar, kodok segar, buah dan juga lauk pauk disajikan secara terbuka dalam nampan-nampan lebar. Khusus untuk lauk pauk ini saya sempat menaruh perhatian. Melihat ragam jenisnya dan harganya yang tidak terlalu mahal, ingin rasanya membawa pulang barang satu dua macam, mengingat menu makan saya sebagai anak kost cenderung monoton.

carrefour-buffet.jpg

Namun cara penyajiannya yang bertipe prasmanan layaknya buffet menyurutkan langkah saya. Apalagi setelah saya perhatikan ruangan tempat lauk pauk itu disajikan sangat terbuka, dengan ratusan manusia berseliweran setiap saatnya. Tidak jauh darisana aneka bahan mentah seperti ikan segar, ikan asin, hewan laut dan bahan-bahan lain juga bersemayam. Walaupun jarang terlihat ada lalat, namun saya meragukan ke-hygienisan masakan-masakan yang ditaruh di nampan-nampan lebar itu. Apalagi para calon pembeli (dan atau pengunjung yang sekedar ingin tahu) dapat dengan leluasa mengobok obok masakan itu (dan juga kue-kue basah).

Saya berpikir, sudah berapa lamakah makanan-makanan itu berada disana. Apakah dari pagi sampai malam ia tergeletak saja disana. Lalu jikalau tidak habis pada hari itu, kemanakah makanan-makanan itu disalurkan. Apakah dijual lagi esok hari, apakah dibuang, ataukah disalurkan kepada catering atau rumah makan. Ahh, saya tidak mau melanjutkan angan-angan saya lagi. Saya segera angkat kaki darisana.

Advertisements

Selama saya berpindah-pindah kota sejak kecil sampai saat ini, khutbah jum’at merupakan salah satu hal yang mendapatkan perhatian khusus dari saya. Pertama mengenal khutbah jum’at saat saya berumur 5 tahun. Walaupun belum terlalu rutin ikut ayah sholat jum’at, saya sudah dapat mencatat perbedaan antara khutbah jum’at dengan ceramah mingguan, yaitu pendengar tidak diperbolehkan menanggapi ucapan khatib. Ada yang aneh? Oo barangkali banyak yang menganggap begitu. Ditempat saya kecil, para pendengar ceramah agama, baik itu bapak-bapak ataupun ibu-ibu, lazim memberi tanggapan saat ustadz berceramah, layaknya sebuah acara talkshow di televisi. Penceramah dan yang diceramahi tak jarang terlibat perdebatan seru nan ditingkahi canda tawa. Begitulah, saking demokratisnya negeri saya, ceramah agama pun tak luput dari aktifitas dialog.

Oya, satu lagi yang saya ingat, ditempat saya kalau khatib sudah naik mimbar dilarang melakukan aktifitas diluar mendengarkan khutbah sang khatib. Baik itu berbicara, bertegur sapa, bersalaman maupun shalat sunat. Hal ini menjadi kebiasaan saya sampai sekarang, sehingga saya begitu dongkolnya jika ada jamaah yang terlambat lalu malah memaksa menyalami saya pada saat khatib sudah berkhutbah. Saya beranggapan bahwa ybs telah dengan sengaja memaksa saya membatalkan shalat jum’at saya. Sebab menurut ustadz-ustadz saya dikampung dahulu, khutbah dan shalat jum’at itu sendiri adalah satu kesatuan.

Dari satu khutbah jum’at ke khutbah jum’at yang menempuh jarak ruang dan waktu itu saya senantiasa mencatat berbagai hal. Dari mulai tatacara yang aneh-aneh (karena saya belum pernah menemui) sampai kebiasaan jamaahnya. Keragaman saya lihat paling menonjol di Jakarta. Sewaktu saya tinggal di Yogyakarta, saya tidak merasakan perbedaan yang berarti dengan kampung saya kecuali perbedaan bahasa. Maklum sama-sama wilayah Muhammadiyah. Di Jakarta saya banyak menemukan variasi-variasi baru yang kadang cukup mengganggu secara saya belum biasa menemuinya, seperti adzan dua kali, khatib pakai tongkat, shalawat keras diantara dua khutbah, teriakan amin saat khatib berdoa, sampai berdiri membentuk lingkaran setelah shalat jum’at lalu bershalawat. Read the rest of this entry »

  1. Saya sebenarnya suka ngegosip tapi ga suka terlalu banyak bicara (lho?)
  2. Saya senang berkhayal, menciptakan tokoh-tokoh dan menjalin sebuah epik, tapi saya merasa sangat rugi ketika saya terjaga dari khayalan, tokoh-tokoh imajinasi saya itu juga ikut menghilang.
  3. Saya gandrung memprotes apa saja yang tidak sesuai dengan hati nurani saya.
  4. Saya sangat senang berdebat tentang apa saja karena menganggap itu adalah olahraga sekaligus budaya. Teman teman saya mengenal saya sebagai tukang ngeyel.
  5. Saya suka mengkhayalkan suatu penemuan namun kerap pusing sendiri kalau sudah mencapai tahapan teknis, sehingga saya lebih sering cuma melempar opini saja.
  6. Saya senang memotret apa saja baik pemandangan, suara maupun cerita. Saya terobsesi merekam segalanya.
  7. Saya senang bertemu dengan orang-orang yang sependapat dengan saya. Lebih senang lagi kalau bertemu yang tidak sependapat.
  8. Saya suka mempropaganda orang lain tentang apa saja yang saya suka dan saya anggap baik.
  9. Saya egois. Di blog saya dapat ngomong apa saja tanpa peduli orang baca atau tidak atau orang setuju atau tidak. Saya tidak peduli. Blog bagi saya adalah lautan tempat saya biasa berteriak.
  10. Kantor saya memiliki akses internet berlimpah. Namun friendster dan multiply di ban. Sedangkan saya bukanlah penggemar chatting apalagi penggemar game.

Pulanglah camar putih,

Senja tlah merekah merah

 

Apa lagi yang kau kejar camar putih,

Tiang sampan itu?

Kau lihat ia berlari,

Namun sejatinya ia tetap disitu sejak dahulu

 

Apa lagi yang kau tunggu camar putih?

Pulanglah segera sebelum larut senja

Sakali aia gadang, sakali tapian barubah (setiap kali air bah datang, maka lembah sungai akan berubah)

Sebagaimana Jawa Timur dikenal sebagai basis massa Islam Tradisionalis (katakanlah NU) di republik ini, Sumatera Barat juga dikenal sebagai basis massa Islam Modernis sejak awal abad ke-20. Jawa dengan sejarah Islam-nya yang dirintis oleh Wali Songo telah cukup kita kenal dalam buku-buku sejarah. Strategi pendekatan kultural yang dijalani oleh kelompok ulama ini, ternyata lebih mengena di sanubari masyarakat Jawa (dan juga sebagian Sunda pesisiran seperti Cirebon). Dan hasilnya masih bisa kita lihat saat ini, yaitu sebuah warna Islam yang unik dan sangat khas Indonesia.

Lalu bagaimana dengan Minangkabau (Sumatera Barat dan Daerah-daerah sekitarnya)? Seperti apa pola penyebaran Islam yang terjadi disana, sehingga daerah ini kemudian dikenal sebagai basis massa Islam modernis (katakanlah Muhammadiyah sebagai kelompok yang terbesar). Saya akan menyajikan dalam uraian ringkas dibawah.

Sejarah panjang penyebaran Islam di Minangkabau menurut HAMKA telah dimulai pada abad ke 7 (sezaman dengan Khulafaur Rasyidin), ini dibuktikan dengan catatan sebuah misi dagang Tiongkok, yang bersaksi bahwa telah ada kelompok-kelompok masyarakat asal Timur Tengah (Arab dan Persia) di kota metropolitan pantai barat Sumatera saat itu, yaitu Barus. Di Barus saat itu juga telah bermukim masyarakat yang berasal dari Minangkabau. Dengan demikian dimungkinkan terjadi persinggungan budaya.

Setelah itu tidak ada catatan sejarah lagi. Sejarah Minangkabau baru muncul lagi dalam tulisan pada masa Kerajaan Pagaruyung Hindu (1347-1375) yang masih ada kaitan politik dengan Majapahit di Jawa Timur. Sebagian peneliti sejarah meyakini, pada periode ini telah hidup dengan rukun tiga agama di Minangkabau, yaitu Hindu sebagai agama resmi kerajaan, Buddha sebagai agama masyarakat kebanyakan, dan Islam sebagai agama masyarakat pesisiran dan pendatang. Saat itu di Minangkabau juga berdiam komunitas asal India Selatan dalam jumlah yang signifikan, dimana dibuktikan dengan temuan prasasti yang ditulis dalam dua jenis aksara(bahasa), yaitu aksara pallawa (dalam bahasa sansekerta) dan aksara India selatan.

Dari era 1400-an sampai era 1600-an Minangkabau kembali lenyap dalam berita. Huru-hara politik yang berdarah-darah antara pendukung sistem pemerintahan nagari yang federal dengan keluarga kerajaan Pagaruyung Hindu menjadikan banyak bukti sejarah hilang. Read the rest of this entry »

Ini cerita sederhana dan pendek saja. Dari dulu saya tergelitik ingin menuliskannya. Jadi ceritanya saya melihat semacam tulisan kampanye perusahaan (PERTAMINA) disebuah SPBU disamping Patra Jasa depan Menara Jamsostek. Begini bunyinya kira-kira.

Di SPBU ini Anda berhak mendapatkan :

1.      3S , Senyum Sapa Salam

2.      BBM sesuai takaran yang benar

3.      Receipt (bukti/kuitansi) pembelian jika diminta.

Waduh-waduh ternyata di SPBU ini (dan juga SPBU sejenis) harga yang kita bayarkan sudah termasuk komoditas nomor 1, yaitu 3S. Kenapa saya bilang kita membayar, karena diatasnya ada tulisan Anda berhak. Ini adalah kata kunci transaksi. Fake smile memang sudah jadi komoditas. Dari SPG-SPG obat nyamuk sampai Customer Service Bank Mandiri menawarkannya. Tapi apalah artinya kalau bukan dari hati.

Kasus Pertama

Ini sebuah kisah fiktif yang saya yakin tidak terlalu mengada-ngada. Kisah ini saya saksikan pada paruh terakhir sebuah DVD berjudul Kabul Express. Pada fragmen tersebut ada adegan seorang tentara (intel) Pakistan yang barusaja tiba di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Tentara ini bepergian ke Afghanistan untuk menemui anaknya yang kawin lari dengan seorang pemuda Afghanistan yang tinggal disebuah desa di perbatasan kedua negara. Untuk tujuan itu sang bapak menyamar sebagai Taliban.

Sekembali kenegaranya ia berhadapan dengan tentara penjaga perbatasan. Saat itu ia tentu saja tidak sedang mengenakan seragam resmi militer Pakistan. Ia berdiri dari seberang sungai yang berjarak sekitar 30 meter dari menara perbatasan, sambil melambai-lambaikan passport dan kartu identitas tentaranya. Tentu maksudnya agar penjaga perbatasan dapat mengenalinya dan membiarkan ia melintas dengan terlebih dahulu memeriksa identitasnya.

Namun apa yang terjadi, begitu ia meyebrangi sungai ia ditembak mati oleh tentara penjaga perbatasan. Apa pasal? Sederhana saja, si penjaga perbatasan sudah diwanti-wanti oleh komandannya bahwa, tidak ada seorangpun warga Pakistan saat itu yang berada di Afghanistan. Si penjaga perbatasan sedemikian patuhnya bahkan ia mengabaikan permintaan temannya untuk memeriksa dulu sang calon pelintas batas. Toh ia tidak memiliki senjata, dan secara logika tentu tidak berbahaya. Tapi indoktrinasi selalu bisa mengalahkan logika. Kalau logika saja kalah, apalagi nurani.

Maka mati sia-sialah si pelintas batas yang tidak lain adalah tentara Pakistan sendiri dan sekaligus warga negara Pakistan. 

Kasus Kedua

Ini sebuah kisah nyata yang saya saksikan di televisi beberapa hari setelah tertangkapnya Abu Dujana. Dalam sebuah wawancara, seorang wartawan menanyai Abu Dujana, “Ustad (entah kenapa pula dia memanggil dengan sebutan ini), kenapa ustad tidak memberitahukan saja kepada Polisi rencana aksi Noordin M .Top, kalau memang ustad tidak sejalan pemikiran dengan ybs. Bukankah dengan mendiamkan hal itu, ustad telah membiarkan aksi yang menghilangkan nyawa manusia tak berdosa, dan diantara mereka juga ada yang muslim?”. Jawab sang Abu, “kami tidak ada kepatuhan terhadap pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam, dan haram hukumnya kami menyerahkan saudara sesama muslim”.

Anda lihat ketidakkonsistenannya? Abu Dujana menolak melaporkan (menyerahkan dalam bahasa dia) saudara sesama muslim nya (Noordin), kepada pemerintah (yang juga muslim) dan lebih memilih untuk membiarkan terjadinya penumpahan darah manusia tak berdosa (yang sebagiannya tentu juga muslim).

Indoktrinasi tentang “tidak ada kepatuhan terhadap pemerintah yang tidak menjalankan syariat”, telah menutupi nuraninya tentang kemungkinan timbulnya korban dari kalangan tak berdosa yang juga seagama dengannya. 

Kasus Ketiga

Masih banyak diluar sana. Pelakunya bisa siapa saja. Militan, Praja IPDN, Teroris, Polisi, Tentara, oknum Ormas dan lain sebagainya. Intinya, karena indoktrinasi, ideologi, perintah dan semacamnya, mereka dapat melakukan hal-hal yang berada diluar akal sehat kita. Nurani dan Logika sebagai benteng pertahanan akal sehat mereka sudah tidak memegang peranan lagi. Bagaimana menurut Anda?

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 324,874 hits
Advertisements
%d bloggers like this: