You are currently browsing the monthly archive for August 2007.

Lengkap sudah kekecewaan saya pada bank yang satu ini. Sedari awal saya sudah tidak ikhlas membuka rekening di bank ini, namun karena dipaksa oleh perusahaan saya terdahulu (dan juga tentunya oleh perusahaan sekarang) saya harus legowo menjalaninya. Padahal tidak ada sedikitpun keuntungan yang saya rasakan dengan menitipkan penghasilan saya di bank ini, walaupun hanya untuk beberapa hari. Pemotongan Rp.7.500,- sebulan meskipun kecil tetap saja membuat saya gigit jari. Belum lagi kartu ATM-nya yang sombong sama ATM bank lain. Sungguh, dalam 12 bulan terakhir ini, hampir setiap saya menerima gaji lewat rekening bank ini, dana itu tidak pernah saya biarkan menginap disana lebih dari 24 jam. Dengan segera secepat mungkin akan saya pindahkan ke bank kesayangan saya yaitu Bank Muamalat.

Saya pernah melobby perusahaan tempat saya bekerja (dahulu dan sekarang) untuk langsung mentransfer saja gaji saya ke rekening Shar-e saya di Bank Muamalat, namun entah konspirasi apa yang merasuki mereka, lobby saya selalu saja gagal dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat.

Jum’at kemarin, beberapa saat setelah gajian saya bersegera ke ATM BCA sepulang kerja untuk memindahkan hasil jerih payah saya sebulan ke Bank Muamalat kesayangan saya. Tapi apa nyana, setelah tiga kali transfer selalu gagal dan kartu dikeluarkan kembali dari mesin ATM. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Saya sudah menyangka pasti ada semacam gangguan koneksi yang sedang terjadi antara jaringan ATM BCA dengan Bank Muamalat.

Keesokan harinya, saya mencoba lagi di ATM BCA yang sama, di Wisma Millennia MT.Haryono. Delapan kali saya coba, delapan kalinya gagal. Saya mulai mencium aroma ketidakberesan. Saya langsung menelepon Halo BCA untuk menanyakan perihal sebenarnya, karena tidak normal apabila network down sampai berbilang hari. Setelah memasukkan nomor rekening untuk validasi dan menunggu sampai tiga kali, seorang customer service laki-laki menyapa saya dengan suara yang jauh dari kesan ramah. Saya langsung bertanya, ada apa dengan konektivitas antara jaringan ATM BCA dengan Bank Muamalat?

Tapi apa yang terjadi, sebelum mencari dan memberikan jawaban, dia bertanya kepada saya, siapa nama saya, nomor rekening saya, alamat saya sesuai KTP, tempat tanggal lahir saya, nama ibu kandung saya sebelum menikah, alamat kantor cabang tempat rekening BCA ini dibuka, saldo terakhir, saldo yang akan saya transfer dan beberapa pertanyaan lain yang menyebalkan. Setelah itu dia minta jeda, dan setelah total CS sialan ini menghabiskan pulsa handphone saya selama 5 menit dia pun memberikan jawaban, “Pak Fadli, sepertinya ada gangguan koneksi antara BCA dan Bank Muamalat, mungkin bapak bisa coba lagi bertransaksi 2 jam lagi, Ada lagi pak yang bisa saya bantu”.

Kontan saja saya langsung mengamuk. “Jadi cuma itu jawaban yang bisa saudara berikan setelah membuang-buang waktu saya dengan pertanyaan tidak relevan itu selama 5 menit? Jadi buat apa Anda tadi nanya-nanya segala macam, padahal kepentingan saya cuma ingin menanyakan, ada apa dengan jaringan ATM BCA ke Bank Muamalat. Seharusnya Anda itu mencek dulu kondisi jaringannya dengan bertanya ke bagian teknis. Ini malah membuang-buang waktu saya dengan verifikasi aneh-aneh. SOP kalian itu gimana sih?”. Tuts. Saya putus telepon saya saking kesalnya. Read the rest of this entry »

Advertisements

Saya berpikir lebih dari dua kali sebelum menulis postingan ini. Namun setelah mempertimbangkan bahwa efek kontroversi dan salah paham itu pun sifatnya relatif, maka saya beranikan diri untuk menulis karena saya sadar masih banyak pula orang yang berpikir lebih dari dua kali untuk memahami maksud saya setelah membaca artikel ini. Sedemikian sensitifkah artikel kali ini? Saya juga tidak punya prediksi tentang itu. Lagi-lagi ini relatif terhadap penafsiran pembaca. Seorang anggota TNI, mahasiswa dan politisi dimungkinkan untuk menafsirkan secara berbeda.

Mengawali opini saya, saya akan cuplikkan serpihan fakta yang saya comot dari media massa yang menjadi inspirasi postingan kali ini :

  1. Metro TV pada hari kemerdekaan menayangkan berita berjudul “Mantan Anggota GAM Menghadiri Upacara Hari Kemerdekaan RI”.
  2. Asrama mahasiswa Papua di Denpasar, Bali diteror orang tidak dikenal karena tidak memasang bendera merah putih.
  3. Sebagian warga Papua di Merauke tidak memasang bendera merah putih karena harga bendera sangat mahal yaitu Rp.15.000,- / potong. Uang sejumlah itu lebih diperlukan mereka untuk membeli beras dan minyak goreng.
  4. Sebuah desa di pantai utara Jawa Tengah telah bertahun-tahun tidak memasang bendera merah putih pada saat 17-an, karena menurut pemahaman mereka, kemerdekaan sejati adalah didalam hati, bukan pada materi bendera yang mereka anggap simbol belaka. Warga desa tetangga mereka dan pemerintah daerah setempat memaklumi sikap mereka tanpa harus mencap mereka separatis.
  5. Prof. Taufik Abdullah berpendapat, akar nasionalisme model Indonesia itu sebenarnya adalah solidaritas sosial yang bisa kita saksikan muncul di kampung-kampung pada saat perayaan 17-an. Akar nasionalisme kita bukan romantisme ala Italia, chauvinisme ala Jerman dan Jepang, tribalisme ala negara-negara Arab atau liberalisme ala Amerika Serikat.

Berangkat dari serpihan fakta diatas saya bangun keprihatinan saya yang sebelumnya telah saya perkenalkan lewat judul postingan ini. Saya miris menyaksikan bahwa ternyata dipelosok negara ini, ribuan kilometer dari ibukota masih ada warga negara kita yang memasang bendera karena takut. Takut akan ditegur tentara, takut di cap sebagai pemberontak bahkan takut di cap sebagai mantan pemberontak. Mereka membeli dan memasang bendera dengan mengorbankan uang yang pada saat yang sama lebih diperlukan oleh mereka untuk membeli beras dan minyak goreng. Benarkah mereka tidak cinta pada negeri ini. Jika tidak, maka tidak menurut siapa? Siapakah yang begitu berkuasa mendefinisikan secara sepihak rasa cinta itu.

Terkadang saya merasa lucu melihat rasa cinta tanah air diwujudkan dengan menghafal Pancasila, Pembukaan UUD atau lagu kebangsaan yang konon kabarnya panjangnya sampai tiga stanza. Sedangkal itukah rasa nasionalisme didefinisikan. Read the rest of this entry »

Tenang dulu, saya tidak sedang memprovokasi Anda, apalagi sedang berniat makar terhadap NKRI dan Konstitusi. Saya sebenarnya cuma sedang geli terhadap fenomena negeri ini sekaligus “iri” sama lembaga TNI yang bercikal bakal dari Tentara Keamanan Rakyat (baca: Tentara Dari Rakyat yang Merupakan Sahabat Rakyat) dan lembaga Polisi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Saya iri karena dunia loreng ini memberikan cukup banyak “sumbangan” terhadap warna dan image negeri ini. Setidaknya dari kepopuleran tokoh yang berasal dari dunia mereka pada nama jalan protokol diseluruh Indonesia. Hampir bisa ditebak, sebagian besar nama-nama jalan protokol terutama di luar Jawa menggunakan nama Jendral Besar Sudirman dan sisanya dikapling korban tragedi September 1965.

Sebenarnya tidak ada yang salah juga dengan penamaan ini, toh sekurangnya mereka pernah memperjuangkan sesuatu yang dapat dikenang, paling tidak untuk gengsi organisasinya. Tiga dasawarsa lebih kepemimpinan sang jendral kuat di negeri ini, memberikan ruang yang sangat leluasa untuk proyek “militerisasi” nama jalan itu. Selain itu pada era sang jendral juga berlaku tradisi mengambil tokoh dunia loreng sebagai pemimpin daerah seperti gubernur atau bupati/walikota. Khusus untuk tradisi terakhir ini, masih bisa kita lihat lestarinya pada pilkada DKI Jakarta barusan. Dunia loreng memang ruarrrr biasa! Tinggal comot salah satu orangnya dengan embel-embel jendral bintang sekian, maka jadilah ia pemimpin instan. Cukup dengan mengganti kostum lorengnya dengan baju safari atau busana daerah jadilah ia pemimpin.

Jadi sebetulnya kita patut “gembira” juga melihat penampakan yang sangat lazim ini. Bangsa kita tidak akan pernah mengalami yang namanya krisis kepemimpinan. Bahkan jika anda-anda pembaca sekalian memilih untuk tidak sekolah dan buta huruf sampai tua, tidak akan terjadi apa-apa kok sama bangsa ini. Anda akan bisa tetap bernafas lega seperti biasa dan tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Anda butuh apa? Bupati, Walikota, Gubernur atau Presiden sekalipun. Tinggal comot aja kok dari dunia loreng. Pasti memuaskan. Sudah Terbukti dan Teruji, bak kata Mbak Mega. Gitu aja kok repot, bak kata Gus Dur. Dan metode ini pun terbilang Hi Tech bak kata Pak Habibie.

Butet Kertaradjasa mungkin hanya orang gila yang bermimpi bahwa republik ini akan menjadi Republik Seniman dengan mengganti nama jalan Ahmad Yani dengan Ahmad Dhani, walau hanya semalam saja. Saya pun mungkin hanya orang gila yang bermimpi bahwa republik ini sebenarnya Republik Sastrawan, walaupun saya tahu bahwa salah satu pencetus nasionalisme Indonesia terutama dalam pengembangan Bahasa Indonesia adalah para sastrawan angkatan 1920-an. Lewat karya-karya mereka lah untuk pertama kalinya bangsa ini merasa sejajar dan sama pintar dengan bangsa penjajahnya. Read the rest of this entry »

Mukaddimah

Kaba Cindua Mato adalah cerita rakyat, berbentuk kaba, dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, Cindua Mato, dalam membela kebenaran. Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.

Edisi cetak tertua kaba ini adalah yang dicatat oleh van der Toorn, Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende. Edisi ini hanya memuat sepertiga saja dari manuskrip asli yang tebalnya 500 halaman. Pada 1904 Datuk Garang menerbitkan edisi lengkap kaba ini di Semenanjung Malaya, dalam aksara Jawi. Edisi ini mirip dengan versi van der Toorn.

Edisi Datuk Garang didasarkan pada manuskrip milik keluarga seorang Tuanku Laras di daerah Minangkabau timur.

Tokoh Tokoh Utama

  • Bundo Kanduang adalah ratu asli, yang diciptakan bersamaan dengan alam ini. Ia merupakan ibu dari Raja Alam, Dang Tuanku, yang dilahirkannya setelah ia meminum air kelapa gading.
  • Dang Tuanku adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, sepupunya, anak dari pamannya Rajo Mudo, yang berkuasa di Sikalawi.
  • Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, meminum air kelapa gading. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.
  • Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, rantau Minangkabau sebelah Timur. Dia berusaha merebut Puti Bungsu, yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku, dengan menyebarkan desas-desus bahwa raja Pagaruyung tersebut menderita penyakit.
  • Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Jalan Cerita

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.

Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.

Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam. Read the rest of this entry »

Jujur, lugu dan bijaksana …

Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia

Bung, enam puluh tahun setelah peristiwa itu

Ketika kau dampingi sahabatmu itu membaca sumpah proklamasi

Tapi sungguh Bung, saat ini belum kulihat persatuan yang kau cita-cita kan

Malahan persatean yang kau khawatirkan,

Makin jumawa dalam negara

 

Enam puluh tahun sudah Bung

Pendidikan yang kau daulat sebagai senjata

Masih saja terpinggirkan

Aku tak tahu Bung, apakah itu disengaja

 

Bung, apa yang kau khawatirkan dahulu

Masih berkeliaran disekitarku

Kami kalah Bung!

Kami kalah!

 

Bung, apa kami harus keras kepala seperti mu?

Peduli setan dengan para penyorak sorai itu

Namun sampai kapan Bung?

 

Bung, andai kau dilahirkan sekali lagi

Kami sungguh merindukanmu

Tapi jangan khawatir Bung,

Sesuai pesanmu, kami tak kan pernah mengkultuskanmu.

hatta.jpg

Bayangkanlah bahwa diri Anda saat ini adalah seorang wartawan berkebangsaan Inggris, Australia atau Amerika Serikat yang kebetulan sedang apes tertangkap oleh penculik yang mewakili suatu kelompok (katakanlah berafiliasi dengan teroris) disalah satu negara semacam Afghanistan, Irak atau Palestina. Diluar sana, diluar tempat anda disekap, Anda akan segera menjadi bintang berita yang pamornya bisa melejit melebihi selebriti Hollywood. Stasiun-stasiun televisi diseluruh dunia akan berebut menayangkan segala berita tentang Anda, keluarga Anda yang harap-harap cemas menanti, pemerintah Anda yang kasak-kusuk dengan lobi-lobi tingkat tinggi dan pendukung Anda yang berdemonstrasi. Dan tidak sia-sia juga jika Anda ternyata beroleh kesialan harus mati ditangan penculik atau penyandera Anda. Bisa dipastikan Anda akan segera ditahbiskan menjadi pahlawan nasional, yaitu sebagai duta bangsa yang telah berkorban untuk negara. Bisa diramalkan pula, paling sedikit tiga minggu setelah kematian Anda, masyarakat dan pers masih setia bertahlil membicarakan Anda.

Sekarang bayangkanlah Anda menjadi salah seorang korban bom jihad bunuh diri yang terjebak dalam konflik sektarian yang tengah berkecamuk di Irak sana. Atau bayangkan Anda salah seorang pekerja tambang yang terkubur dalam sebuah terowongan di suatu provinsi di China sana. Atau bayangkan lagi bahwa Anda seorang penduduk miskin Bangladesh yang harus tewas terseret badai banjir besar akibat perubahan iklim. Saya berani jamin, jangankan nama Anda, tempat kejadian perkara Anda tewas pun kemungkinan akan salah ucap oleh para pebisnis berita itu. Satu-satunya berita yang paling berharga bagi mereka dan layak tayang keseluruh dunia adalah jumlah Anda.

Apa? Jumlah? Tidak salah nih? Tidak, Anda tidak salah dengar. Bukan salah bunda mengandung, tapi salahkanlah kewarganegaraan dan negara tempat Anda tewas. Nyawa Anda tidak bisa dihitung dengan satuan perseorangan, karena sangatlah tidak pantas. Nyawa Anda akan dihitung dalam satuan lusin/dozen, kodi atau kuintal sekalipun. Anda sudah cukup terhormat dengan kami masukkan sebagai data statistik yang memang hanya menerima angka. Anda itu siapa sih? Jangan menggantung harapan terlalu tinggi bahwa nama Anda akan didengar orang lewat radio dan televisi.

Sudah jelas? Sudah tidak ada yang protes lagi? OK, sekarang mari kita simak data peringkat harga nyawa Anda berdasarkan asal negara Anda. Read the rest of this entry »

Agustus kembali datang, dan kali ini tahun kedua aku menjalaninya di ibukota. Ibukota negara yang sedang bersiap mengadakan pesta perdananya. Gegap gempitanya seakan menutupi aura Agustus yang biasa. Aura kemerdekaan dan nasionalisme kambuhan. Apalagi baru kemarin para warganya serasa disihir menjadi pejuang bangsa, dengan bangga mendukung tim nasionalnya yang lolos putaran final Piala Asia.

Dan event itu pun berlalu dengan sedikit warisan kecewa. Hari-hari terakhir warga Jakarta sedang bersiap siap pesta. Ini pesta sungguh luarbiasa, bahkan iklannya menjangkau segala pelosok Indonesia. “Bang milih siape bang?”, pertanyaan yang tiba-tiba akrab ini dilafalkan orang dalam berbagai bahasa daerah. Satu ketika seorang bapak-bapak kantoran berdialek Minang menanyakannya kepada Si Doel. Kali lain seorang tukang kredit berdialek Sunda menanyakan hal yang sama kepada Mandra. Versi lainnya ada dalam dialek Jawa, Batak, Tionghoa. Mungkin hanya dialek Bugis, Melayu, Madura atau Ambon yang belum dibuat. Ada lagi yang lebih hot semacam “yang tahu Betawi die, yang lainnye kagak tahu Betawi”.

Syahdan, sekonyong konyong saya serasa berada di tahun 1928 saat Kongres Sumpah Pemuda akan dilaksanakan. Dimana mana berdiri organisasi semacam Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Java dan Jong Sumatra. Kesadaran berpolitik dan berbangsa masih terperangkap dalam sekat-sekat etnis. Tapi sungguh, rasanya saya tidak salah. Saya berada di negara bernama Indonesia hampir 80 tahun setelahnya. 80 tahun setelah rasa kesadaran berbangsa yang bermotif senasib sepenanggungan dicetuskan. Saya tidak sedang bermimpi, saya sekarang menapakkan kaki disepenggal wilayah bernama Jakarta. Ibukota negara Republik Indonesia.

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 313,297 hits
%d bloggers like this: