Anda harus punya musuh, begitu kata salah seorang blogger. Setelah menyimak salah satu thesisnya yang berbunyi “musuh Anda harus benar-benar nyata” saya jadi teringat sebuah nama. Yak, betul nama orangnya adalah Budiarto Shambazy (moga-moga tidak salah tulis namanya).

Siapakah Budiarto Shambazy? Selain fakta bahwa ybs pasti tidak mengenal saya:mrgreen: , saya akan memperkenalkan ybs sebagai penulis kolom Politika  di harian Kompas yang biasanya muncul setiap Sabtu pagi (moga-moga juga ybs sudah cukup terkenal sehingga saya tidak perlu memperkenalkannya lagi di lain kesempatan). Sampai sekarang saya kadang masih sering mengikuti (baca:mencermati) tulisan ybs karena satu-satunya harian yang saya langgani ya Kompas Sabtu itu (maklumlah muka jobseeker😆 )

Pertama kali saya kenal ybs (tentu saja maksud saya tulisan-tulisannya) masih di kolom yang sama dan harian yang sama pada sekitar tahun 2003. Saya mulai menaruh namanya di memory saya karena kepincut sama tulisan-tulisannya yang kritis menjelang PEMILU 2004. Waktu itu saya lumayan rutin membaca harian Kompas di lobby (ce ile) UPT Perpustakaan UGM (walaupun kadang-kadang bisa juga di temui di lorong tengah MIPA Selatan yang lebih sering memajang harian Kedaulatan Rakyat (salut untuk nasionalisme petugas perpustakaan MIPA Selatan)). Waktu itu saya sangat suka dengan tulisan-tulisan ybs yang terasa mencerahkan, logis, dan cerdas.

Namun seiring waktu, saya mencermati ybs mulai coba-coba mencari musuh. Walaupun saya akui bahwa ybs cukup lihai menyembunyikan dan menyamarkan tulisan-tulisan tendensius nya diantara kalimat-kalimat dan paragraph-paragraph kamuflase, lama-lama saya merasa terusik juga dengan keahlian baru ybs (walaupun belum tentu ybs dengan sengaja berniat mengusik hati saya:mrgreen: ). Ybs punya keahlian khusus dalam mengoleksi array-array fakta yang nanti akan dipergunakan untuk menarik generalisasi, dan diantara array-array fakta tersebut sengaja disisipkan entitas tudingan yang sebenarnya sudah direncanakan untuk diserang, dan digunakan sebagai amunisi untuk membentuk kesimpulan yang berpihak.

Mungkin ulasan saya diatas terasa terlalu rumit, namun bagi pembaca yang pernah mencermati tulisan-tulisan ybs secara teliti (bukan mendalam lho) pastilah mengerti dan faham maksud saya. OK, bagi pembaca yang sama sekali belum pernah membaca serial tulisan Budiarto Shambazy apalagi mengenal orangnya, saya akan coba mengambil sedikit sample yang saya yakin tidak akan cukup membantu dalam memahami maksud saya (unless Anda meluangkan waktu untuk mencermati tulisan-tulisan ybs).

Yang bersangkutan seringkali kedapatan secara serampangan menggunakan tudingan-tudingan yang berpotensi menyebabkan ketersinggungan (walaupun tersinggung itu sendiri relatif) terhadap Umat Islam (sengaja saya generalisir frase Umat Islam). Hal-hal yang diinterpretasi secara sembrono misalnya mengenai terminologi (dakwah,jihad,haji) dan budaya/perilaku(azan,berbuka puasa,sahur,lebaran). Yang bersangkutan kerap menggunakannya untuk menciptakan suatu image atau stigmatisasi tertentu (walaupun samar) dengan keahliannya mengaduk-aduk fakta, sehingga ide dasarnya terasa tidak terlalu kentara.

Sebenarnya saya tidak terlalu berkeberatan dengan tindakan ybs jika saja ybs melakukan aksi-aksinya secara terang-terangan (misalnya seperti wadehel yang anonim), namun dengan posisi tulisannya yang dimuat di media massa berskala nasional saya teramat khawatir akan dampak yang ditimbulkannya. Pada tahapan ini saya justru khawatir terhadap jurnalisme kebencian yang merasuk dalam tulisan-tulisan ybs, yang bisa saja malah menjadi pupuk terhadap radikalisme. Saya bisa bilang begitu karena saya saja yang mengklaim diri saya sebagai Muslim Moderat, kadang cukup tersinggung oleh kesembronoan ybs yang jauh sekali dari sikap kritis, logis dan cerdas yang saya kenal dahulu.

Akhir-akhir ini pada acara News Dot Com [Republik Mimpi] di Metro TV, Effendi Ghazali (orang pintar bergelar Ph.D dari Nijmegen Universiteit) sering sekali mengutip tulisan-tulisan ybs dan tanpa malu-malu menyebut ybs sebagai guru besarnya. Orang pintar yang gelar pi eich di –nya ini harus dilafalkan dengan jelas ini, begitu mengagumi ybs (atau tulisan-tulisan ybs) sehingga begitu bersemangat mengkampanyekan buah pemikiran guru besarnya itu.

Saya menghindari untuk Kalap dan membabi buta terhadap ybs. Dari sekian banyak tulisan ybs, tentu tidak semuanya bertendensi Jurnalisme Kebencian. Banyak juga yang kritis dan menghibur, walaupun akhir-akhir ini sering tidak terlalu berkualitas dan malah terkesan garing karena seringnya mengutip fakta-fakta atau analogi-analogi yang aneh sebagai dasar kesimpulan. Secara umum dan menutup tulisan provokatif saya kali ini, saya berharap ybs dapat segera berubah dan kembali ke khittahnya yang dahulu saja.