Agustus kembali datang, dan kali ini tahun kedua aku menjalaninya di ibukota. Ibukota negara yang sedang bersiap mengadakan pesta perdananya. Gegap gempitanya seakan menutupi aura Agustus yang biasa. Aura kemerdekaan dan nasionalisme kambuhan. Apalagi baru kemarin para warganya serasa disihir menjadi pejuang bangsa, dengan bangga mendukung tim nasionalnya yang lolos putaran final Piala Asia.

Dan event itu pun berlalu dengan sedikit warisan kecewa. Hari-hari terakhir warga Jakarta sedang bersiap siap pesta. Ini pesta sungguh luarbiasa, bahkan iklannya menjangkau segala pelosok Indonesia. “Bang milih siape bang?”, pertanyaan yang tiba-tiba akrab ini dilafalkan orang dalam berbagai bahasa daerah. Satu ketika seorang bapak-bapak kantoran berdialek Minang menanyakannya kepada Si Doel. Kali lain seorang tukang kredit berdialek Sunda menanyakan hal yang sama kepada Mandra. Versi lainnya ada dalam dialek Jawa, Batak, Tionghoa. Mungkin hanya dialek Bugis, Melayu, Madura atau Ambon yang belum dibuat. Ada lagi yang lebih hot semacam “yang tahu Betawi die, yang lainnye kagak tahu Betawi”.

Syahdan, sekonyong konyong saya serasa berada di tahun 1928 saat Kongres Sumpah Pemuda akan dilaksanakan. Dimana mana berdiri organisasi semacam Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Java dan Jong Sumatra. Kesadaran berpolitik dan berbangsa masih terperangkap dalam sekat-sekat etnis. Tapi sungguh, rasanya saya tidak salah. Saya berada di negara bernama Indonesia hampir 80 tahun setelahnya. 80 tahun setelah rasa kesadaran berbangsa yang bermotif senasib sepenanggungan dicetuskan. Saya tidak sedang bermimpi, saya sekarang menapakkan kaki disepenggal wilayah bernama Jakarta. Ibukota negara Republik Indonesia.