Bayangkanlah bahwa diri Anda saat ini adalah seorang wartawan berkebangsaan Inggris, Australia atau Amerika Serikat yang kebetulan sedang apes tertangkap oleh penculik yang mewakili suatu kelompok (katakanlah berafiliasi dengan teroris) disalah satu negara semacam Afghanistan, Irak atau Palestina. Diluar sana, diluar tempat anda disekap, Anda akan segera menjadi bintang berita yang pamornya bisa melejit melebihi selebriti Hollywood. Stasiun-stasiun televisi diseluruh dunia akan berebut menayangkan segala berita tentang Anda, keluarga Anda yang harap-harap cemas menanti, pemerintah Anda yang kasak-kusuk dengan lobi-lobi tingkat tinggi dan pendukung Anda yang berdemonstrasi. Dan tidak sia-sia juga jika Anda ternyata beroleh kesialan harus mati ditangan penculik atau penyandera Anda. Bisa dipastikan Anda akan segera ditahbiskan menjadi pahlawan nasional, yaitu sebagai duta bangsa yang telah berkorban untuk negara. Bisa diramalkan pula, paling sedikit tiga minggu setelah kematian Anda, masyarakat dan pers masih setia bertahlil membicarakan Anda.

Sekarang bayangkanlah Anda menjadi salah seorang korban bom jihad bunuh diri yang terjebak dalam konflik sektarian yang tengah berkecamuk di Irak sana. Atau bayangkan Anda salah seorang pekerja tambang yang terkubur dalam sebuah terowongan di suatu provinsi di China sana. Atau bayangkan lagi bahwa Anda seorang penduduk miskin Bangladesh yang harus tewas terseret badai banjir besar akibat perubahan iklim. Saya berani jamin, jangankan nama Anda, tempat kejadian perkara Anda tewas pun kemungkinan akan salah ucap oleh para pebisnis berita itu. Satu-satunya berita yang paling berharga bagi mereka dan layak tayang keseluruh dunia adalah jumlah Anda.

Apa? Jumlah? Tidak salah nih? Tidak, Anda tidak salah dengar. Bukan salah bunda mengandung, tapi salahkanlah kewarganegaraan dan negara tempat Anda tewas. Nyawa Anda tidak bisa dihitung dengan satuan perseorangan, karena sangatlah tidak pantas. Nyawa Anda akan dihitung dalam satuan lusin/dozen, kodi atau kuintal sekalipun. Anda sudah cukup terhormat dengan kami masukkan sebagai data statistik yang memang hanya menerima angka. Anda itu siapa sih? Jangan menggantung harapan terlalu tinggi bahwa nama Anda akan didengar orang lewat radio dan televisi.

Sudah jelas? Sudah tidak ada yang protes lagi? OK, sekarang mari kita simak data peringkat harga nyawa Anda berdasarkan asal negara Anda.

Peringkat pertama sampai kelima, berturut-turut Inggris, Amerika Serikat, Australia, Canada dan Denmark. Jika Anda masuk salah satu warga surga negara diatas, maka selamat.

Peringkat keenam sampai sekitar keduapuluh, Jerman, negara-negara Skandinavia dan Kelompok Uni Eropa lainnya.

Peringkat keduapuluhsatu sampai sekitar keempat puluh ditempati Rusia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan negara-negara kaya diseputaran Timur Tengah.

Peringkat keempatpuluhsatu sampai sekitar keenampuluh, negara-negara Latin Amerika, Asia Tengah dan negara-negara Afrika Utara atau Afrika yang tidak miskin-miskin amat.

Peringkat keenampuluhsatu dan seterusnya, negara-negara tidak penting dan tidak perlu diingat seperti Haiti, negara-negara miskin Afrika Sub Sahara dan Teluk Benggala, negara-negara sarang teroris dan negara yang produknya lagi ditolak dimana-mana.

Pertanyaannya, sebagai manusia berkewarganegaraan Indonesia, nyawa Anda akan dihargai berapa? Well, itu sangat relatif tergantung kasusnya. Kalau kebetulan Anda harus tewas sebagai TKI di negeri orang dengan cara dipancung atau kecelakaan atau dibunuh majikan Anda, nyawa Anda akan dihargai tiga hari masa berkabung pemberitaan nasional. Masih terbuka kemungkinan bagi Anda untuk diingat sekali lagi, jika pada selang waktu tertentu setelah kematian Anda, ternyata ada orang lain yang apes mengikuti jejak Anda dengan metode yang hampir sama. Lihat sisi terangnya, paling tidak nama Anda dikenal toh, dan yang pasti keluarga anda akan mendapat banyak sumbangan plus kunjungan pejabat.

Lain halnya kalau Anda harus tewas di negara tercinta ini. Beruntunglah kalau Anda tewas karena kecelakaan pesawat. Saya jamin sekurang-kurangnya nama dan usia Anda akan tercantum dalam sebuah tabel di televisi. Namun kalau Anda harus tewas tenggelam dalam sebuah kapal penyebrangan di Laut Jawa atau di perairan Indonesia Timur sana atau tewas dalam bencana banjir tanah longsor di Morowali atau negeri antah berantah lain, saya sarankan Anda sebaiknya belajar menerima nasib untuk hanya dikenang sebagai angka dalam data statistik.