Jujur, lugu dan bijaksana …

Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia

Bung, enam puluh tahun setelah peristiwa itu

Ketika kau dampingi sahabatmu itu membaca sumpah proklamasi

Tapi sungguh Bung, saat ini belum kulihat persatuan yang kau cita-cita kan

Malahan persatean yang kau khawatirkan,

Makin jumawa dalam negara

 

Enam puluh tahun sudah Bung

Pendidikan yang kau daulat sebagai senjata

Masih saja terpinggirkan

Aku tak tahu Bung, apakah itu disengaja

 

Bung, apa yang kau khawatirkan dahulu

Masih berkeliaran disekitarku

Kami kalah Bung!

Kami kalah!

 

Bung, apa kami harus keras kepala seperti mu?

Peduli setan dengan para penyorak sorai itu

Namun sampai kapan Bung?

 

Bung, andai kau dilahirkan sekali lagi

Kami sungguh merindukanmu

Tapi jangan khawatir Bung,

Sesuai pesanmu, kami tak kan pernah mengkultuskanmu.

hatta.jpg