Lengkap sudah kekecewaan saya pada bank yang satu ini. Sedari awal saya sudah tidak ikhlas membuka rekening di bank ini, namun karena dipaksa oleh perusahaan saya terdahulu (dan juga tentunya oleh perusahaan sekarang) saya harus legowo menjalaninya. Padahal tidak ada sedikitpun keuntungan yang saya rasakan dengan menitipkan penghasilan saya di bank ini, walaupun hanya untuk beberapa hari. Pemotongan Rp.7.500,- sebulan meskipun kecil tetap saja membuat saya gigit jari. Belum lagi kartu ATM-nya yang sombong sama ATM bank lain. Sungguh, dalam 12 bulan terakhir ini, hampir setiap saya menerima gaji lewat rekening bank ini, dana itu tidak pernah saya biarkan menginap disana lebih dari 24 jam. Dengan segera secepat mungkin akan saya pindahkan ke bank kesayangan saya yaitu Bank Muamalat.

Saya pernah melobby perusahaan tempat saya bekerja (dahulu dan sekarang) untuk langsung mentransfer saja gaji saya ke rekening Shar-e saya di Bank Muamalat, namun entah konspirasi apa yang merasuki mereka, lobby saya selalu saja gagal dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat.

Jum’at kemarin, beberapa saat setelah gajian saya bersegera ke ATM BCA sepulang kerja untuk memindahkan hasil jerih payah saya sebulan ke Bank Muamalat kesayangan saya. Tapi apa nyana, setelah tiga kali transfer selalu gagal dan kartu dikeluarkan kembali dari mesin ATM. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Saya sudah menyangka pasti ada semacam gangguan koneksi yang sedang terjadi antara jaringan ATM BCA dengan Bank Muamalat.

Keesokan harinya, saya mencoba lagi di ATM BCA yang sama, di Wisma Millennia MT.Haryono. Delapan kali saya coba, delapan kalinya gagal. Saya mulai mencium aroma ketidakberesan. Saya langsung menelepon Halo BCA untuk menanyakan perihal sebenarnya, karena tidak normal apabila network down sampai berbilang hari. Setelah memasukkan nomor rekening untuk validasi dan menunggu sampai tiga kali, seorang customer service laki-laki menyapa saya dengan suara yang jauh dari kesan ramah. Saya langsung bertanya, ada apa dengan konektivitas antara jaringan ATM BCA dengan Bank Muamalat?

Tapi apa yang terjadi, sebelum mencari dan memberikan jawaban, dia bertanya kepada saya, siapa nama saya, nomor rekening saya, alamat saya sesuai KTP, tempat tanggal lahir saya, nama ibu kandung saya sebelum menikah, alamat kantor cabang tempat rekening BCA ini dibuka, saldo terakhir, saldo yang akan saya transfer dan beberapa pertanyaan lain yang menyebalkan. Setelah itu dia minta jeda, dan setelah total CS sialan ini menghabiskan pulsa handphone saya selama 5 menit dia pun memberikan jawaban, “Pak Fadli, sepertinya ada gangguan koneksi antara BCA dan Bank Muamalat, mungkin bapak bisa coba lagi bertransaksi 2 jam lagi, Ada lagi pak yang bisa saya bantu”.

Kontan saja saya langsung mengamuk. “Jadi cuma itu jawaban yang bisa saudara berikan setelah membuang-buang waktu saya dengan pertanyaan tidak relevan itu selama 5 menit? Jadi buat apa Anda tadi nanya-nanya segala macam, padahal kepentingan saya cuma ingin menanyakan, ada apa dengan jaringan ATM BCA ke Bank Muamalat. Seharusnya Anda itu mencek dulu kondisi jaringannya dengan bertanya ke bagian teknis. Ini malah membuang-buang waktu saya dengan verifikasi aneh-aneh. SOP kalian itu gimana sih?”. Tuts. Saya putus telepon saya saking kesalnya.

Malam harinya saya menelepon Salam Muamalat (layanan phone bangking Bank Muamalat). Tanpa perlu menunggu, sebuah sapaan salam yang ramah menyapa saya. Diujung telepon terdengar suara santun seorang customer service laki-laki. Dia hanya menanyakan nama saya dengan kalimat “maaf dengan bapak siapa saya berbicara?”. Tanpa harus verifikasi ini itu, dia langsung menjelaskan dengan gamblang masalah yang terjadi antara BCA dan Muamalat dua hari terakhir ini. Dia juga menjelaskan bahwa pihak Bank Muamalat sedang berusaha memperbaikinya, dan bahkan dia menawarkan saya untuk dihubungkan dengan pihak BCA untuk penjelasan yang lebih komprehensif. Luar biasa, seorang customer service yang berdedikasi (ybs sedang sakit flu dan saya menelponnya jam setengah duabelas malam), santun, sopan dan berwawasan luas. Sejenak saya bisa melupakan kekesalan saya pada CS BCA tadi siang.

Senin pagi, saya mencoba transfer kembali gaji saya yang sudah dua hari terpaksa diparkir di BCA. Ternyata masih gagal. Ah, masih belum pulih rupanya pikir saya. Lalu saya cek saldo. “Apa????”, saya kaget setengah mati melihat saldo saya berkurang hampir Rp.40.000,-. Apa-apaan ini? Saya tidak melakukan apa-apa pikir saya. Sesampainya di kantor client pagi itu, saya langsung cek Klik BCA, dan saya hampir-hampir tidak percaya melihat apa yang saya lihat di menu informasi mutasi.

Ternyata hilangnya uang saya sejumlah hampir Rp.40.000,- itu disebabkan pemotongan oleh BCA sejumlah Rp.3000,- setiap saya mengalami kegagalan transfer kemarin. Total saya mencoba mentransfer ke Bank Muamalat (dan gagal) adalah 13 kali, jadi 13×3000=39.000. Yang saya kagetkan, pemotongan itu mereka rapel semuanya pada hari Senin. Saya benar-benar tidak bisa menerima perlakuan ini. Lengkap sudah kekecewaan saya dan kebencian saya pada BCA pada hari ini. Saya berharap suatu saat bisa benar-benar tidak bersinggungan lagi dengan lembaga semacam ini.