You are currently browsing the monthly archive for September 2007.

 koen_dwi.jpg

Sebenarnya sudah cukup lama saya mengamati keganjilan ini dalam setiap edisi Panji Koming di Kompas Minggu, namun berhubung selama ini saya cenderung berprasangka baik maka saya biasanya mengenyampingkan dugaan-dugaan itu. Saya menganggap gambaran itu semata-mata sebagai pelengkap konteks dan suasana saja sehingga dapat berubah sewaktu-waktu. Namun setelah data empirik mulai terkumpul cukup signifikan, saya mulai melihat adanya kekonsistenan itu. Kekonsistenan yang menurut saya tidak sehat untuk dalam etika media massa.

Pembaca mungkin mulai bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih yang saya permasalahkan dalam karya seorang kartunis bernama Dwi Koendoro ini? Tidak lain tidak bukan adalah kekonsistenan ybs dalam menggambarkan karakter wajah tiga orang petinggi negeri. Siapa saja mereka? Yap, betul. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan Menkokesra Aburizal Bakrie (sebelumnya saya garis bawahi dulu bahwa saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ketiga orang penting diatas :mrgreen: ).

SBY selalu digambarkan dengan wajah lugu, nelongso bahkan terkadang terkesan bloon dan tanpa wibawa. Sedangkan Jusuf Kalla digambarkan bermuka culas, alis ditekuk, mata mendelik bagaikan menyimpan seribu dendam kesumat. Kalla biasanya digambarkan berada dibelakang SBY dalam posisi yg gampang diartikan sebagai orang yang merencanakan sesuatu yang amat jahat dengan liciknya. Lain lagi nasib Aburizal Bakrie, tokoh yang satu ini terlalu sering digambarkan bagaikan tengkulak yang licik.

Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran DwiKoen ketika menciptakan sketsa-sketsa itu. Jika ada ketidaksukaan personal mungkin ada baiknya tidak ditransformasi menjadi kebencian publik hanya karena ybs memegang “kuasa” untuk itu. Semoga kebebasan pers ini mengarah kepada kebebasan yang sehat, beradab dan bermartabat.

Lama tidak menulis artikel berbau nasionalisme, sejarah dan antropologi, saya kembali tergelitik ketika membaca sebuah kutipan tentang nasionalisme. Konon kabarnya di dunia barat sana nasionalisme mereka dibangun diatas rasionalisme, universalisme dan tentu saja sekularisme. Kebalikannya adalah timur yang nasionalismenya dicemari oleh kepercayaan-kepercayaan mistis, tahayul, irrasional dan primordial. Kutipan diatas secara kebetulan bersua dengan cita-cita bangsa Indonesia menjadi salah satu negara maju pada tahun 2030.

Lalu apa relevansinya judul tulisan saya kali ini dengan kedua serpihan berita diatas? Saya memandangnya dari suatu segi yang lain, yaitu dari masa kelahiran Republik Modern Indonesia yang masih muda usia di atas kepulauan nusantara ini. Bandingkan umurnya dengan negara-negara sebelumnya seperti Sriwijaya (500 tahun), Majapahit (307 tahun) dan Aceh Darussalam (408 tahun). Negara baru ini dibangun diatas nasionalisme yang diasosiasikan dengan rasa senasib sepenanggungan.

Lalu setelah berlalu enampuluh tahun, banyak kalangan berkeluh kesah tentang menurunnya rasa nasionalisme pada era ini. Banyak kalangan sibuk mendefinisikan nasionalisme yang hilang itu, ada yang dengan cara mengklaim darahnya merah putih, menghafal pancasila, merapal lagu kebangsaan, mendemo kedutaan negara tetangga sampai membawa bambu runcing ke tengah laut ambalat sana. Sembari geleng-geleng kepala, lamat-lamat saya bisa memahami suasana hati mereka juga, sekaligus mengkritisi nasionalisme ala mereka.

Zaman, telah berubah. Romantisme merebut kemerdekaan pada era kebangkitan dunia ketiga sedikit demi sedikit mulai terkikis. Kita semakin linglung tentang siapa kita. Kita merasa kurang dibanding bangsa-bangsa lain. India misalnya, walaupun mereka dijajah tak kalah lama oleh Inggris, mereka masih dengan kokoh memiliki kebanggaan terhadap peradaban yang telah mereka bangun ribuan tahun. Tiga negara Asia Timur yaitu China, Jepang dan Korea juga berpacu mengaktualkan kegemilangan sejarah peradaban mereka. Dibelahan dunia lain, Iran dan Turki mengibarkan kembali marwahnya. Read the rest of this entry »

Kapal itu telah memesonaku sejak kanak-kanak dahulu
Namun ketika datang kesempatan berlayar, aku urung menaikinya
Badai musim ini benar-benar membuatku gila
Sekarang aku berdiri di tebing menatapnya berlayar menjauh …

Aku tidak tahu apakah kapal berikutnya yang dijanjikan akan datang,
Dan aku tidak tahu apakah jika ia datang aku masih ingin menaikinya.
Duh, badai musim ini terasa amat panjang

@@@

Ibu, berdosakah aku padamu?
Sungguh ibu, sungguh aku bimbang
Awan dipuncak tebing sana terlihat lebih cemerlang ketimbang yang dikaki cakrawala itu
Ayah,
Maaf, aku telah memilih jalanku.

@@@

Wahai Nahkoda,
Tidak terlalu lamakah menurutmu lima tahun perjalanan itu?
Maaf Nahkoda,
Selain cakrawala itu, apakah engkau tidak punya dongeng lain?

@@@

Bahtera, engkau cinta pertama tak bersyarat
Tapi mengapa engkau datang saat badai
Engkau menawan bahtera, bahkan angkuh
Tapi sedikitpun tak kau bawa berita tentang ranah tujuan

@@@

Padamu tebing,
Mungkin aku akan setia bergelantungan
Walau curam-mu tambah lukaku.
Berjanjilah tebing,
Bukan hanya awan yang dapat kuraih dipuncak-mu.

@@@

Badai, pergilah!

Sesampainya di kost tadi malam, saya langsung melakukan prosedur rutin yaitu membongkar isi ransel yang setiap hari saya bawa. Meletakkan buku agenda, bolpoint, dompet,kacamata, HP dan perlengkapan lainnya ke posisi masing-masing, agar mudah dijangkau dalam situasi darurat. Satu persatu saya absen, dan saya baru tersadar ternyata ada satu barang yang tidak hadir malam itu. Saya pikir benda itu terselip dimana, maka saya memeriksa seluruh saku baju, celana, dan kantong-kantong dalam ransel. Dan hasilnya, benda itu ternyata benar-benar raib.

Prosedur kedua dijalankan. HP GSM yang raib itu saya miscall. Tidak terdengar ringtone ataupun nada getar dalam radius 2 meter sekeliling saya. Tapi saya masih berharap HP tersebut tidak kemana-mana, karena masih aktif ketika saya hubungi. Saya mulai mengingat-ingat dimana kira-kira kontak terakhir saya dengan barang penting ini. Pukul 17.30 saat ke mesjid, masih ada. Sambil nunggu maghrib, saya rebahan di masjid sepertinya masih ada. Setelah shalat maghrib dan ngobrol lagi beberapa saat dengan teman didalam masjid saya tidak ingat lagi. Berarti grey area terjadi antara pukul 18.10-18.20. OK, TKP pertama dan satu-satunya adalah masjid di lantai 3 gedung parkir Menara Jamsostek.

Berikutnya sampai jam 1 malam saya miscall HP GSM saya dengan HP CDMA setiap 1 jam. Syukur, masih bernyawa. Pagi ini dua kali saya miscall, HP sudah tidak aktif lagi. Saya, mulai curiga, jangan-jangan nih HP tidak terjatuh di masjid. Jangan-jangan saya dicopet dan tidak sadar. Saya mulai mendata TKP2 dan TKP3 yaitu warung nasi goreng dan bus P06 jurusan Grogol-Kp.Rambutan yang saya tumpangi malam itu. Tapi sepertinya kedua TKP diatas kurang memungkinkan. Saya berangkat kekantor.

Sampai dikantor saya langsung sweeping radius 2 meter sekeliling meja kerja saya, sela-sela meja, sela-sela stekker listrik, dalam tas laptop, dikerimbunan kertas-kertas dan file-file yang berserakan nggak jelas. Hasilnya nihil. Lima menit kemudian langsung menuju TKP pertama di lantai 3 gedung parkir.

Masjid masih sepi, ada seseorang yang sedang tiduran atau tertidur di pojok sebelah timur. Sweeping dimulai. Setiap karpet dan gulungan karpet diamati, lemari buku dan kitab suci, lipatan karpet yang tidak beraturan. Hasilnya nihil. Saya keluar dan sadar ada seorang laki-laki yang mengamati saya. Raut curiga diwajahnya tidak dapat dia sembunyikan. Lalu dia mengeluarkan HT. Ohh, ternyata security berpakaian preman.

Saya tanya orang itu. “Apakah Anda telah bertemu petugas yang biasa stand by ditempat ini sedari pagi?”. “Ya, saya kenal orangnya, ada keperluan apa?”. “Saya ketinggalan HP disini tadi malam, saya pikir petugas mungkin tahu”. “ Ooo, HP nya seperti apa, hilangnya jam berapa, kenapa Anda yakin hilangnya disini, Anda kerja dimana, posisinya apa, tinggal dimana, KTP nya ada nggak, bla bla bla”. Butuh waktu 20 menit untuk interogasi awal ini. Pada seorang petugas keamanan berpakaian preman yang pada awalnya cuma iseng saya tanyai.

Setelah itu saya digelandang disuruh mengikuti ybs ke posko keamanan dilantai 6 gedung parkir. Hmm, udah 20 menit nih. Sampai posko yang lebih mirip warung kopi (kabarnya emang nih posko juga jualan kopi), saya dihadapkan lagi sama atasannya. Seorang pria, umur 45-an, bertampang militer, pangkas rambut cepak, berdialek jawa banyumasan dan dengan suara digagah gagahi.

“Ya, Anda ada keperluan apa?” Bah, kumat lagi nih orang. Naluri anti militer dan anti birokrasi saya langsung keluar. Apalagi dengan tatapan penuh curiga dan interogatif itu. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 76 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 308,292 hits
%d bloggers like this: