Sesampainya di kost tadi malam, saya langsung melakukan prosedur rutin yaitu membongkar isi ransel yang setiap hari saya bawa. Meletakkan buku agenda, bolpoint, dompet,kacamata, HP dan perlengkapan lainnya ke posisi masing-masing, agar mudah dijangkau dalam situasi darurat. Satu persatu saya absen, dan saya baru tersadar ternyata ada satu barang yang tidak hadir malam itu. Saya pikir benda itu terselip dimana, maka saya memeriksa seluruh saku baju, celana, dan kantong-kantong dalam ransel. Dan hasilnya, benda itu ternyata benar-benar raib.

Prosedur kedua dijalankan. HP GSM yang raib itu saya miscall. Tidak terdengar ringtone ataupun nada getar dalam radius 2 meter sekeliling saya. Tapi saya masih berharap HP tersebut tidak kemana-mana, karena masih aktif ketika saya hubungi. Saya mulai mengingat-ingat dimana kira-kira kontak terakhir saya dengan barang penting ini. Pukul 17.30 saat ke mesjid, masih ada. Sambil nunggu maghrib, saya rebahan di masjid sepertinya masih ada. Setelah shalat maghrib dan ngobrol lagi beberapa saat dengan teman didalam masjid saya tidak ingat lagi. Berarti grey area terjadi antara pukul 18.10-18.20. OK, TKP pertama dan satu-satunya adalah masjid di lantai 3 gedung parkir Menara Jamsostek.

Berikutnya sampai jam 1 malam saya miscall HP GSM saya dengan HP CDMA setiap 1 jam. Syukur, masih bernyawa. Pagi ini dua kali saya miscall, HP sudah tidak aktif lagi. Saya, mulai curiga, jangan-jangan nih HP tidak terjatuh di masjid. Jangan-jangan saya dicopet dan tidak sadar. Saya mulai mendata TKP2 dan TKP3 yaitu warung nasi goreng dan bus P06 jurusan Grogol-Kp.Rambutan yang saya tumpangi malam itu. Tapi sepertinya kedua TKP diatas kurang memungkinkan. Saya berangkat kekantor.

Sampai dikantor saya langsung sweeping radius 2 meter sekeliling meja kerja saya, sela-sela meja, sela-sela stekker listrik, dalam tas laptop, dikerimbunan kertas-kertas dan file-file yang berserakan nggak jelas. Hasilnya nihil. Lima menit kemudian langsung menuju TKP pertama di lantai 3 gedung parkir.

Masjid masih sepi, ada seseorang yang sedang tiduran atau tertidur di pojok sebelah timur. Sweeping dimulai. Setiap karpet dan gulungan karpet diamati, lemari buku dan kitab suci, lipatan karpet yang tidak beraturan. Hasilnya nihil. Saya keluar dan sadar ada seorang laki-laki yang mengamati saya. Raut curiga diwajahnya tidak dapat dia sembunyikan. Lalu dia mengeluarkan HT. Ohh, ternyata security berpakaian preman.

Saya tanya orang itu. “Apakah Anda telah bertemu petugas yang biasa stand by ditempat ini sedari pagi?”. “Ya, saya kenal orangnya, ada keperluan apa?”. “Saya ketinggalan HP disini tadi malam, saya pikir petugas mungkin tahu”. “ Ooo, HP nya seperti apa, hilangnya jam berapa, kenapa Anda yakin hilangnya disini, Anda kerja dimana, posisinya apa, tinggal dimana, KTP nya ada nggak, bla bla bla”. Butuh waktu 20 menit untuk interogasi awal ini. Pada seorang petugas keamanan berpakaian preman yang pada awalnya cuma iseng saya tanyai.

Setelah itu saya digelandang disuruh mengikuti ybs ke posko keamanan dilantai 6 gedung parkir. Hmm, udah 20 menit nih. Sampai posko yang lebih mirip warung kopi (kabarnya emang nih posko juga jualan kopi), saya dihadapkan lagi sama atasannya. Seorang pria, umur 45-an, bertampang militer, pangkas rambut cepak, berdialek jawa banyumasan dan dengan suara digagah gagahi.

“Ya, Anda ada keperluan apa?” Bah, kumat lagi nih orang. Naluri anti militer dan anti birokrasi saya langsung keluar. Apalagi dengan tatapan penuh curiga dan interogatif itu. Saya sih sudah paham jika prosedurnya begitu, tapi mbok yaa apa ngak bisa lebih efisien. Bukankah tadi selama 20 menit saya menunggu, anak buahnya yang membawa saya ke hadapannya telah menjelaskan perkaranya lewat HT. Bahkan disaat pertama masuk posko, anak buahnya sudah bilang. “Ndan, ini lho bapaknya yang mengaku kehilangan HP di masjid”. Duh, nih komandan serem-serem tapi bolot.

“OK, langsung aja deh pak, prosedurnya bagaimana, bapak butuh informasi apa, nama saya Fadli, kerja di Jatis lantai 19, ini KTP saya, merek Hpnya LG, warna item, body tipis, nomornya saya hafal, hilang sekitar jam 18.10-18.20, bisa saya buktikan dengan memiscall nomor ini, ada informasi lain yang masih bapak butuhkan?” Kayanya nih bapak kurang senang dengan attitude saya, maka sampai 10 menit kemudian saya dikasih pertanyaan-pertanyaan tidak penting sekedar menunjukkan kewibawaan dia. “Duh, dalam hati saya mau muntah rasanya”. Setelah itu KTP saya diminta untuk difotokopi.

Dan HP-nya pun kembali ketangan saya. Tiba-tiba ybs nyeletuk, “perkiraan saya benar, yang punya HP orang Padang”. Loh, darimana bapak tahu? “Anak buah saya ada baca sms-nya”. “Apa??? Tidak sopan sekali! Memangnya itu bagian dari SOP juga?” Saya betul-betul mengumpat dalam hati.

Ah sudahlah, yang penting saya bersyukur HP-nya ketemu. Saya berterimakasih kepada petugas-petugas lapangan yang telah menyelamatkan properti saya. Saya maklumi prosedurnya termasuk interogasi yang menyebalkan itu. Saya kritik sikap sang komandan yang belagu dan sok kuasa seperti itu (ideologi anti militernya masih idup:mrgreen: ). Overall, Alhamdulillah.