Lama tidak menulis artikel berbau nasionalisme, sejarah dan antropologi, saya kembali tergelitik ketika membaca sebuah kutipan tentang nasionalisme. Konon kabarnya di dunia barat sana nasionalisme mereka dibangun diatas rasionalisme, universalisme dan tentu saja sekularisme. Kebalikannya adalah timur yang nasionalismenya dicemari oleh kepercayaan-kepercayaan mistis, tahayul, irrasional dan primordial. Kutipan diatas secara kebetulan bersua dengan cita-cita bangsa Indonesia menjadi salah satu negara maju pada tahun 2030.

Lalu apa relevansinya judul tulisan saya kali ini dengan kedua serpihan berita diatas? Saya memandangnya dari suatu segi yang lain, yaitu dari masa kelahiran Republik Modern Indonesia yang masih muda usia di atas kepulauan nusantara ini. Bandingkan umurnya dengan negara-negara sebelumnya seperti Sriwijaya (500 tahun), Majapahit (307 tahun) dan Aceh Darussalam (408 tahun). Negara baru ini dibangun diatas nasionalisme yang diasosiasikan dengan rasa senasib sepenanggungan.

Lalu setelah berlalu enampuluh tahun, banyak kalangan berkeluh kesah tentang menurunnya rasa nasionalisme pada era ini. Banyak kalangan sibuk mendefinisikan nasionalisme yang hilang itu, ada yang dengan cara mengklaim darahnya merah putih, menghafal pancasila, merapal lagu kebangsaan, mendemo kedutaan negara tetangga sampai membawa bambu runcing ke tengah laut ambalat sana. Sembari geleng-geleng kepala, lamat-lamat saya bisa memahami suasana hati mereka juga, sekaligus mengkritisi nasionalisme ala mereka.

Zaman, telah berubah. Romantisme merebut kemerdekaan pada era kebangkitan dunia ketiga sedikit demi sedikit mulai terkikis. Kita semakin linglung tentang siapa kita. Kita merasa kurang dibanding bangsa-bangsa lain. India misalnya, walaupun mereka dijajah tak kalah lama oleh Inggris, mereka masih dengan kokoh memiliki kebanggaan terhadap peradaban yang telah mereka bangun ribuan tahun. Tiga negara Asia Timur yaitu China, Jepang dan Korea juga berpacu mengaktualkan kegemilangan sejarah peradaban mereka. Dibelahan dunia lain, Iran dan Turki mengibarkan kembali marwahnya. Lalu apa yang akan terjadi dengan Indonesia.

Dari fakta diatas saya angkat judul tulisan ini yang sekaligus menjadi sebuah pertanyaan. Andaisaja bangsa penjajah seperti Inggris dan Belanda tidak datang[menjajah] kepulauan Nusantara, apa yang akan terjadi. Pertanyaan ini saya lempar justru untuk menemukan kembali nasionalisme yang hakiki, yang sedang kita cari-cari. Prof. Taufik Abdullah sempat mengajukan pendapat bahwa sejatinya, nasionalisme rakyat Indonesia atau Kepulauan Nusantara itu adalah solidaritas sosial, atau rasa saling membutuhkan. Saya termasuk setuju dengan argumen beliau.

Kepulauan Nusantara pada era 1600-an sudah cukup maju untuk ukuran zamannya. Wilayah persimpangan jalur perdagangan ini bisa dianggap metropolitannya dunia timur. Penduduknya memiliki kemampuan membaur yang sangat tinggi. Mereka melintasi laut-laut diantara pulau-pulau mereka. Tidak sedikit pula yang telah bermuhibah ke negeri-negeri seputaran Asia dan Afrika. Beberapa pusat peradaban berkembang di pantai barat dan pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa dan beberapa tempat di Sulawesi dan Maluku. Meskipun masih ada saling serang dan kirim armada antara kekuatan-kekuatan Aceh, Dunia Melayu, Bugis dan Jawa, namun tidak sampai dalam taraf penghancuran peradaban seperti yang dilakukan oleh Barat terhadap Amerika Latin misalnya. Saling serang itu lebih banyak untuk kepentingan sesaat terkait perebutan kuasa wilayah perdagangan. Secara umum, kondisi seperti itu dapat kita anggap stabil. Kadang-kadang antar kerajaan-kerajaan [negara-negara] itu bersekutu lewat jalur perkawinan. Jikalau kita bandingkan dengan pergolakan di Eropa yang juga menempuh cara-cara yang sama sebelum Perang Prusia, Perang Napoleon dan Perang Dunia, maka kita juga dapat berbangga. Sejatinya, bangsa-bangsa di Kepulauan Nusantara itu telah menganut etika politik modern pada zamannya.

Kedatangan Inggris, Spanyol dan Belanda membelokkan peradaban bangsa-bangsa di Kepulauan Nusantara. Hasil akhirnya seperti yang kita ketahui, terbentuk tiga negara terpisah yaitu Indonesia, Malaysia dan Filipina. Sekarang ketiganya menjalani takdirnya masing-masing. Filipina telah berganti rupa dan bahasa, Malaysia menjadi wilayah transmigrasi etnik China dan India, sedangkan Indonesia semakin gamang dengan masa depannya.

Lalu kesimpulan apa yang hendak ditarik lewat tulisan ini? Sebenarnya saya tidak menjanjikan kesimpulan apa-apa. Saya justru melanjutkan pertanyaan pada judul tadi. Kira-kira kalau masa penjajahan selama 300 tahun lebih itu kita hapus dari sejarah, akan seperti apakah masa depan bangsa-bangsa penghuni kepulauan nusantara ini. Apakah kita akan menjadi Thailand dan Iran yang sama sekali tidak tersentuh tangan penjajah. Atau ada bentuk lain kira-kira?