koen_dwi.jpg

Sebenarnya sudah cukup lama saya mengamati keganjilan ini dalam setiap edisi Panji Koming di Kompas Minggu, namun berhubung selama ini saya cenderung berprasangka baik maka saya biasanya mengenyampingkan dugaan-dugaan itu. Saya menganggap gambaran itu semata-mata sebagai pelengkap konteks dan suasana saja sehingga dapat berubah sewaktu-waktu. Namun setelah data empirik mulai terkumpul cukup signifikan, saya mulai melihat adanya kekonsistenan itu. Kekonsistenan yang menurut saya tidak sehat untuk dalam etika media massa.

Pembaca mungkin mulai bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih yang saya permasalahkan dalam karya seorang kartunis bernama Dwi Koendoro ini? Tidak lain tidak bukan adalah kekonsistenan ybs dalam menggambarkan karakter wajah tiga orang petinggi negeri. Siapa saja mereka? Yap, betul. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan Menkokesra Aburizal Bakrie (sebelumnya saya garis bawahi dulu bahwa saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ketiga orang penting diatas:mrgreen: ).

SBY selalu digambarkan dengan wajah lugu, nelongso bahkan terkadang terkesan bloon dan tanpa wibawa. Sedangkan Jusuf Kalla digambarkan bermuka culas, alis ditekuk, mata mendelik bagaikan menyimpan seribu dendam kesumat. Kalla biasanya digambarkan berada dibelakang SBY dalam posisi yg gampang diartikan sebagai orang yang merencanakan sesuatu yang amat jahat dengan liciknya. Lain lagi nasib Aburizal Bakrie, tokoh yang satu ini terlalu sering digambarkan bagaikan tengkulak yang licik.

Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran DwiKoen ketika menciptakan sketsa-sketsa itu. Jika ada ketidaksukaan personal mungkin ada baiknya tidak ditransformasi menjadi kebencian publik hanya karena ybs memegang “kuasa” untuk itu. Semoga kebebasan pers ini mengarah kepada kebebasan yang sehat, beradab dan bermartabat.